Walau Membahagiakan Orang Lain Bukanlah Kewajiban Kita, Tapi…

 

Aku melihat seorang laki-laki faqir bersama anak perempuan kecilnya berjalan bersama di sebuah pasar. Langkahnya terhenti di hadapan seorang pedagang kentang.

“Berapa harga 1 kg kentang ini?,” tanyanya lirih.

” 5 ribu..,” jawab si pedagang tanpa menoleh.

“Bisakah hari ini engkau memberiku harga 2 ribu saja untuk 1/2 kg nya, aku tidak punya cukup uang?,” Laki-laki faqir itu mengiba.

Tak disangka si pedagang marah padanya, sambil membuang 3 buah kentang pada laki-laki itu ia menghardik keras :

“Kemarin minta kurang.. Hari ini minta kurang lagi.. Kalau mau jadi pengemis ya mengemis saja, tidak usah pura-pura membeli.”

Gemetar tangan laki-laki faqir itu mencoba memunguti kentang di atas tanah, dan tiba-tiba saja tangan mungil putrinya meraih tangannya.

Putrinya berkata, “Ayolah ayah… Kita bukan pengemis, tidak layak engkau menerima penghinaan ini.”

Laki-laki itu memandang dengan mata basah ke arah putrinya, tatapan mata hampa, malu dan sedih tergambar disana, dalam sekali.

Ia mengurungkan niatnya memungut kentang dan keduanya berlalu dari pedagang itu.

Belum begitu jauh berjalan gadis kecil itu tiba-tiba menjerit. Laki-laki faqir itu tiba-tiba tumbang, jatuh dengan darah mengucur deras dari mulut dan hidungnya. Sesaat ia bernafas dengan berat lalu diam sama sekali.

Seorang dokter yang kebetulan lewat berhenti dan memeriksa  tubuh laki-laki itu. Sesaat kemudian dokter mengangkat tangannya berkata, “Yang kekal hanyalah ALLAH… inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun..”

Mendengar ini, sekali lagi gadis kecil itu menjerit dan ia pun pingsan tak sadarkan diri.

Orang-orang yang merasa kasihan mengangkat bersama-sama ayah dan anak faqir itu ke gubuk tempat tinggal keluarga miskin ini.

Selang beberapa lama setelah peristiwa itu karena rasa penasaran, aku bertanya pada si dokter  tentang penyebab kematian laki-laki faqir itu.

Dokter berkata, “Sepertinya ia amat stress.. Tekanan darahnya tinggi … pembuluh darahnya ada yang pecah..”

Fahamlah aku … Laki-laki faqir itu ternyata tidak kuat memikul beban hidupnya, hatinya hancur karena ketidakberdayaannya memberi makan keluarganya, apalagi setelah ia melihat tatapan mata anak perempuan kecilnya padanya kala pedagang kentang itu marah-marah dan menghina dirinya. Pertahanan terakhirnya telah tembus…

Laki-laki faqir itu mati setelah berusaha untuk terakhir kalinya merendahkan diri.. membuang harga diri.. mengulurkan tangan berharap bantuan atau belas kasihan pada saudaranya (pedagang) sesama manusia…

Dan ia diabaikan..

Bahkan dihinakan..

Saudaraku…

Dalam hidup ini memang bukan kewajiban kita membahagiakan semua orang, yang wajib bagi kita adalah menghindarkan diri dari menyakiti orang lain baik dengan lidah ataupun tangan kita.

Mudah-mudahan ALLAH senantiasa membuka hati dan tangan-tangan kita dan saudara muslim kita lainnya untuk berbagi dan senantiasa berhati rahmat terhadap sesama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s