Luruskan Dan Rapatkan Shaf…

 

“Sawwuu shufuu fakum…”. Sambil menghadap ke arah jamaah sholat, kalimat ini seringkali diucapkan imam sebelum memulai sholat berjamaah.

Dulu, tidak begitu jelas bagi saya (penulis), dan tidak begitu memperhatikan, apa sebenarnya bunyi kalimat yang diucapkan. Tetapi dengan begitu sering mendengarnya, muncul pertanyaan, “Kalimat apa sih yang diucapkan sang imam?”, “Mengapa kalimat itu (selalu) diucapkan imam sebelum memulai sholat berjamaah?”.Bertanya pada ahlinya adalah satu hal yang sudah seharusnya dilakukan. Tetapi, untuk informasi awal (penulis rasa) tidak ada salahnya mulai mencari informasi dengan googling di internet.

Kalimat tersebut ternyata (sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a.) selengkapnya adalah, “Sawwuu shufuu fakum fa inna taswiyata shshufuufi min tamami shshalaah”, yang artinya adalah, “luruskanlah shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf-shaf itu termasuk kesempurnaan shalat”.

Maksud dari kalimat itu, dari artinya sebagaimana ditulis di atas, merupakan ajakan (perintah) imam kepada jamaah sholat untuk meluruskan shaf terlebih dahulu sebelum memulai sholat berjamaah.

Mengapa? ya karena lurusnya shaf-shaf itu termasuk kesempurnaan shalat.

Imam shalat terkadang ada yang mengucapkannya lengkap, ada pula yang hanya mengucapkannya sebagian seperti pada awal tulisan ini. Bahkan ada yang mengucapkannya dalam Bahasa Indonesia.

Pertanyaannya kemudian adalah, “Apakah harus diucapkan dengan kalimat itu?”.

Tidak (merasa) cukup hanya dengan bersumber dari artikel di internet, penulis mencoba mencari referensi lainnya untuk dijadikan rujukan. Referensi yang didapatkan tersebut berupa sebuah buku hasil karya syaikh Abu Abdurrahman Adil bin Sa’ad yang dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Umar Mujtahid, Lc dengan judul “Ensiklopedi Shalat”.

Dalam buku tersebut, dituliskan beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa ajakan (perintah) untuk meluruskan shaf diucapkan oleh Nabi saw dalam beberapa “versi” kalimat.  Ini berarti bahwa (kesimpulan penulis) ajakan (perintah) untuk meluruskan shaf tidak harus diucapkan hanya dengan kalimat, “Sawwu shufuu fakum…”.

Lalu, “Apakah harus diucapkan?”, dan “Bolehkah diucapkan dalam bahasa Indonesia atau bahasa lainnya?”

Buku “Ensiklopedi Shalat” menyebutkan juga bahwa Nash-nash tersebut (riwayat tentang perintah meluruskan shaf) secara tegas menunjukkan kewajiban untuk meluruskan shaf. Jadi, (lagi-lagi penulis berkesimpulan) yang terpenting di sini adalah lurusnya shaf jamaah shalat, bukannya diucapkan atau tidak kalimat itu. Karena lurusnya shaf adalah termasuk kesempurnaan shalat. Kalau imam shalat meyakini bahwa shaf jamaah shalat sudah lurus, ya tidak diucapkan juga tidak apa-apa. Sebaliknya, kalau imam shalat belum yakin, atau ingin mengingatkan, atau memerintahkan jamaah shalat untuk meluruskan shaf, ya tidak mengapa juga mengucapkan salah satu dari beberapa riwayat mengenai perintah untuk meluruskan shaf, atau bahkan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh jamaah shalat (termasuk bahasa Indonesia atau bahasa lainnya).

Lalu bagaimana lurus dan rapat yang dimaksud?…

Penulis pernah menemukan beberapa teman di Facebook men-share gambar-gambar yang memvisualisasikan “lurus” dan “rapat” nya shaf yang dimaksud. Tetapi, penulis belum berani men-share-nya disini karena gambar-gambar tersebut tidak menyertakan nash-nash yang mendukung visualisasi “lurus” dan “rapat” sebagaimana yang digambarkan itu.

Jadi, kembali mengutip buku “Ensiklopedi Shalat”, berdasarkan keseluruhan nash-nash di atas (pen: nash-nash tentang meluruskan shaf) meluruskan shaf bisa dilakukan dengan cara berikut ini:

Pertama, menyempurnakan shaf pertama dan seterusnya, menutup celah dengan saling merapatkan.

Kedua, meluruskan dan meratakan shaf dengan saling menyejajarkan leher, pundak, lutut,dan mata kaki. Tidak ada leher yang agak ke depan dari yang lain, tidak ada bahu yang lebih ke depan dari yang lain, dan tidak ada dada yang lebih maju dari yang lain.

Ketiga, tidak merenggangkan kaki terlalu lebar, karena bisa menghalangi bahu seseorang melekat dengan bahu temannya.

Keempat, saling mendekatkan jarak shaf satu sama lain, dan jarak shaf dengan imam, karena ini termasuk dalam pengertian lurusnya shaf-shaf.

Allahu A’lam.

~semoga Allah SWT memberikan ampunan-Nya apabila pada tulisan ini, kalimat-kalimat yang merupakan “kesimpulan” penulis adalah salah, dan menyegerakan “dibukanya” kebenaran sehingga kesalahan itu dapat segera dikoreksi~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s