Tsunami Disaster

26 Desember 2004. “Astagfirullah, astagfirullah,” kata Jusuf Kalla berkali-kali ketika mendengar kabar dari Sofyan Djalil, Menteri Komunikasi dan Informatika ketika itu, yang mengabarkan jumlah korban jiwa akibat tsunami Aceh mencapai ribuan orang. Sepuluh tahun yang lalu, Kalla selaku Wakil Presiden memimpin operasi tanggap darurat sekaligus rehabilitasi Aceh pasca tsunami. Korban jiwa akibat tsunami Aceh pada 2004 diperkirakan mencapai 160.000 jiwa.

Kisah Kalla dalam mengatasi korban tsunami Aceh kembali diceritakan penulis Fenty Effendy dalam karyanya yang berjudul “Ombak Perdamaian” terbitan Kompas Penerbit Buku.

Saat itu, sore hari, Kalla menelepon Susilo Bambang Yudhoyono yang ketika itu menjabat presiden. Ia lalu menyampaikan akan berangkat ke Aceh untuk melihat langsung kondisi di sana. SBY pun mempersilakan Kalla untuk berangkat.

Malam harinya, Kalla langsung memimpin rapat darurat. Rapat hanya dihadiri enam menteri dan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. Ketika itu, sebagian besar menteri Kabinet Indonesia Bersatu tengah mendampingi Presiden berkunjung ke Nabire, sisanya, tengah dinas ke luar kota dan ada yang melakukan kunjungan luar negeri.

Dalam rapat itu lah laporan Sofyan Djalil mengenai korban jiwa tsunami Aceh didengar Kalla.

“Pak, jumlah korban meninggal diperkirakan ribuan orang,” kata Sofyan, seperti yang ditulis dalam buku Ombak Perdamaian.

Mendengar kabar itu, Kalla terus mengucapkan istighfar sambil mengusap wajahnya berkali-kali. Sejumlah menteri tampak tertunduk. Keheningan pun menyapu ruang rapat malam itu.

Pada halaman depan buku Ombak Perdamaian, Kalla disebut langsung memerintahkan para menteri untuk bekerja semaksimal mungkin sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing. Ketika itu, tulis Fenty, persediaan obat-obatan hanya sekitar delapan ton. Sementara, dengan jumlah korban jiwa yang mencapai ribuan orang, menurut laporan Sofyan, pemerintah membutuhkan stok 12 ton obat-obatan untuk disalurkan.

“Saya tidak mau tahu bagaimana caranya, malam ini kumpulkan semua obat yang ada di Jakarta untuk segera angkat ke sana dengan Hercules yang telah disiapkan Panglima TNI. Harus berangkat pukul lima pagi,” kata Kalla.

Seorang perwakilan Kementerian Kesehatan tak langsung mengiyakan perintah Kalla. “Tapi kan sudah tengah malam Pak, semua gudang dan tempat penyimpanan barang sudah terkunci dan pemegang kuncinya kami tidak tahu di mana,” kata perwakilan Kementerian Kesehatan itu.

“Plok!” suara meja ditepuk Kalla.

Ia geram dan tak habis pikir dengan jawaban perwakilan Kementerian Kesehatan tersebut. Pria yang akrab disapa JK ini lalu memerintahkan pihak Kementerian Kesehatan untuk mencari cara apa pun membuka gembok gudang obat-obatan.

“Tak usah cari yang pegang kunci gembok, ambil pistol, tembak gembok itu. Tidak ada lagi aturan tentang tata cara membuka gudang sekarang ini, yang ada hanyalah kerja untuk selamatkan yang masih hidup,” kata Kalla.

Ia lalu memerintahkan perwakilan Kementerian Sosial untuk menyediakan uang tunai yang akan dibelikan makanan di Medan kemudian diangkut ke Aceh. Namun, permintaan Wapres ini lagi-lagi tak langsung disanggupi.

“Masalahnya Pak, kami tidak mudah mengeluarkan uang tunai karena ada proses dan mekanismenya,” kata seorang Dirjen Kementerian Sosial.

Kalla pun kembali geram, “Plok,” ia kembali menepuk meja di ruang rapat.

“Keluarkan uang tersebut malam ini dan bawa besok pagi-pagi ke Medan. Di sana Saudara beli mi dan langsung bawa ke Aceh. Saya adalah Wapres dan saudara adalah pegawai negeri. Saudara jalankan perintah ini, saya yang bertanggung jawab atas segala persoalan yang akan timbul kemudian hari. Saya yang masuk penjara, bukan Saudara. Kalau Saudara tetap menolak perintah ini, maka letakkan jabatan Saudara sekarang juga,” tukas Kalla.

Mendekati pukul 22.30 WIB, 26 Desember 10 tahun lalu, Kalla membubarkan rapat. Masing-masing menteri membawa pulang pekerjaaan rumah untuk dituntaskan keesokan hari, termasuk Menteri Keuangan Jusuf Anwar yang diminta menyiapkan uang tunai Rp 10 miliar. Subuh keesokan harinya, Kalla terbang ke Aceh dengan membawa obat-obatan dan uang tunai Rp 6 miliar dalam peti.

Sepenggal artikel kisah penanggulanagan Tsunami sumber dari kompas.com

Tsunami (bahasa Jepang: 津波; tsu = pelabuhan, nami = gelombang, secara harafiah berarti “ombak besar di pelabuhan”) adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami.

Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih.

Sejarawan Yunani bernama Thucydides merupakan orang pertama yang mengaitkan tsunami dengan gempa bawah laut. Namun hingga abad ke-20, pengetahuan mengenai penyebab tsunami masih sangat minim. Penelitian masih terus dilakukan untuk memahami penyebab tsunami.

geologi, geografi, dan oseanografi pada masa lalu menyebut tsunami sebagai “gelombang laut seismik”.

Beberapa kondisi meteorologis, seperti badai tropis, dapat menyebabkan gelombang badai yang disebut sebagai meteor tsunami yang ketinggiannya beberapa meter di atas gelombang laut normal. Ketika badai ini mencapai daratan, bentuknya bisa menyerupai tsunami, meski sebenarnya bukan tsunami. Gelombangnya bisa menggenangi daratan. Gelombang badai ini pernah menggenangi Burma (Myanmar) pada Mei 2008.

Wilayah di sekeliling Samudra Pasifik memiliki Pacific Tsunami Warning Centre (PTWC) yang mengeluarkan peringatan jika terdapat ancaman tsunami pada wilayah ini. Wilayah di sekeliling Samudera Hindia sedang membangun Indian Ocean Tsunami Warning System (IOTWS) yang akan berpusat di Indonesia.

Bukti-bukti historis menunjukkan bahwa megatsunami mungkin saja terjadi, yang menyebabkan beberapa pulau dapat tenggelam.

Terminologi

Kata tsunami berasal dari bahasa jepang, tsu berarti pelabuhan, dan nami berarti gelombang. Tsunami sering terjadi Jepang. Sejarah Jepang mencatat setidaknya 196 tsunami telah terjadi.

Pada beberapa kesempatan, tsunami disamakan dengan gelombang pasang. Dalam tahun-tahun terakhir, persepsi ini telah dinyatakan tidak sesuai lagi, terutama dalam komunitas peneliti, karena gelombang pasang tidak ada hubungannya dengan tsunami. Persepsi ini dahulu populer karena penampakan tsunami yang menyerupai gelombang pasang yang tinggi.

Tsunami dan gelombang pasang sama-sama menghasilkan gelombang air yang bergerak ke daratan, namun dalam kejadian tsunami, gerakan gelombang jauh lebih besar dan lebih lama, sehingga memberika kesan seperti gelombang pasang yang sangat tinggi. Meskipun pengartian yang menyamakan dengan “pasang-surut” meliputi “kemiripan” atau “memiliki kesamaan karakter” dengan gelombang pasang, pengertian ini tidak lagi tepat. Tsunami tidak hanya terbatas pada pelabuhan. Karenanya para geologis dan oseanografis sangat tidak merekomendasikan untuk menggunakan istilah ini.

Hanya ada beberapa bahasa lokal yang memiliki arti yang sama dengan gelombang merusak ini. Aazhi Peralai dalam Bahasa Tamil, ië beuna atau alôn buluëk (menurut dialek) dalam Bahasa Aceh adalah contohnya. Sebagai catatan, dalam bahasa Tagalog versi Austronesia, bahasa utama di Filipina, alon berarti “gelombang”. Di Pulau Simeulue, daerah pesisir barat Sumatra, Indonesia, dalam Bahasa Defayan, smong berarti tsunami. Sementara dalam Bahasa Sigulai, emong berarti tsunami.

Penyebab terjadinya tsunami

Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus, misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau.

Gerakan vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami.

Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi gelombang tsunami hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer.

Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua.

Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya mencapai ratusan meter.

Gempa yang menyebabkan tsunami

  • Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 – 30 km)
  • Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter
  • Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun

Sistem Peringatan Dini

Banyak kota-kota di sekitar Pasifik, terutama di Jepang dan juga Hawaii, mempunyai sistem peringatan tsunami dan prosedur evakuasi untuk menangani kejadian tsunami. Bencana tsunami dapat diprediksi oleh berbagai institusi seismologi di berbagai penjuru dunia dan proses terjadinya tsunami dapat dimonitor melalui perangkat yang ada di dasar atau permukaan laut yang terhubung dengan satelit.

Perekam tekanan di dasar laut bersama-sama denganperangkat yang mengapung di laut buoy, dapat digunakan untuk mendeteksi gelombang yang tidak dapat dilihat oleh pengamat manusia pada laut dalam. Sistem sederhana yang pertama kali digunakan untuk memberikan peringatan awal akan terjadinya tsunami pernah dicoba di Hawaii pada tahun 1920-an. Kemudian, sistem yang lebih canggih dikembangkan lagi setelah terjadinya tsunami besar pada tanggal 1 April 1946 dan 23 Mei 1960. Amerika serikat membuat Pasific Tsunami Warning Center pada tahun 1949, dan menghubungkannya ke jaringan data dan peringatan internasional pada tahun 1965.

Salah satu sistem untuk menyediakan peringatan dini tsunami, CREST Project, dipasang di pantai Barat Amerika Serikat, Alaska, dan Hawai oleh USGS, NOAA, dan Pacific Northwest Seismograph Network, serta oleh tiga jaringan seismik universitas.

Hingga kini, ilmu tentang tsunami sudah cukup berkembang, meskipun proses terjadinya masih banyak yang belum diketahui dengan pasti. Episenter dari sebuah gempa bawah laut dan kemungkinan kejadian tsunami dapat cepat dihitung. Pemodelan tsunami yang baik telah berhasil memperkirakan seberapa besar tinggi gelombang tsunami di daerah sumber, kecepatan penjalarannya dan waktu sampai di pantai, berapa ketinggian tsunami di pantai dan seberapa jauh rendaman yang mungkin terjadi di daratan. Walaupun begitu, karena faktor alamiah, seperti kompleksitas topografi dan batimetri sekitar pantai dan adanya corak ragam tutupan lahan (baik tumbuhan, bangunan, dll), perkiraan waktu kedatangan tsunami, ketinggian dan jarak rendaman tsunami masih belum bisa dimodelkan secara akurat.

Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia

Pemerintah Indonesia, dengan bantuan negara-negara donor, telah mengembangkan Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (Indonesian Tsunami Early Warning System – InaTEWS). Sistem ini berpusat pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Jakarta. Sistem ini memungkinkan BMKG mengirimkan peringatan tsunami jika terjadi gempa yang berpotensi mengakibatkan tsunami. Sistem yang ada sekarang ini sedang disempurnakan. Kedepannya, sistem ini akan dapat mengeluarkan 3 tingkat peringatan, sesuai dengan hasil perhitungan Sistem Pendukung Pengambilan Keputusan (Decision Support System – DSS).

Pengembangan Sistem Peringatan Dini Tsunami ini melibatkan banyak pihak, baik instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga internasional, lembaga non-pemerintah. Koordinator dari pihak Indonesia adalah Kementrian Negara Riset dan Teknologi (RISTEK). Sedangkan instansi yang ditunjuk dan bertanggung jawab untuk mengeluarkan INFO GEMPA dan PERINGATAN TSUNAMI adalah BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika). Sistem ini didesain untuk dapat mengeluarkan peringatan tsunami dalam waktu paling lama 5 menit setelah gempa terjadi.

Sistem Peringatan Dini memiliki 4 komponen: Pengetahuan mengenai Bahaya dan Resiko, Peramalan, Peringatan, dan Reaksi.Observasi (Monitoring gempa dan permukaan laut), Integrasi dan Diseminasi Informasi, Kesiapsiagaan.

Cara Kerja

Sebuah Sistem Peringatan Dini Tsunami adalah merupakan rangkaian sistem kerja yang rumit dan melibatkan banyak pihak secara internasional, regional, nasional, daerah dan bermuara di Masyarakat.

Apabila terjadi suatu Gempa, maka kejadian tersebut dicatat oleh alat Seismograf (pencatat gempa). Informasi gempa (kekuatan, lokasi, waktu kejadian) dikirimkan melalui satelit ke BMKG Jakarta. Selanjutnya BMG akan mengeluarkan INFO GEMPA yang disampaikan melalui peralatan teknis secara simultan. Data gempa dimasukkan dalam DSS untuk memperhitungkan apakah gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami. Perhitungan dilakukan berdasarkan jutaan skenario modelling yang sudah dibuat terlebih dahulu. Kemudian, BMKG dapat mengeluarkan INFO PERINGATAN TSUNAMI. Data gempa ini juga akan diintegrasikan dengan data dari peralatan sistem peringatan dini lainnya (GPS, BUOY, OBU, Tide Gauge) untuk memberikan konfirmasi apakah gelombang tsunami benar-benar sudah terbentuk. Informasi ini juga diteruskan oleh BMKG. BMKG menyampaikan info peringatan tsunami melalui beberapa institusi perantara, yang meliputi (Pemerintah Daerah dan Media). Institusi perantara inilah yang meneruskan informasi peringatan kepada masyarakat. BMKG juga menyampaikan info peringatan melalui SMS ke pengguna ponsel yang sudah terdaftar dalam database BMKG. Cara penyampaian Info Gempa tersebut untuk saat ini adalah melalui SMS, Facsimile, Telepon, Email, RANET (Radio Internet), FM RDS (Radio yang mempunyai fasilitas RDS/Radio Data System) dan melalui Website BMG (www.bmg.go.id).

Pengalaman serta banyak kejadian dilapangan membuktikan bahwa meskipun banyak peralatan canggih yang digunakan, tetapi alat yang paling efektif hingga saat ini untuk Sistem Peringatan Dini Tsunami adalah RADIO. Oleh sebab itu, kepada masyarakat yang tinggal didaerah rawan Tsunami diminta untuk selalu siaga mempersiapkan RADIO FM untuk mendengarkan berita peringatan dini Tsunami. Alat lainnya yang juga dikenal ampuh adalah Radio Komunikasi Antar Penduduk. Organisasi yang mengurusnya adalah RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia). Mengapa Radio ? jawabannya sederhana, karena ketika gempa seringkali mati lampu tidak ada listrik. Radio dapat beroperasi dengan baterai. Selain itu karena ukurannya kecil, dapat dibawa-bawa (mobile). Radius komunikasinyapun relatif cukup memadai.

Tsunami dalam sejarah

Banyak korban tewas tsunami yang meninggal dalam kegelapan, dalam pusaran air yang penuh dengan batang pohon, perahu, mobil, dan potongan bangunan, kemudian diseret naik oleh ombak hingga beberapa kilometer ke tengah daratan, untuk terisap balik ke laut.

Thailand melihat kematian 5.395 orang karena tsunami ini. Setengah dari mereka adalah wisatawan asing yang sedang berlibur. Salah satu korban selamat asal Inggris, Andy Chaggar, sedang berada di dalam bungalonya di Khao Lak, Thailand, ketika tsunami tiba di pantai itu, menewaskan kekasihnya dan menyeret dirinya jauh ke daratan.

“Saya terseret di dalam air… di sana ada kaca, besi, potongan kayu, bata, itu seperti berada di dalam mesin cuci yang penuh dengan paku,” tutur Chaggar, di pantai yang sama tempat dia kehilangan kekasihnya itu, Kamis (25/12/2014).

Dalam bencana yang skalanya sudah bisa disebut tragedi tersebut, semua negara yang terdampak tsunami berjuang keras untuk memobilisasi bantuan, dengan tumpukan jasad membengkak bertebaran di bawah matahari tropis atau di rumah duka darurat.

Dunia internasional pun mengalirkan uang dan keahlian untuk membantu dan melakukan rekonstruksi di daerah bencana. Dana senilai lebih dari 13,5 miliar dollar AS–sekitar Rp 170 triliun dengan kurs sekarang–terkumpul dalam bulan-bulan pertama setelah bencana ini.

Hampir 7 miliar dollar AS–setara sekitar Rp 87,5 triliun–datang belakangan untuk membangun kembali lebih dari 140.000 rumah di seluruh Aceh, ribuan kilometer jalan, juga sekolah dan rumah sakit baru.

Tsunami menewaskan lebih dari 120.000 orang Indonesia, dengan puluhan ribu yang lain hilang hingga sekarang, dengan puluhan ribu dari mereka adalah anak-anak. Namun, bencana ini pun menjadi tonggak awal bagi kesepakatan damai Gerakan Aceh Merdeka dengan pemerintah Indonesia di Jakarta.

Pun, tsunami ini telah mendorong pembangunan sistem peringatan dini, berupa alat pengukur laut dan pelampung, sementara negara-negara yang terdampak juga mulai berinvestasi lebih baik soal kesiapsiagaan bencana.

Meski demikian, banyak pakar memperingatkan bahwa masyarakat yang rentan bencana alam, pada umumnya juga adalah masyarakat yang rawan mengalami “amnesia bencana”.

Sejarah mencatat, gempa dan tsunami selalu memakan korban. Di Indonesia, setidaknya ratusan ribu jiwa tewas akibat bencana geologi itu.

Gempa bermagnitudo 7,8 di Samudera Hindia selatan Flores pada 12 Desember 1992 adalah salah satu contoh. Tsunami yang datang hanya 5 menit setelah gempa membuat warga tidak punya kesempatan menyelamatkan diri. Sejumlah 2.100 orang akhirnya tewas.

Kejadian tepat 10 tahun lalu, 26 Desember 2014, adalah contoh lain. Akibat gempa dahsyat bermagnitudo 9,2 di barat Sumatera, tsunami yang ketinggian maksimumnya mencapai 30 meter menerjang Aceh, menghancurkan kota, menewaskan hingga 160.000 orang warga lokal.

Banyaknya korban tewas memicu pemikiran bahwa tsunami seperti malaikat pencabut nyawa. Kematian akibat tsunami adalah takdir. Tak bisa dihindari. Tapi, benarkah demikian?

Ahli tsunami dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Abdul Muhari, mengungkapkan fakta menarik tentang dampak gempa bermagnitudo 9 yang mengguncang Jepang pada 11 Maret 2011 dan memicu tsunami besar.

“Dari sekitar 18,000 orang korban tewas maupun hilang pada saat tsunami Jepang 2011, ‘hanya’ sekitar 600 orang diantaranya adalah anak usia sekolah dengan umur kurang dari 15 tahun,” katanya.

Abdul mengungkapkan, sebabnya adalah adanya mitigasi lewat pendidikan bencana yang komprehensif pada anak-anak.

Menurut Abdul, Jepang yang juga negara rawan gempa dan tsunami sangat fokus pada penyadaran risiko bencana. Di Jepang, fokus edukasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana adalah anal-anak.

Untuk membuat anak-anak siap menghadapi bencana, selama 10 tahun terakhir, Jepang memasukkan intervensi pendidikan kebencanaan baik melalui kurikulum wajib maupun kegiatan ekstra kurikuler.

Hasilnya, anak-anak bukan hanya sadar masalah bencana. Saat gempa dan tsunami 2011, anak-anak bisa membantu kalangan lain yang lebih rentan.

“Di Kamaishi Town, murid-murid SMP menginisiasi dan melakukan evakuasi mandiri dengan membawa serta adik kelas mereka yang merupakan murid SD,” papar Abdul kepada Kompas.com, Selasa (24/12/2014).

“Upaya ini berhasil dan menjadi perhatian dunia karena tidak ada satu anak pun dalam rombongan tersebut yang menjadi korban tsunami,” papar Abdul yang pernah menjadi peneliti di International Research Institute of Disaster Science (IRIDeS), Tohoku University.

Menilik Indonesia, kondisinya berbeda. Mitigasi belum menjadi fokus. Pendidikan kebencanaan sebagai salah satu pilar mitigasi belum optimal.

Pakar gempa dan tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, mengatakan, “Konsep mitigasi kita ambigu, lebih dititikberatkan pada ‘pemadam kebakaran’ (tanggap darurat), bukan pencegahan.”

Contoh kasus adalah rencana pembangunan bandara di Yogyakarta. Berdasarkan kajian Widjo dan rekan, lokasi bandara Yogyakarta baru di Pantai Glagah, Kulon Progo, rentan terdampak tsunami hingga ketinggian 9 meter.

Kajian telah disampaikan di media dan pemerintah daerah. Namun, hingga kini, belum ada tindak lanjut.

“Mereka mengungkapkan sudah dikaji dan lainnya. Namun ketika kita elaborasi detail, kajian itu sangat minim dan asal-asalan. Tanpa data,” kata Widjo. Sempat dinyatakan, agar bebas tsunami, bandara akan dilengkapi tanggul. Menurut Widjo, itu takkan efektif.

Pembangunan di wilayah Aceh pasca gempa dan tsunami 2004 sendiri juga belum berawawasan kebencanaan. Wilayah dekat pantai yang rentan terdampak tsunami kini dipadati kembali oleh penduduk. Jika tsunami terjadi lagi, bisa dipastikan korban jatuh pun banyak.

Rencana pembangunan di Aceh pasca 2004 berbeda jauh dengan yang dilakukan Jepang pasca tahun 2011.

“Pada kasus tsunami 2011 saja, dalam kurun 8 bulan (sampai Desember 2011) Jepang mengeluarkan 17 Undang-Undang yang benar-benar menjadi landasan dalam pelaksanaan rekonstruksi,” kata Abdul.

Undang-undang tersebut terkait dengan pelaksanaan rekonstruksi mulai dari pembentukan badan otoritas, aturan rekonstruksi fisik, ekonomi, tata ruang, struktur pelindung tsunami, pengembangan wilayah pasca tsunami, sampah tsunami, keuangan, fiskal/pajak dan keimigrasian bagi korban tsunami.

“Keberadaan UU ini membuat segala kebijakan yang diambil oleh badan rekonstruksi Jepang memiliki dasar hukum yang kuat seperti pengosongan ruang pesisir yang terkena tsunami dengan ketinggian lebih dari 2 meter dari pemukiman, pembangunan struktur pantai dengan teknologi yang lebih baik dan pengembangan compact city (kota kecil dengan fasilitas publik yang teritegrasi),” imbuh Abdul.

Ketika pembangunan berwawasan kebencanaan belum dilakukan, masalah bencana justru dipakai untuk mewujudkan proyek yang menguntungkan segelintir kelompok.

“Beberapa dimanfaatkan malah oleh ‘penumpang gelap’. Misalnya rencana reklamasi di Bali yang dihubung-hubungkan dengan pengurangan risiko tsunami. Itu bencana yang sebenarnya,” tegas Widjo.

Melihat apa yang terjadi di Jepang dan negeri kita, bencana alam sebenarnya bukan menjadi penjemput kematian. Bencana hanya akan memakan korban bila manusianya tidak punya senjata untuk lolos dari ancamannya.

“Bencana yang sesungguhnya bukan gempa, tsunami, longsor, banjir, tetapi manusia yang tidak mau belajar dari lingkungan, potensi-potensinya, dan ancamannya,” kata Widjo.

Akal budi membantu manusia untuk lolos dari bencana. Manusia bisa menciptakan teknologi, mengamati alam dan potensi bencananya, berinvestasi pada kebencanaan, serta terus belajar. Ancaman kematian yang sebenarnya adalah kebebalan kita.

Bila Tsunami Aceh mewarnai kehidupan seseorang

Kisah wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, berada di sebuah lokasi yang hancur di Banda Aceh, beberapa hari setelah bencana.

Kenangan tak terlupa

Ada rasa sedih yang tersisa setiap teringat bencana tsunami Aceh, tetapi hidup tidak melulu terserap dengan masa lalu.

Berjarak ribuan kilometer dari Aceh, kalimat itu saya baca berulang-ulang sebelum kutuliskan dua hari lalu dari mejaku di kantor pusat London, dengan harapan dapat mewakili kenyataan batin sebenarnya.

Dan saya yakin, itulah kenyataannya. Kuulangi lagi: hidup tidak melulu terserap dengan masa lalu. Titik.

Tetapi sepuluh tahun silam, saya tidak akan pernah mampu menuliskannya.

Tiga hari setelah bencana tsunami, 29 Desember 2004, saya berada di kota Banda Aceh tanpa pernah ada pengalaman langsung meliput bencana sebesar itu, sebelumnya.

Dituntut tegar dan dingin, dan disibukkan melaporkan kejadian sehari-hari, saya sepertinya berhasil menyisihkan sisi rapuh manusia selama empat pekan di wilayah itu.

Toh semua itu runtuh, ketika menjelang pulang, saya bersama seorang wartawan kantor berita asing asal Malaysia, menangis sesenggukan di pojokan bandar udara Sultan Iskandar Syah.

Sampai di Jakarta, bayangan apa yang terjadi di Aceh belum juga hilang, lapor saya kepada atasan beberapa hari setelah tiba di Jakarta, ketika itu.

Foto-foto korban yang ditempel di tembok

Sepuluh tahun silam, saya masih ingat, saya melaporkan kenyataan pahit di Banda: Puing-puing dan reruntuhan yang dulu menyerupai bukit, kini tidak lagi terlihat, meski bangkai kapal nelayan berukuran raksasa masih teronggok di depan Hotel Medan.

Mayat-mayat yang di awal-awal masih gampang dijumpai di jalanan, saat itu tidak terlihat, kecuali di bawah puing-puing yang belum tersentuh.

Tapi yang tidak berubah adalah foto-foto itu, berikut keterangannya yang dicopy dan ditempel dalam lembaran kertas seukuran folio di beberapa sudut kota.

Di lembaran itu, tertulis kalimat yang intinya mencari keluarganya yang hilang. Anak mencari ibu atau ayahnya atau sebaliknya.

Mata saya otomatis akan tertuju pada gambar-gambar itu, karena dipasang di tempat yang begitu mencolok di berbagai sudut Banda.

Di lokasi pengungsian di wilayah Mata’i, di pinggiran kota Banda, suara-suara ini sempat terngiang sekian waktu: “Tolong, carikan anak saya… Jika lihat istri saya, ini fotonya… Anak saya masih hidup, kemarin terlihat di TV… Jika bertemu A tolong hubungi HP saya ini…”

Yang kuingat, kala itu saya tidak bisa bicara apa-apa. Sebisa mungkin menahan hasrat untuk menangis, tidak terlihat cengeng di hadapan mereka.

Saya ingat juga, dari lokasi pengungsian Mata’i, suara-suara dari corong pengumuman terus bergema: menyebut nama-nama, menyebut jati diri orang-orang yang hilang…

Rumput menghijau di masjid Baiturrahman

Setahun setelah bencana itu, saya diberi kepercayaan untuk meliput perubahan seperti apa yang terjadi di Banda Aceh. Saya sangat antusias berangkat ke sana.

“Perjalanan ke Aceh kemarin seperti proses healing buat saya,” tulis saya kepada atasan di kantor, sepulang dari liputan selama dua pekan itu.

“Walau tak begitu seperti dibayangkan, tapi setahun setelah tsunami, warga kota Banda Aceh mulai percaya akan adanya sebuah harapan,” tulisku lagi.

Rumput di halaman Mesjid Baiturrahman, tumbuh menjadi hijau yang indah; bau amis yang dulu terasa di Mesjid baiturrahman, juga tak lagi ada; sungai Aceh yang dulu dipenuhi mayat sekarang kembali mengalir tenang.

Dan, tawa anak-anak sekolah yang bisa tertawa lepas, adalah ukuran lain betapa warga kota ini tidak lagi disibukkan untuk melihat ke belakang…

“Warung kopi yang bisa buka sampai malam, dan orang-orang tak takut lagi akan perang GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan tentara Indonesia, adalah kenyataan yang terlihat di kota ini,” laporku saat itu.

Ketika itu secercah harapan memang mewarnai Aceh setelah Pemerintah Indonesia dan GAM memilih untuk berdamai.

Melihat ke depan

Setelah liputan itu, saya setidaknya telah tiga kali kembali ke Banda Aceh, dan terakhir adalah saat saya meliput pemilu presiden 2014 lalu dan bertemu langsung bekas pemberontak dan kini menjadi orang nomor satu di wilayah itu.

Walaupun perasaan melankoli sesekali menyelinap muncul, tetapi secara keseluruhan perubahan politik dan perasaan kolektif warga Aceh yang lebih disibukkan melihat masa depannya, ketimbang masa lalunya, membuat suasana muram sepuluh tahun itu pelan-pelan tersapu.

Percakapan di warung kopi, misalnya, saya nyaris tidak pernah lagi mendengar tentang masalah tsunami dan dampaknya. Seorang sahabat dekat di Banda mengatakan, persoalan tsunami dan GAM tidak lagi menarik dibicarakan dan digantikan perkembangan wisata kuliner kopi Gayo.

Saya menyaksikan, para pemimpin, pengusaha, kaum muda dan rakyat biasa di wilayah itu terus berharap untuk kebaikan Aceh di masa depan.

Akhirnya saya berani mengatakan: ada rasa sedih yang tersisa setiap teringat bencana tsunami Aceh, tetapi hidup tidak melulu terserap dengan masa lalu.

Saya yakin sepenuhnya warga Aceh pun telah jauh melangkah ke depan, dan tidak melulu menangisi masa lalunya. Saya pun demikian. — Wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan.

Ini Cerita SBY Ketika Menangani Bencana Tsunami Aceh

Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono menceritakan pengalamannya dalam penanganan bencana tsunami di Aceh 10 tahun lalu. Cerita itu ia tuangkan dalam akun facebook miliknya, “Susilo Bambang Yudhoyono“.

Tulisan tersebut ditulis SBY ketika sedang berada di Amerika Serikat. Berikut isi cerita SBY tersebut:

DARI DUKA KITA BANGKIT

10 Tahun Tsunami Aceh dan Nias

Oleh
Susilo Bambang Yudhoyono

“Ya Allah, musibah apa ini … “, ucap saya lirih.

Hal ini saya ucapkan di Wisma Gubernur Papua, Jayapura, tanggal 26 Desember 2004, ketika berita yang saya terima tentang gempa bumi di Aceh bertambah buruk dari jam ke jam. Dino Patti Djalal dan Andi Mallarangeng, dua juru bicara Presiden, yang terus “meng up-date” perkembangan situasi di Aceh ikut pula cemas. Istri tercinta yang mendampingi saya saat itu nampak makin sedih. Matanya mulai berkaca-kaca.

Komunikasi yang dilakukan oleh para Menteri dan Staf Khusus yang mendampingi saya memang amat tidak lancar. Mereka nampak frustrasi. Belakangan baru tahu bahwa telekomunikasi di seluruh Aceh lumpuh total. Tetapi, yang membuat pikiran saya semakin tegang adalah setiap berita yang masuk jumlah korban gempa terus meningkat dengan tajam. Pertama belasan, kemudian puluhan, ratusan dan bahkan ribuan. Waktu itu saya benar-benar belum mengetahui bahwa yang terjadi ternyata bukan hanya gempa bumi, tetapi juga tsunami yang amat dahyat.

Selama jam-jam yang menegangkan itu saya tetap memelihara komunikasi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang saat itu berada di Jakarta. Intinya, nampaknya ini bukan bencana alam biasa. Sesuatu yang besar. Kita harus siap menghadapi hal yang paling buruk. Kita harus dapat bertindak dengan cepat namun sekaligus tepat.

Oleh karena itu, meskipun malam harinya saya tetap menghadiri perayaan Natal bersama umat Kristiani yang ada di Jayapura yang sudah lama dipersiapkan, saya meminta acara itu dipersingkat dan saya mengajak hadirin untuk berdoa atas keselamatan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana alam di Aceh.
Rapat Darurat Kabinet Terbatas di Jayapura

Dengan informasi dan intelijen yang sangat minim, malam itu di Jayapura saya segera menggelar rapat Kabinet Terbatas, yang dihadiri oleh sejumlah Menteri yang mendampingi saya. Ingat, kunjungan saya ke Papua waktu itu di samping menghadiri perayaan Natal bersama juga meninjau Nabire yang baru saja tertimpa bencana.

Suasana nampak hening. Para Menteri sempat merasakan ketegangan saya. Sebenarnya, ketika saya pandangi wajah-wajah mereka, nampaknya hal itu juga dialaminya. Setelah melakukan pembahasan secukupnya, saya mengambil keputusan bahwa esok hari, sepagi mungkin, kita langsung ke Aceh. Bukan ke Jakarta sesuai dengan yang telah direncanakan. Pada waktu itu memang ada yang berpendapat dan menyarankan agar sebaiknya saya kembali ke Jakarta dulu. Setelah segalanya menjadi jelas, baru ke Aceh.

“Tidak. Kita langsung ke Aceh. Persiapkan penerbangan kita. Kita berangkat sepagi mungkin”, demikian arahan saya

“Siap, Bapak Presiden”, jawab mereka. Serentak.

“Terima kasih. Dalam keadaan yang serba tidak jelas ini justru sebagai pemimpin saya harus mengetahui situasi di lapangan yang sebenarnya. Di situ saya bisa segera mengambil keputusan. Dan kemudian memberikan instruksi dan segera bertindak.”

Mereka kembali mengangguk. Tanda mengerti.

Saya dibesarkan di dunia militer. Dari Letnan hingga Jenderal. Saya bersyukur karena dapat kesempatan sejarah untuk bertugas di medan pertempuran di Timor Timur selama hampir 5 tahun. Juga pernah bertugas di Bosnia sebagai bagian dari Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB. Dalam kehidupan militer inilah saya selalu ingat apa yang didoktrinkan kepada para Komandan Satuan tempur apa yang disebut “3 Quick”. Dalam bahasa Inggris berbunyi: “Quick to see, quick to decide, quick to act”.

Malam itu juga saya mengeluarkan intruksi kepada Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan Kapolri Jenderal Polisi Da’i Bachtiar untuk menyiagakan pasukannya, dan segera melakukan apa saja yang bisa dilakukan untuk membantu Aceh dalam mengatasi bencana dahsyat itu. Meskipun, terus terang, pengetahuan saya sendiri terhadap bencana tsunami belum luas benar. Tetapi, pegangan saya adalah bahwa korban jiwa amat besar, berarti memerlukan tindakan yang besar pula.

Terbang Menuju Lhokseumawe

Pagi hari, pesawat yang saya tumpangi tinggal landas menuju Aceh. Sasaran kunjungan saya adalah ke Lhokseumawe. Sementara, Pak Jusuf Kalla saya minta untuk langsung ke Banda Aceh. Pertimbangan saya Wapres bisa datang lebih cepat di Aceh, sehingga segera bisa melihat langsung Banda Aceh yang konon kerusakannya paling parah. Sebab, kalau saya sendiri yang ke Banda Aceh, sore atau malam hari baru tiba.

Sebagaimana yang diketahui oleh banyak kalangan pesawat kepresidenan yang saya naiki adalah jenis RJ 85, yang tidak bisa terbang langsung ke Lhokseumawe. Pesawat harus singgah di Makasar dan kemudian Batam untuk pengisian bahan bakar. Tentu saja saya harus menambah waktu sekitar 3-4 jam. Keadaan inilah yang waktu itu memunculkan gagasan saya bahwa seharusnya pesawat Presiden Indonesia bisa terbang ke manapun di wilayah Indonesia, maksimal 8 jam, tanpa harus melakukan “refueling”. Tetapi, pesawat yang saya maksud baru terwujud 10 tahun kemudian. Pertama saya sadar bahwa saya harus menunggu kemampuan ekonomi negara dan ketersediaan anggaran pemerintah. Sedangkan yang kedua proses politiknya ternyata panjang dan tidak mudah. Ada pro dan kontra. Dianggapnya sebuah pemborosan. Padahal jika Presiden selalu menggunakan pesawat Garuda biayanya justru jauh lebih mahal, dan juga bisa mengacaukan jadwal penerbangan Garuda sendiri. Namun, bagaimanapun saya bersyukur karena pesawat itu dapat disediakan sekitar 5 bulan sebelum saya mengakhiri tugas saya sebagai Presiden. Saya senang karena Presiden Jokowi dan Presiden-Presiden berikutnya bisa terbang ke manapun tanpa harus berhenti di jalan karena mesti mengisi bahan bakar.

Ketika saya singgah di Makasar dan Batam, saya tidak menyia-nyiakan waktu untuk mencoba berkomunikasi dengan Aceh. Tetapi tetap sulit. Oleh karena itu saya terus bekerja dengan asumsi berdasarkan intelijen yang minim. Selama penerbangan pun saya menggelar peta dan bersama para menteri terkait mulai saya pelajari situasi serta rencana tindakan yang diperlukan.

Sementara itu, Ibu Ani nampak makin sedih. Ia mulai membayangkan tragedi kemanusiaan itu. Terbayang pula kesedihan yang tiada tara yang dialami oleh saudara-saudaranya yang ada di Aceh, yang kehilangan mereka-mereka yang disayanginya karena menjadi korban bencana tsunami tersebut.

Kehancuran Total dan Duka yang Mendalam

Sore hari pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Lhokseumawe. Begitu sampai di lokasi saya beserta istri dan rombongan segera menemui ribuan saudara-saudara kita yang kena musibah, termasuk yang kehilangan keluarganya. Suasana sungguh memilukan. Kami sapa dan peluk mereka. Saya sampaikan bahwa saya dan para Menteri datang untuk membantu mereka semua.

Menjelang gelap, saya dan rombongan sampai di tempat penginapan ~ di kompleks PT Arun ~ saya segera menggelar rapat. Tentunya semuanya serba darurat. Saya ingin segera mendapatkan laporan dari para pejabat daerah tentang keadaan yang nyata di lapangan, serta tindakan apa saja yang telah dilakukan oleh daerah termasuk oleh jajaran TNI dan Polri. Dengan laporan yang lebih akurat, saya akan lebih fokus untuk meninjau daerah-daerah yang paling parah kerusakannya. Juga yang paling banyak korban jiwanya. Dari situ, kemudian saya bisa mengambil keputusan, termasuk sasaran-sasaran utama operasi tanggap darurat yang mesti segera dilakukan.

Tiga pimpinan daerah memberikan laporan singkat kepada saya, yaitu Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Azwar Abubakar, Pangdam Iskandar Muda Mayor Jenderal TNI Endang Suwarya dan Kapolda Aceh Inspektur Jenderal Bachrumsyah. Roman muka ketiga pejabat tersebut nampak tegang dan juga lelah. Saya diberitahu bahwa isteri Mayjen Endang Suwarya hampir tidak selamat akibat hantaman gelombang tsunami yang sangat kuat, sementara salah satu anak Gubernur Azwar Abubakar belum diketahui posisinya. Suara mereka nampak bergetar ketika memberikan laporannya.

Saya menyimak dengan seksama semua laporan dan penjelasan yang diberikan kepada saya. Setelah saya ajukan sejumlah pertanyaan penting, akhirnya saya bisa menyimpulkan dan sekaligus menyampaikan pernyataan sebagai berikut:

“Ini sebuah bencana nasional. Hakikatnya juga krisis nasional. Oleh karena itu yang harus kita jalankan adalah manajemen krisis. Baik pada tingkat Pusat, maupun Daerah.”

Semuanya membenarkan. Kemudian saya sampaikan arahan saya lebih lanjut.

“Karena jajaran Pemerintah Daerah saya anggap lumpuh total, maka Pemerintah Pusat akan mengambil alih. Setelah saya tinjau di lapangan esok pagi, saya akan putuskan status bencana ini. Tetapi sementara saya bisa mengatakan bahwa sangat mungkin statusnya adalah bencana nasional.”

Seusai rapat, dihadapan staf khusus dan ADC Presiden, saya sampaikan bahwa saya harus turun langsung ke lapangan. “Hands on.” Tak cukup hanya menerima laporan semata. Begitu prinsip kepemimpinan yang saya anut dan jalankan selama ini.

Namun, saya juga sampaikan bahwa sebagai Kepala Pemerintahan tugas dan kewajiban saya bukan hanya meninjau dan menangani permasalahan yang ada di lapangan semata, tetapi saya juga bertanggung jawab bahwa pemerintah memiliki kebijakan dan tindakan nasional yang tepat. Termasuk sumber daya yang perlu kita kerahkan. Tentu termasuk pula dukungan anggaran yang diperlukan. Dalam pikiran saya yang harus pemerintah lakukan adalah manajemen krisis tingkat strategis dan berdimensi nasional.
3 Prioritas

Sepanjang malam, di wisma PT Arun Lhokseumawe, saya tidak bisa tidur. Saya gunakan waktu yang amat berharga itu untuk menyusun dan menentukan prioritas dan tindakan penting yang harus segera dilakukan. Setelah saya lakukan analisis secara mendalam, saya tetapkan 3 prioritas utama. Tiga-tiganya harus dilakukan secara terpadu dan bersamaan. Tidak saling menunggu.

Prioritas pertama adalah Operasi Tanggap Darurat, secara internasional sering disebut “Disaster Relief Operations”. Yang paling penting adalah menyelamatkan jiwa siapapun yang masih bisa diselamatkan. Kemudian evakuasi dan perawatan para korban luka atau sakit. Juga pemberian makanan, minuman, obat-obatan dan air bersih. Juga menghidupkan kembali listrik dan ketersediaan BBM. Juga menormalisasi transportasi dan telekomunikasi. Pendek kata, dari situasi yang serba darurat secara bertahap harus dipulihkan menjadi normal kembali. Melihat luasnya daerah yang rusak berat serta besarnya kehancuran infrastruktur dan sumber-sumber kehidupan, waktu operasi tanggap darurat ini saya tetapkan 3 bulan. Setelah itu akan berlanjut dengan tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Prioritas kedua adalah pengerahan dan penugasan satuan TNI dan Polri dalam jumlah yang cukup dan dalam waktu yang singkat. Operasi tanggap darurat yang amat besar skalanya tidak mungkin dilaksanakan tanpa pelibatan satuan TNI, Polri dan elemen-elemen lain seperti PMI, satgas PLN, satgas Telkom dan lain-lain. Saya mengetahui bahwa salah satu tugas TNI adalah melaksanakan Operasi Militer Selain Perang, dan salah satu wujudnya adalah operasi tanggap darurat menanggulangi bencana.

Sedangkan prioritas yang ketiga adalah memastikan agar kontak tembak antara TNI dan GAM bisa ditiadakan. Ingat Aceh masih ditetapkan sebagai daerah operasi militer, karena unsur-unsur bersenjata GAM waktu itu juga masih aktif melakukan aksi-aksi bersenjatanya. Sementara itu tidaklah mungkin operasi tanggap darurat bisa dilaksanakan secara berhasil jika pertempuran antara TNI dan GAM masih terjadi.

Dalam kaitan ini saya berencana bahwa sesampainya di Banda Aceh keesokan harinya, saya akan ajak dan serukan agar GAM bisa ikut membantu saudara-saudaranya yang tengah mengalami musibah luar biasa. Saya juga akan serukan kembali untuk dapat mengakhiri konflik secara damai. Sebenarnya, sebulan sebelumnya, bulan November 2004 ~ satu bulan setelah saya dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia, saya telah mengajak GAM untuk kembali mencari jalan bagi pengakhiran konflik bersenjata yang telah berlangsung lebih dari 30 tahun. Dan sejarah juga mencatat bahwa sebenarnya solusi damai hampir terjadi setelah adanya Perjanjian Jenewa akhir tahun 2002. Sayang upaya damai itu kandas karena kurang bulatnya pihak pemerintah untuk mengimplementasikan solusi damai itu, sementara pihak GAM-pun juga tidak konsekuen melaksanakannya.

Oleh karena itu pada saat kampanye Pemilihan Presiden tahun 2004, saya bersama Pak Jusuf Kalla berjanji bahwa jika kami berdua mendapatkan amanah untuk memimpin Indonesia, kami bertekad untuk menyelesaikan konflik Aceh secara damai. Dengan terjadinya bencana tsunami ini, saya punya keyakinan bahwa Allah memberikan jalan bagi berakhirnya konflik yang telah banyak merenggut koran jiwa itu. “New window of opportunity is widely open.”

Keadaan Banda Aceh Lebih Memilukan

Esok harinya, 28 Desember 2004, saya sudah mendarat di Banda Aceh. Keadaan lebih menyedihkan lagi. Sepertinya semuanya rata dengan tanah. Kecuali sejumlah masjid, termasuk masjid Baiturrahman.

Saya segera berkeliling Banda Aceh. Rombongan sempat berhenti ketika dihadapan kami ada ratusan jenazah. Saya mengajak untuk berdoa kepada Allah, agar para syuhada itu diterima disisiNya. Menteri Agama Maftuh Basyuni memimpin acara doa itu.

Banda Aceh lengang. Saya temui para korban yang sakit dan luka-luka di Rumah Sakit sementara. Di Bandara sendiri Ibu Ani memeluki banyak sekali anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Tangis ada di mana-mana. Meskipun secara lahiriah saya nampak tegar dan terus memberikan instruksi kepada para Menteri dan Pejabat Daerah, tetapi sesungguhnya hati saya pun menangis. Ujian dan cobaan Allah ini sungguh berat.

Setelah cukup berkeliling dan meninjau langsung daerah-daerah yang paling terdampak, termasuk keadaan masyarakat dan infrastruktur yang rusak berat, saya segera menuju ke Posko Sementara yang bertempat di Pendopo Gubernuran. Di situ, meskipun informasi yang yang miliki relatif cukup, tetapi saya persilahkan pejabat yang ada di Posko untuk menyampaikan laporan dan penjelasaannya. Sejumlah tokoh masyarakat yang turut hadir juga saya persilahkan untuk bicara. Memang semuanya amat emosional. Bingung, sedih dan seperti tidak tahu apa yang harus dikerjakan.

Dalam situasi seperti itulah ~ sebagaimana yang telah saya perkirakan ketika saya berada di Lhokseumawe ~ saya harus memberikan instruksi dan arahan secara teknis. Sama sekali saya tidak berbicara yang sifatnya nasional dan strategis. Betul-betul operasional dan teknis. Persis seperti seorang Bupati, atau Dandim, ataupun Kapolres memberikan pengarahan kepada komandan-komandan bawahannya. Pertimbangan saya, kehidupan lokal yang lumpuh harus digerakkan dulu. Kepercayaan mereka harus mulai dibangkitkan. Mereka harus tahu ada Presiden, Menteri dan pejabat lain yang datang untuk mengatasi masalah dan membantu mereka semua. Medan yang saya masuki adalah medan psikologis dan kondisi mental yang mengalami goncangan. Itu yang paling diperlukan.

Di Lhokseumawe saya berjanji bahwa setelah meninjau Banda Aceh akan segera saya tetapkan status bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh dan Nias itu. Di situlah secara lisan saya sampaikan status bencana yang terjadi itu berupa Bencana Nasional. Dengan demikian siapa berbuat apa dan siapa bertanggung jawab tentang apa menjadi jelas. Juga menyangkut penggunaan dan penyaluran anggaran negara.

Satu lagi, yang juga telah ada dalam pikiran saya, di Banda Aceh lah saya ulangi seruan saya agar Pemerintah dan GAM dapat duduk bersama untuk mencari jalan bagi pengakhiran konflik. Atas pertolongan Allah, nampaknya jalan itu terbuka cukup lebar. Sejarah mencatat bahwa hanya dalam waktu 8 bulan akhirnya konflik Aceh bisa kita selesaikan secara damai dan bermartabat.

Sejumlah Persoalan Pelik Menghadang

Barangkali ada yang mengira bahwa setelah tsunami Aceh dan Nias saya tetapkan sebagai bencana nasional, setelah operasi tanggap darurat saya putuskan untuk segera dilakuan dan setelah TNI, Polri dan unsur-unsur tanggap darurat lain saya instruksikan untuk dikerahkan semaksimal mungkin, tidak ada lagi persoalan yang berarti. Hal begitu keliru. Ternyata ada sejumlah persoalan pelik dan rumit yang harus dipecahkan. Dalam tatanan manajemen pemerintahan, utamanya manajemen krisis, sebagai Presiden saya memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar. Tugas dan tanggung jawab ini harus saya ambil secara penuh dan tidak mungkin saya delegasikan kepada siapapun.

Di bawah ini akan saya kedepankan sejumlah persoalan pelik yang dihadapi oleh jajaran pemerintah.

= Pemerintahan Daerah benar-benar lumpuh.
= Logistik boleh dikatakan nol.
= Alutsista TNI sangat kurang, akibat embargo & sanksi.
= Konflik bersenjata dengan GAM masih berlangsung.
= Ada penolakan terhadap bantuan internasional, termasuk militernya.
= Badan penanggulangan bencana belum terbentuk.
= Undang-Undang penanggulangan bencana belum ada.
= Anggaran APBN 2004 tidak tersedia untuk tanggap darurat tsunami Aceh dan Nias.

Sebagian dari persoalan itu meskipun pelik tetapi ada solusi yang dapat dilakukan. Tetapi, sebagian dari persoalan itu memang rumit, penuh risiko dan “politiknya” juga tinggi. Oleh karena itu, pemerintah mengambil posisi dan kebijakan yang intinya untuk memastikan bahwa semua bentuk operasi tanggap darurat dapat dilaksanakan, termasuk kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi setelah tahapan tanggap darurat selesai dilakukan.

Paling tidak ada 4 persoalan kritikal yang memerlukan pelibatan dan keputusan saya secara langsung. 4 hal itu adalah (1) penggunaan APBN untuk operasi tanggap darurat; (2) kebijakan terhadap bantuan internasional; (3) kehadiran dan pelibatan militer asing; dan (4) tindakan penghentian operasi militer menghadapi GAM.

Secara singkat akan saya elaborasi keempat hal itu.

Pertama, untuk mendapatkan alokasi anggaran yang cukup besar, pemerintah bekerja maraton dengan DPR RI untuk mendapatkan persetujuan penggunaan anggaran dimaksud. Saya berpendapat meskipun di kala krisis segalanya harus cepat, tetapi aturan undang-undang dan “governance” tidak boleh ditabrak. Meskipun tetap alot, tetapi karena kedua belah pihak alhamdulillah memiliki “sense of crisis” yang relatif sama, anggaran itu dapat disediakan dan kemudian disalurkan.

Kedua, banyak tawaran bantuan dari negara-negara sahabat. Jumlahnya besar, dan saya kira angka yang paling besar yang diterima oleh sebuah negara di abad ke-21 ini. Persoalannya adalah selalu ada pro dan kontra di dalam negeri. Tetapi, tanpa ragu-ragu saya memutuskan untuk menerima bantuan itu demi masyarakat Aceh dan Nias yang amat menderita. Saya juga berjanji untuk mengelola anggaran itu secara transparan dan akuntabel, serta bebas dari korupsi. Komitmen dan “pledging” internasional itu mengalir dan dalam jumlah yang besar setelah pemerintah berhasil menyelenggarakan Konferensi Internasional yang kemudian disebut dengan Tsunami Summit. Di situ saya paparkan tentang skala kerusakan yang terjadi, termasuk jumlah korban jiwa yang tewas dan hilang. Setelah itu saya persilahkan jika ada pihak-pihak yang secara ikhlas dan tanpa syarat ingin membantu Indonesia. Berkali-kali saya ucapkan bahwa “Indonesia tidak meminta-minta, tetapi jika ada bantuan kemanusiaan tentu kami terima”. Besaran kontribusi internasional untuk Indonesia itu mencapai sekitar 7 milyar dolar AS.

Ketiga, banyak sekali kontingen militer negara sahabat yang telah berada di sekitar Aceh dan Nias, dan juga yang telah bersiap di negaranya untuk segera berangkat ke Indonesia. Persoalannya, sebagaimana halnya bantuan internasional, ada yang alergi dan bahkan menolak kehadiran militer asing tersebut. Alasannya bermacam-macam. Katanya Indonesia, khususnya Aceh, akan menjadi sasaran intelijen asing. Juga dikhawatirkan tentara asing itu akan membantu GAM. Dan masih ada sejumlah alasan. Dengan tegas saya katakan kekhawatiran itu tidak perlu ada. Di dunia ini tindakan membangun sebuah negara yang mengalami musibah bencana alam itu amat biasa. Atas dasar itu, dengan tegas saya mengizinkan kehadiran kontingen tentara negara sahabat itu dengan catatan mereka tetap dibawah kendali Indonesia, khususnya pemerintah dan pimpinan TNI.

Ternyata apa yang dilakukan oleh tentara asing itu amat menguntungkan kita. Alutsista dan perlengkapan untuk mengatasi bencana lebih lengkap. Mereka banyak membantu pelaksanaan operasi tanggap darurat. Tidak ada yang melakukan operasi intelijen. Tidak ada yang membantu GAM. Bahkan mereka memiliki pandangan yang baik terhadap TNI kita yang dinilai profesional, bersahabat dan tidak ada wajah represif sebagaimana yang dicitrakan selama ini.

Keempat, berkenaan dengan situasi keamanan di Aceh sendiri. “De facto” konflik bersenjata masih ada. Oleh karena itu secara sungguh-sungguh saya melakukan analisis dan kalkulasi. Akal sehat dan keyakinan saya mengatakan tidak mungkin GAM akan melakukan serangan-serangan terhadap TNI maupun tentara asing. Kalau itu dilakukan istilahnya mereka “bunuh diri”. Itulah yang mendasari pertimbangan saya agar TNI sementara menghentikan operasi militernya dan kemudian fokus pada operasi tanggap darurat. Kecuali kalau TNI diserang, saya instrusikan untuk dilakukan pembalasan dan pengejaran sampai dapat. Tentu keputusan, kebijakan dan instruksi saya ini tinggi risikonya. Saya bisa salah. Tetapi keputusan itu tetap saya ambil. Adalah sejarah yang mencatat bahwa tidak terjadi serangan GAM, baik terhadap TNI maupun kontingen militer asing, selama pelaksanaan operasi tanggap darurat.

Sebelumnya telah saya katakan bahwa semua keputusan, kebijakan dan tindakan yang saya ambil ini ada pro dan kontranya. Risikonya pun tinggi. Tetapi, sekali lagi harus saya ambil dan lakukan. Dalam hal ini saya terus bersinergi dan berbagai pekerjaan dengan Wapres Jusuf Kalla. Pak JK cukup kontributif, banyak inisiatif dan sungguh membantu saya sebagai Kepala Pemerintahan. Peran dan jasa Panglima TNI, Kapolri dan Kasad juga besar. Bahkan saya saksikan sendiri Kasad, waktu itu Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, sangat aktif memimpin operasi pengumpuan ribuan jenazah serta pembersihan kota dari material dan sampah tsunami yang menggunung. Gubernur Sumatera Utara juga amat besar jasanya ~ (alm) Teuku Rizal Nurdin. Demikian juga para Gubernur lain yang juga menunjukkan solidaritasnya. Juga para donatur dan masyarakat luas.

Refleksi Seperti Apa yang Kita Dapatkan?

Bicara refleksi amat banyak yang dapat kita tulis. Banyak drama dan cerita yang memilukan. Banyak keajaiban, yang tiada lain karena pertolongan Allah SWT. Banyak kejadian yang sepertinya tidak mungkin, tetapi menjadi mungkin. Ambillah sebuah contoh. Seorang anak, Martunis, yang terapung sekitar 2 minggu bisa selamat. Tsunami Summit yang dihadiri oleh Sekjen PBB Kofi Annan dan banyak kepala negara asing yang kita siapkan hanya selama satu minggu, yang biasanya memerlukan waktu satu tahun, berhasil dengan gemilang.

Kalau mau diceritakan barangkali seminggu belum selesai. Kalau mau ditulis barangkali sepuluh buku belum cukup.

Tetapi, yang jelas, sebagai seorang yang selalu berpikir positif, bersikap optimis dan yakin bahwa selalu ada solusi terhadap persoalan sepelik apapun, saya merasa mendapatkan banyak himah dan pelajaran yang amat berharga. Dengan penuh rasa syukur dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang dengan ihlas dan sungguh-sungguh ikut mengatasi musibah tsunami Aceh dan Nias yang lalu, saya ingin berbagi kabar gembira. Yang saya maksudkan, ternyata negeri ini, kita semua, telah mampu mengubah krisis menjadi peluang. Juga telah mampu mengubah musibah menjadi hikmah dan berkah.

Seperti yang menjadi judul tulisan saya yang sederhana ini ~ Dari Duka Kita Bangkit ~ saya ingin menyebut 10 capaian baik yang patut kita syukuri bersama.

1. Tanggap darurat berhasil baik, rehabilitasi dan rekonstruksi pun sukses
2. Konflik Aceh bisa diselesaikan
3. Embargo dan sangsi militer dicabut, tentu dengan upaya kita
4. Indonesia menerima bantuan internasional yang relatif besar
5. Kinerja dan “governance” BRR pimpinan Dr. Kuntoro dipuji dunia
6. Early warning system & teknologi kebencanaan akhirnya kita miliki
7. Kita punya UU Penanggulangan Bencana
8. Kita punya BNPB ~ Pusat & Daerah yg makin kapabel dan kredibel
9. Solidaritas ~ baik internasional & maupun nasional ~ kini menjadi “rules”
10.Kita terbiasa menjalankan manajemen & kepemimpinan di kala krisis

Masih seputar refleksi, bagi saya pribadi banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan. Kalau saya bagikan perasaan dan pengalaman ini kepada para sahabat, tiada lain jika para sahabat mengalami hal yang sama, barangkali pengalaman saya ini ada gunanya untuk diketahui.

Memimpin upaya mengatasi dan menangani bencana tsunami Aceh dan Nias adalah ujian pertama yang saya hadapi sebagai Presiden. Jika saya gagal, barangkali akan gagal lah selamanya menjadi Presiden. Banyak keputusan, kebijakan dan tindakan saya yang berisiko tinggi. Sangat mungkin saya salah dan gagal. Dalam mengatasi dan mengelola krisis, baik tatanan sistem dan manajemen maupun tindakan cepat di lapangan sama pentingnya. Pemimpin itu tidak pernah sepi dari kritik dan kecaman, sebagaimana yang saya terima ketika menangani tsunami Aceh dan Nias dulu, tetapi saya harus tetap bekerja. Dalam keadaan seperti itu ada sebagian yang keras berkomentar miring tetapi tergolong “do nothing”. Biarkan hal itu tetap terjadi karena kita tidak dapat meniadakannya, yang penting teruslah berikhtiar. Saya kira masih banyak lagi. Mari kita terus belajar dan pandai mengambil hikmah. Tidakkah hidup ini universitas yang abadi?

Menutup tulisan ini saya ingin mengulangi kata-kata saya yang sering saya sampaikan jika kita melakukan refleksi tentang tsunami Aceh dan Nias. Banyak saudara-saudara kita di Aceh dan Nias, termasuk anak-anak waktu musibah itu terjadi, yang telah kehilangan masa lalunya. Jangan biarkan mereka kehilangan masa depannya. Mari kita peduli dan berbagi kepada mereka, agar mereka memiliki masa depan yang baik.

Little Rock, 26 Desember 2014

Lima Pemahaman Salah tentang Tsunami yang Harus Anda Koreksi

Sepuluh tahun berlalu sejak kejadian tsunami mematikan di Aceh 26 Desember 2004. Bagaimana kejadian memilukan saat itu mengajari Anda tentang kesiapsiagaan terhadap gempa dan tsunami?

Momen satu dasawarsa tsunami Aceh Jumat (26/12/2014) hari ini adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan pengetahuan pada dua bencana geologi itu, waktunya untuk mengoreksi beberapa pemikiran yang kurang tepat tentangnya. Apa saja?

Gempa yang tak terasa keras takkan menimbulkan tsunami

Salah. Gempa yang tak terasa keras belum tentu tidak menimbulkan tsunami. Sebaliknya, belum tentu pula gempa yang terasa keras pasti menimbulkan tsunami.

Contoh, gempa di Simeuleu, Aceh, pada 15 April 2012. Gempa kembar terjadi dengan magnitudo cukup besar, 8,5 dan 8,1. Tapi, tsunami yang ditimbulkan kecil.

Terungkap, gempa ternyata tidak bersumber dari zona subduksi (pertemuan lempeng). Gempa juga dangkal serta mekanisme gerakan patahannya lebih miring.

Sementara itu, contoh gempa yang tak terasa keras tetapi menimbulkan tsunami adalah gempa Pangandaran pada tahun 2006 dan gempa Mentawai pada tahun 2010.

Pakar tektonik dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano, mengungkapkan bahwa gempa di Pangandaran dan Mentawai termasuk “gempa tsunami” atau “gempa lamban”.

“Gempa tsunami” terjadi bila pusat gempa dangkal, berdekatan dengan palung, serta dekat dengan daratan.

Wilayah pada zona tersebut biasanya memiliki rigiditas tinggi serta kaya sedimen. Goncangan gempa memang tak terasa tetapi tsunami-nya bisa tinggi.

Instrumen peringatan dini sangat penting untuk mengetahui “gempa tsunami”. Gempa ini sulit ditebak hanya dengan sense.

Hanya Pulau-pulau Indonesia yang Menghadap Pasifik dan Hindia yang rawan tsunami

Memang, pulau-pulau yang tak menghadap langsung ke pasifik dan Hindia punya risiko lebih rendah terdampak tsunami. Namun, tak sepenuhnya benar.

Studi Irwan menemukan bahwa aktivitas di zona subduksi di bagian barat Sulawesi pernah menghasilkan tsunami yang mencapai wilayah Balikpapan, Kalimantan Timur.


Kalimantan bebas risiko gempa dan tsunami

Salah. Belum banyak penelitian tentang potensi gempa di Kalimantan sehingga belum bisa dipastikan juga apakah pulau itu memang bebas dari ancaman gempa.

Salah juga mengatakan bahwa Kalimantan bebas dari ancaman tsunami. Kajian peneliti tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, menunjukkannya.

Widjo mengatakan, berdasarkan kajian pada tahun 2010, aktivitas subduksi ganda antara Sulawesi Utara dan Maluku berpotensi menimbulkan gempa bermagnitudo 8,1.

Gempa itu diprediksi bisa menimbulkan tsunami. Bukan hanya wilayah Sulawesi dan Maluku saja yang akan terdampak, tetapi juga Kalimantan.

Wilayah Kalimantan yang berpotensi terdampak tsunami antara lain Kutai Timur, Berau, Nunukan, dan Bulungan.

Tsunami skala sedang bisa menerjang 2-2,5 jam setelah gempa. Ketinggian 0,5 – 1 meter di perairan dangkal dan mencapai 2 kali lipatnya di pantai.

Dampak tsunami bisa parah mengingat kawasan pesisir Kalimantan adalah urat nadi ekonomi. Di samping itu, kesiapsiagaan masih minim.

Dari 4.500 km panjang pantai rawan tsunami hanya ada 38 sirine tsunami dari kebutuhan 1.000 sirine. Shelter evakuasi hanya ada 50 unit dari kebutuhan 2.500 unit.

Subduksi ganda di antara Sulawesi Utara dan Maluku sendiri punya aktivitas seismik tinggi. Dalam rentang waktu 1600 – 2007, ada 2.800 kejadian gempa dan 10 tsunami.

Jarak tsunami satu dan berikutnya pasti ratusan tahun

Tidak tepat. Tsunami yang bersumber dari subduksi yang sama mungkin berjarak ratusan tahun. Tetapi, bisa saja satu kota terdampak tsunami berkali-kali dalam hitungan tahun.

Kota Sendai di Jepang beberapa kali terdampak tsunami dalam jeda waktu singkat. Sumber gempa yang mengakibatkan tsunami berbeda.

Wilayah barat Sumatera memiliki sumber gempa lautan yang banyak. Jadi, satu kota di wilayah itu juga bisa terdampak tsunami berkali-kali.

Meskipun Aceh pernah terdampak tsunami besar pada tahun 2004, bukan berarti kota serambi Mekkah itu baru bisa terdampak tsunami ratusan tahun kemudian.

Aceh bersama Padang dan Mentawai bisa saja terdampak tsunami dari sumber gempa yang berbeda. Jadi, harus tetap waspada.

Tanggul laut pasti bisa melindungi diri dari tsunami

Salah. Secara umum, memang dikatakan bisa. Tapi, seperti halnya teknologi pada umumnya, tetap ada keterbatasan.

Tanggul laut memiliki keterbatasan pada ketinggian dan kekuatan. Bila tinggi gelombang tsunami rendah, tanggul laut memang bisa melindungi.

Kasus gempa bermagnitudo 9 pada 11 Maret 2011 di Jepang adalah bukti bahwa tanggul laut tidak dapat melindungi 100 persen. Ketinggian gelombang lebih tinggi dari tanggul laut.

Inilah pentingnya perencanaan tata ruang dan memilih hunian di kawasan yang relatif jauh dari lautan.

Mengenang Sahabat yang Hilang Bersama Gelombang

Setiap tanggal 26 Desember, ingatan Mohammad Hamzah, wartawan Suara Pembaruan di Banda Aceh, seperti diputar ulang. Dia tak pernah lupa percakapan terakhirnya dengan sang sahabat, wartawan Kompas, Nadjmuddin Oemar.

Minggu pagi itu, persis 10 tahun lalu, seperempat jam setelah gempa berkekuatan 9,3 skala Richter mengguncang Aceh. Hamzah masih berdiri di halaman rumah dengan kebingungan ketika telepon genggamnya berdering.

Nama Nadjmuddin terpampang di layar. ”Hai kabudoeh peu kaeh lom,” kata Nadjmuddin dengan nada bercanda mengingatkan Hamzah agar lekas bangun dan jangan tidur lagi.

Hanya satu kalimat, setelah itu terputus. Bahkan, Hamzah pun tak sempat mengiyakan. ”Saya coba telepon dia, tetapi tidak nyambung,” kisah Hamzah. Perasaannya galau, tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Tak berselang lama, Hamzah mendengar teriakan panik bersahutan, ”Air! Air! Air! Air…!” Keriuhan itu berbarengan dengan suara langkah kaki orang yang berhamburan dari belakang rumahnya, dari arah laut.

”Kebakarankah?” pikir Hamzah. Di Aceh kala itu, teriakan air identik dengan kebakaran. Secara refleks Hamzah memanjat dinding rumahnya, mencari tahu di mana kebakaran itu.

Dari kejauhan ia melihat air hitam bergelombang, bergulung-gulung, menelan rumah warga hingga ke atap. Seketika dia turun, lari sekuat-kuatnya ke jalan besar, hanyut dalam kerumunan orang yang kebingungan.

Dari arah belakang, air bergulung mengejarnya, menelan apa dan siapa saja. Entah sudah berapa ratus meter ia berlari ketika bertemu teman yang hendak mengantarkan sepeda motornya yang dipinjam. ”Saya langsung menyuruhnya memutar balik ke arah Simpang Jeulingke,” kisahnya.

Hamzah menemukan istrinya, sejarak 800 meter dari rumah. Berjejalan mereka naik sepeda motor. Dia panggul kedua anaknya. Istrinya duduk di belakang bersama keponakan. ”Saya tak tahu bagaimana bisa naik sepeda motor berenam. Itu keajaiban,” ujarnya.

Hamzah yang tinggal 300 meter dari bibir pantai akhirnya selamat dari gempa dan tsunami. Sementara Najmuddin, yang tinggal di Kajhu, menghilang bersama sekitar 160.000 warga Aceh lainnya.

Hamzah mengaku selamat karena kebetulan. Dia tak pernah mengantisipasi kemungkinan tsunami, sebagaimana kebanyakan warga Aceh lainnya, sekalipun goyangan gempa sangat dikenal warga, sedekat desing peluru dan dentum bom selama 30 tahun konflik bersenjata.

Hingga sebelum gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 itu, tak sekali pun kabar di media massa mengungkap ancaman tsunami di Aceh. Inilah dosa berjemaah antara ilmuwan, pemerintah, dan pekerja media yang alpa mengingatkan warga untuk bersiaga.

Bayangan tentang negeri yang dibelit Cincin Api Pasifik—zona terjadinya 80 persen gempa dan tsunami paling mematikan di Bumi—saat itu masih jauh dari benak masyarakat Aceh, bahkan masyarakat Indonesia.

Kehidupan baru

Kamis (25/12/2014) malam, satu dekade setelah bencana itu. Dari jendela pesawat yang perlahan turun, Kota Banda Aceh terlihat gemerlap. Kerlip cahaya juga terlihat sepanjang garis pantai, memberikan sinyal kehidupan baru telah bersemi.

Rumah kembali memadati kota pesisir ini, melebihi sebelum 2004. Bangunannya lebih megah. Jalanan pun lebih mulus.

Masih terbayang betapa kota ini pernah sedemikian sunyi. Saat itu seminggu setelah tsunami, di jalan menuju pinggir pantai Kajhu, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Tak ada suara manusia ataupun binatang. Hanya debur ombak yang pelan memukul pantai dan desau angin yang sayup.

Puing-puing bekas bangunan dan ranting patah yang berserak tertutup pasir lembut. Air laut seperti telah mencuci bersih daratan lalu membawa pergi semua penghuninya.

Hingga sebelum tsunami datang menggulung, di kawasan inilah Nadjmuddin Oemar dan keluarga tinggal. Suatu waktu pada pertengahan November 2004, sebelum laut berkhianat, Nadjmuddin mengajak menyusuri jalanan di kampungnya.

Pantai itu sesak dengan kehidupan. Rumah berimpitan, persis dengan kondisi saat ini. Anak-anak bermain di pantai, di antara laju perahu nelayan. ”Aceh harus damai, entah kapan,” katanya saat itu.

Nadjmuddin melewati ketegangan dan bahaya meliput konflik Aceh dengan senyum ramahnya yang khas sekalipun namanya masuk dalam laporan Reporters Without Borders (2002) sebagai salah satu wartawan di dunia yang mendapat tekanan dari aparat keamanan. Tetapi, nasibnya digariskan berakhir oleh amuk laut.

Dia tak pernah menduga, di kedalaman Samudra Hindia, sebuah daya telah dikumpulkan dalam bilangan abad demi abad. Dua lempeng, Indo-Australia dan Eurasia, terus bergerak. Saling tekan, hunjam, dan mengunci. Hingga tiba-tiba bebatuan itu patah, satu menit menjelang pukul 08.00, Minggu, 26 Desember 2004.

Gempa dahsyat tercipta. Salah satu yang terkuat yang tercatat dalam hikayat. Guncangan itu mengocok miliaran ton air laut dalam, memunculkan gelombang raksasa dan melumatkan daratan Aceh setengah jam kemudian. Tsunami!

Nadjmuddin tak pernah ditemukan lagi sejak itu. Dua puluh enam wartawan Aceh lain hilang atau meninggal akibat tsunami. Nyaris tidak ada orang Aceh yang tak kehilangan saudara atau sahabat.

Namun, bagi Aceh, tsunami bukan hanya kematian. Hanya delapan bulan setelah bencana itu, perang pun berakhir. Itulah kuasa lain bencana alam dalam mengubah laju peradaban.

Satu dekade setelah tsunami, ingatan tentang tsunami mulai kabur. Barangkali Milan Kundera benar saat mengatakan, ”…pembantaian massal di Banglades dengan cepat menutupi ingatan orang terhadap invasi Rusia ke Cekoslowakia, pembunuhan di Allende menggantikan tragedi Banglades, perang di Sinai membuat orang melupakan Allende, pembantaian di Kamboja membuat orang lupa pada Sinai, begitu seterusnya, hingga segala sesuatunya dilupakan.

Namun, tsunami Aceh tak boleh dilupakan. Lebih penting lagi, tragedi itu mesti membuat kita terus belajar jadi bangsa lebih kuat dan senantiasa bersiaga karena, hanya soal waktu, laut akan kembali datang menyerbu daratan di negeri ini.

Catatan:
Tulisan ini sebelumnya telah tayang di Harian Kompas edisi Jumat (26/12/2014), dengan judul Ziarah ke Aceh, Mengenang Sahabat

Jejak Tsunami dalam Manuskrip Kuno

Selain jejak geologis yang terdapat di dalam tanah Aceh, informasi tentang kejadian gempa dan tsunami pada masa lalu banyak terdapat dalam manuskrip kuno. Pada 2006, Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara Oman Fathurahman menemukan catatan tangan di sampul sebuah manuskrip asal abad ke-19 di Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar.

Catatan dalam bahasa Arab itu menyebutkan, pernah terjadi gempa besar untuk kedua kali pada pagi hari, Kamis, 9 Jumadil Akhir 1248 Hijriah atau 3 November 1832. Angka tahun 1248 Hijriah atau 1832 Masehi ini menjadi amat menarik karena menurut sejumlah catatan penjelajah Barat, gempa dan tsunami pernah melanda pantai barat Sumatera pada 24 November 1883.

”Bisa jadi itu gempa berbeda, tetapi ini membuktikan Aceh kerap dilanda gempa besar,” kata Oman, ahli filologi dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Sebelumnya, pada 2005, Oman juga menemukan naskah ”takbir gempa” yang tersimpan di Perpustakaan Ali Hasjmy, Banda Aceh. Naskah anonim itu dibuat sekitar abad ke-18, tiga abad sebelum tsunami melanda Aceh.

Catatan di manuskrip itu memaparkan kejadian yang akan mengikuti gempa bumi dalam rentang waktu dari subuh hingga tengah malam, dalam 12 bulan. Di salah satu bagiannya disebut, ”Jika gempa pada bulan Rajab, pada waktu subuh, alamatnya segala isi negeri bersusah hati dengan kekurangan makanan. Jika pada waktu duha gempa itu, alamatnya air laut keras akan datang ke dalam negeri itu….”

Dengan benderang, naskah ini menggambarkan gempa bisa memicu naiknya air laut hingga ke daratan. Naiknya air laut itulah yang kini dikenal dengan tsunami. Namun, jauh sebelumnya, orang Aceh juga memiliki kosakata ïe beuna atau air bah besar dari laut. Namun, kata ini tak lagi dipakai hingga kejadian tsunami 2004.

Sementara itu, filolog dari IAIN Ar Raniry, Banda Aceh, Hermansyah, menemukan Naskah Gempa dan Gerhana Wa-Shahibul dalam kitab Ibrahim Lambunot, koleksi Museum Negeri Aceh. Naskah itu menyebutkan tentang smong yang terjadi pada 1324 H atau 1906 M.

Smong adalah bahasa Simeulue yang berarti naiknya air laut setelah gempa. Di Pulau Simeulue, pengetahuan tentang smong ini masih lestari dan terbukti menyelamatkan warga saat tsunami 2004. Meski ribuan rumah di pulau itu rusak diterjang tsunami, korban tewas ”hanya” tujuh orang.

Begitu gempa melanda, warga spontan berteriak smong dan semua berhamburan ke atas bukit. Warga Simeulue mengingat, smong terjadi di pulau mereka pada 1907 atau setahun setelah catatan dalam kitab Ibrahim Lambunot itu. Berturut-turut, manuskrip kejadian gempa pada masa lalu ditemukan di sejumlah daerah lain.

Di Sumatera Barat, filolog dari Universitas Andalas, Zuriati, menemukan Takwil Gempa di Lubuk Ipuh dan Malalo. Naskah ini mirip Takbir Gempa dari Aceh. Adapun di Perpustakaan Nasional, Jakarta, tersimpan naskah Ramalan Gempa. Naskah sejenis tersimpan di The Delf Collection, Belanda. Naskah itu berjudul Kitab Ta’bir dan mengandung sejumlah teks, meliputi takbir mimpi, takbir kusyuf alkamar wa asy-syams (gerhana bulan dan matahari), dan takbir lindu (gempa bumi).

”Sedikitnya 15 naskah sejenis takwil gempa telah ditemukan,” kata Oman. Ini menunjukkan gempa dan tsunami banyak terjadi dan direkam masyarakat pada masa lalu. (AHMAD ARIF)

Pelajaran Bencana Sepuluh Tahun Lalu

Hari ini pemerintah memperingati bencana besar tsunami yang terjadi di Provinsi Aceh sepuluh tahun lalu. Peringatan berlangsung syahdu dengan iringan doa. Bencana tersebut menyisakan sejumlah pelajaran penting bagi bangsa Indonesia.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengatakan, peringatan tsunami digelar untuk menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran yang berharga. Bencana tersebut memberikan kesempatan refleksi bagi semua pihak agar sadar dengan bencana. ”Bencana ini bukan yang pertama terjadi, melainkan pernah terjadi sebelumnya di Simeuleu,” kata Zaini saat berpidato di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Jumat (26/12) pagi.

Saat ini pun bencana masih mendera Aceh, yaitu banjir di Aceh Tengah, Aceh Timur, Aceh Utara, dan Bieureun.

”Bencana itu juga membangkitkan kepedulian dunia internasional untuk membantu Aceh. Semangat rakyat Aceh yang nyaris habis ketika itu kembali membubung tinggi,” kata Zaini.

Atas kepedulian itu, rakyat Aceh melalui Wali Nanggroe Malik Mahmud dan Gubernur Aceh Zaini Abdullah memberikan penghargaan tertinggi untuk 35 negara sahabat. Penghargaan itu diberikan atas jasa mereka dalam membantu rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca tsunami. Adapun nama penghargaan itu adalah Sri Paduka Tuan Seberang dan Pakuta Alam.

Zaini mengatakan, kehadiran negara-negara sahabat memberikan semangat kepada rakyat Aceh. Rakyat Aceh merasa tidak sendirian menghadapi bencana besar itu.

Bencana itu juga menyadarkan agar pemangku kepentingan tetap menjaga lingkungan. Hal ini pula yang membuat Pemerintah Aceh memasukkan isu lingkungan sebagai program utama pembangunan.

Peringatan sepuluh tahun bencana tsunami di Aceh dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri Kabinet Kerja, antara lain Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri Energi Sumber Daya Mineral Sudirman Said, Menteri Agraria dan Tata Ruang Ferry Mursyidan Baldan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi, dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.

Acara diawali dengan tabur bunga di Kuburan Massal Siron, Banda Aceh. Di tempat tersebut, Kalla, Zaini, dan semua yang hadir memanjatkan doa untuk korban tsunami. Kalla datang bersama Ibu Mufidah Kalla didampingi Gubernur Aceh dan Ibu Niazah Zaini Abdullah. Acara lalu dilanjutkan di Lapangan Blang Padang mulai pukul 09.00 hingga pukul 10.45.

Di tempat ini, panitia menayangkan tayangan video seputar bencana yang terjadi ketika itu. Acara juga diisi penampilan seniman Raffi dan penyair Taufik Ismail yang membuat suasana semakin sahdu. Beberapa hadirin menitikkan air mata ketika penayangan video tersebut.

Kalla termasuk yang meneteskan air mata ketika peringatan sepuluh tahun tsunami Aceh. Menurut Kalla, kesedihan akibat bencana itu sulit dilupakan. Kepedulian yang muncul setelah bencana terjadi juga luar biasa besarnya dari dalam maupun luar negeri.

Tsunami Aceh terjadi pada 26 Desember 2004, dipicu gempa bumi berkekuatan 9,3 skala
Richter. Dalam catatan Kalla, sekitar 200.000 orang meninggal karena peristiwa ini. Pemerintah Indonesia membutuhkan Rp 30 triliun untuk merekonstruksi Aceh. Tsunami, tulis Kalla,
dianggap sebagai bencana sekaligus hikmah bagi bangsa Indonesia.

Bencana ini membangkitkan solidaritas dan empati kepada sesama anak negeri. Bersamaan dengan selesainya masa tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi Aceh, dicapai pula kesepakatan perdamaian antara RI dan pihak Gerakan Aceh Merdeka. Kesepakatan itu tercapai kurang dari setahun bencana tsunami, yaitu 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.

”Sepertinya persatuan kita semakin kuat ketika sedih dibanding saat senang. Karena itu, mari kita jaga terus persatuan bersama,” kata Kalla.

Setelah shalat Jumat, Kalla meninjau Pameran Kebencanaan dan melihat Museum Tsunami Aceh. Sekitar pukul 15.30, Kalla akan menghadiri peluncuran buku Ombak Perdamaian; Inisiatif dan Peran JK Mendamaikan Aceh yang ditulis oleh Fenty Effendy.

Gubernur Aceh: Terimakasih Dunia!

Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengucapkan terimakasih kepada dunia internasional yang telah membantu Aceh bangkit dari keterpurukan pasca bencana gempa dan tsunami sepuluh tahun lalu.

“Rp 140 triliun didapat Aceh untuk merehabilitasi dan merekontruksi kembali kondisi daerah yang hancur dan ini dibantu oleh dunia, ini adalah bentuk solidaritas yang luar biasa,” ujar Zaini Abdullah saat memberi sambutan pada Hari Puncak Peringatan 10 Tahun Aceh Pasca Tsunami, Jumat (26/12/2014).

Bentuk dukungan dari negara-negara donor, lanjut Zaini, sudah memberi rasa optimisme dan semangat bagi masyarakat Aceh, sehingga masyarakat kini sudah bangkit kembali meski tak bisa melupakan tragedi yang sudah menghancurkan kehidupan masyarakat.

“Peringatan ini juga bukan bertujuan membuka duka dan luka, tapi menjadikan releksi bagi kita semua akan makna kebersamaan, persahabatan dan kekompakan yang menjadi sebuah kekuatan besar bagi masyarakat,” ujar Zaini.

Dalam kesempatan ini, pemerintah Aceh turut menyerahkan penghargaan Meukuta Alam, kepada 35 negara donor yang ikut membantu Aceh bangkit dari keterpurukan.

Artikel Dino Patti Djalal tentang SBY dan Tsunami Aceh

Presiden RI ke-enam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menulis kisah peristiwa tsunami Aceh yang terjadi 10 tahun lalu. Melalui akun Facebook miliknya, ia membagi tulisan karya Dino Patti Djalal dalam buku Harus Bisa dengan judul ‘Dalam Krisis, Pemimpin Harus Selalu Berada di Depan’. Berikut kisahnya:

Pagi itu, tanggal 26 Desember 2004, satu hari setelah Natal, bermula sebagai hari yang biasa. Di, Nabire, Papua, rakyat sedang siap-siap melepas Presiden SBY dan Ibu Ani, yang semalam sebelumnya tidur di tenda setelah memberi bantuan kepada para korban gempa bumi. Di Pantai Meulaboh, Aceh, sejumlah orang tua membawa anak-anaknya bermain di pantai disiram sinar matahari yang lembut. Di Jayapura, Pemda dan rakyat sedang mempersiapkan perayaan Natal malam itu bersama Presiden SBY, yang akan menampilkan penyanyi cilik Papua yang menakjubkan.

Saya sendiri akan selalu teringat hari itu karena pesawat yang saya tumpangi bersama tim aju Paspampres sempat menukik sampai 2 meter di atas permukaan laut – saya bahkan sempat mengucapkan takbir karena yakin pesawat akan jatuh, yang untungnya tidak terjadi karena kemudian pesawat kembali mengudara.

Setibanya di Jayapura, saya segera bergabung dengan rombongan Presiden di kediaman Gubernur. Waktu itu, mulai terdengar berita samar-samar mengenai gempa di Aceh. Staf Presiden umumnya merasa bahwa gempa di Aceh tidak seserius gempa Nabire yang parah. Namun Presiden SBY tidak mau berasumsi tanpa dasar dan meminta agar berita ini di cek dan ricek terus. Beliau terus mendapat laporan dari Wapres, selain dari Kapolri dan Panglima TNI. Saya mulai merasa ada yang agak aneh karena informasi yang datang dari Aceh sangat minim (baru kemudian diketahui bahwa hal ini dikarenakan sistem komunikasi di Aceh lumpuh total).

Tidak lama setelah itu, berita yang masuk berubah: setelah gempa, ada ‘banjir besar’ di Aceh, dan setelah itu berubah lagi, ada ‘tsunami.’ Saya mencatat dua hal: 1] informasi masuk setetes demi setetes namun kualitasnya tidak jelas dan tidak bisa dibuktikan kebenarannya, dan lebih banyak bersifat perkiraan, dan 2] setiap ada informasi baru, selalu lebih buruk dari informasi yang sebelumnya. Sama sekali tidak ada berita baik yang masuk mengenai Aceh.

Malam itu, Presiden tetap hadir dalam acara Natal di Jayapura yang sudah lama dipersiapkan, namun acara dipersingkat, dan atas permintaan Presiden, dimulai dengan mengheningkan cipta dan berdoa bagi para korban di Aceh.

Saya mengamati raut muka Presiden SBY dan kelihatan sekali bahwa benak SBY sangat didominasi oleh bencana di ujung barat Indonesia. Saya yakin SBY pasti frustasi dengan kegelapan informasi (information blackout) yang menyelimuti Aceh.

Isu yang paling menonjol hari itu adalah apa yang harus segera dilakukan Presiden. Ada dua pendapat yang timbul. Pendapat pertama, di mana saya termasuk di dalamnya, adalah bahwa Presiden sebaiknya pulang dulu ke Jakarta, dan jangan ke Aceh. Pertimbangannya bermacam-macam:
• Kondisi korban dan kerusakan di Aceh masih belum jelas;
• Khawatir kedatangan rombongan Presiden akan merepotkan petugas di lapangan;
• Masih belum diketahui apakah ada bandar udara di Aceh dimana pesawat Presiden dapat mendarat;
• Secara politis dan psikologis, akan sulit apabila Presiden mendarat di Aceh sementara bantuan darurat kemanusiaan Pemerintah Pusat belum tiba di Aceh;
• Kedatangan di Jakarta bisa membeli waktu untuk mempersiapkan kunjungan Presiden ke Aceh yang lebih matang.

Dalam suasana yang serba tidak menentu itu, Presiden SBY segera mengambil keputusan: “Ini keadaan yang serius, dan bisa menjadi krisis nasional, oleh karena itu saya harus segera ke depan!”

Presiden segera menugaskan Sekretaris Militer untuk mengatur penerbangan dari Jayapura ke Aceh. Malam itu juga, Presiden menggelar rapat Kabinet darurat di kediaman Gubernur Papua. Jujurnya, malam itu saya masih bertanya dalam hati apakah kepergian Presiden ke Aceh merupakan keputusan yang tepat.

Keesokan paginya, Presiden berangkat meninggalkan Jayapura. Karena pesawatnya kecil, sementara jarak yang harus ditempuh cukup jauh, pesawat Presiden berkali-kali melakukan transit untuk pengisian bahan bakar, di Makasar dan di Batam, sebelum mendarat di Lhokseumawe.

Dalam setiap transit, berita yang masuk semakin memburuk. Angka kematian yang semalam sebelumnya sekitar 60, hari itu naik menjadi ‘seratusan’, ‘ratusan’, dan bahkan ‘ribuan.’ Setiap jam semakin terkuak bahwa ini adalah malapetaka yang maha dahsyat. Saya teringat sewaktu transit di bandara, Presiden sempat menyendiri memeluk dan menenangkan Ibu Ani yang tak kuasa menahan tangis.

Sorenya, Presiden SBY dan Ibu Ani tiba di Lhokseumawe. Di Bandara Lhokseumawe Presiden langsung meminta laporan dari pimpinan Provinsi di antaranya Gubernur, Pangdam, dan Kapolda. Di tempat itulah saya lihat pertama kali Presiden mengeluarkan instruksi yang bersifat operasional untuk melakukan langkah-langkah tanggap darurat. Intinya upaya penyelamatan jiwa penduduk, perawatan korban, SAR, dan bantuan pangan. Tampaknya nalurinya sebagai seorang jenderal mendorongnya mengeluarkan perintah-perintah cepat itu. Semalaman beliau tidak tidur merencanakan strategi dan aksi penanganan bencana yang luar biasa ini.

Keesokan harinya, Presiden SBY tiba di Banda Aceh dan menjadi lebih “shock” melihat kondisi yang sebenarnya di lapangan. Dalam paparan di bandar udara Iskandar Muda oleh Kapolda Bahrumsyah dan Pangdam Endang Suwarya, beliau diberitahu bahwa fungsi pemerintahan praktis tidak berfungsi, karena banyak pejabat daerah yang meninggal atau hilang, kantor-kantor runtuh, sementara jaringan komunikasi – telepon, termasuk telepon genggam – terputus. Sementara itu, kapasitas anggota TNI dan Polri juga terbatas, karena banyak anggota yang juga tewas dan hilang dari sebagian besar perlengkapan – mobil, motor, truk – musnah.

Hari itu, Presiden mengelilingi Banda Aceh, mengunjungi Masjid Baiturrahman, melihat rumah sakit yang penuh dengan pasien, memandang ribuan rumah dan gedung yang hancur, menyaksikan tumpukan mayat yang mulai membusuk.

Beliau juga mengatur rapat di kantor Gubernur, di mana beliau mendapat laporan, dalam suasana yang sangat emosional, mengenai apa yang hancur, apa yang masih tersisa, dan apa yang segera dibutuhkan rakyat Aceh. Tidak ada yang berani memperkirakan jumlah korban yang meninggal karena setiap perkiraan pasti akan dihapus oleh berita-berita buruk berikutnya yang tak kunjung habis.

Perjalanan hari itu membuat saya merasa bagaikan hidup di dunia yang tidak nyata, dunia alam mimpi yang menakutkan. Di suatu tempat yang dikunjungi, saya harus selalu melihat ke bawah sewaktu melangkah karena takut menginjak mayat-mayat yang ditutup koran.

Disinilah terbukti bahwa, keputusan Presiden SBY untuk segera ‘maju ke depan,’ dan tiba di Aceh pada hari ke dua setelah tsunami adalah keputusan yang tepat dan sangat strategis bagi proses pembuatan kebijakan pemerintah setelahnya.

Pertama, SBY dapat melihat sendiri skala kematian dan kerusakan akibat gempa dan tsunami. Beliau melihat sendiri mayat-mayat bergelimpangan di jalan, penderitaan luar biasa ribuan rakyat Aceh yang masih hidup namun kehilangan keluarga dan rumahnya. Beliau melihat sendiri Aceh lumpuh total, dari segi komunikasi, transportasi, listrik, bensin, pelayanan masyarakat, infrastruktur, dan lain sebagainya.

Dengan berada ‘di depan,’ kondisi penderitaan yang luar biasa ini benar-benar masuk ke sukma beliau. Pemahaman seperti ini tidak mungkin didapat beliau kalau hanya membaca laporan tertulis atau mendengar paparan lisan di kantor beliau di Istana.

Kedua, kehadiran Presiden SBY berdampak mengangkat semangat petugas di lapangan yang waktu itu sangat terpukul, baik karena kehilangan keluarganya, kehilangan rekan-rekan mereka, maupun karena mata rantai komando yang tercerai-berai.

Ketiga, walaupun siaran radio, televisi dan telepon lumpuh, kehadiran Presiden penting untuk menunjukkan kepada rakyat Aceh bahwa Pemerintah Pusat memberikan perhatian penuh dan dukungan total untuk membantu mereka keluar dari bencana ini.

Keempat, dan menurut saya yang paling penting, keberadaan SBY di garis ‘depan’ memungkinkan SBY membuat penilaian yang diperlukan untuk menentukan rencana aksi Pemerintah Pusat, terutama operasi tanggap darurat.

Begitu kembali ke Jakarta, Presiden segera menggelar rapat Kabinet darurat dimana SBY dapat memberi instruksi yang tepat, jelas, praktis, dan responsif terhadap kondisi aktual di lapangan: mengirim bantuan TNI dan Polri untuk operasi penyelamatan dan tanggap darurat, mengirim KRI ke Meulaboh, dan Hercules ke Banda Aceh, mencari ribuan kantong jenazah; mencari kuburan massal untuk jenazah yang ditemukan; mengirim BBM, makanan dan air bersih; menghidupkan kembali listrik dan jalur telepon; menentukan jumlah tenda yang dibutuhkan untuk pengungsian; mengirim dokter tambahan; mengirim truk dari Medan; dan lain sebagainya. Semua ini adalah keputusan matang yang lahir dari kunjungan Presiden SBY ke Aceh.

Ada satu lagi yang penting: keberadaan SBY di Aceh membawa dampak psikologis yang penting bagi rakyat Indonesia. Krisis tsunami adalah bencana alam terdahsyat dalam sejarah Indonesia dan mungkin salah satu bencana alam terdahsyat dalam sejarah dunia modern.

Dari helikopter, saya melihat sendiri pantai barat Aceh yang terbentang ratusan kilometer menjadi rata dengan tanah, tanpa ada rumah atau manusia yang tersisa. Dalam sekejap, 200.000 kehilangan nyawa, sebagian ditemukan, sebagian ditelan laut. Lima ratus ribu orang lebih menjadi pengungsi. Seluruh bangsa Indonesia – ayah, ibu, tua, muda, kaya, miskin, di kota dan di kampung – menjerit, kebingungan, khawatir dan menangis.

Dalam masa yang galau ini, penting bagi bangsa Indonesia untuk mengetahui bahwa ada sosok yang memimpin mereka dalam kegelapan ini dan melihat sendiri di layar televisi bahwa Presiden mereka sedang berada di depan, di Aceh, hanya sehari setelah terjadinya tsunami.

Saya jadi teringat ucapan SBY beberapa hari setelah dilantik menjadi Presiden: “Dino, kamu nanti bisa lelah mendampingi saya keliling Indonesia. Saya harus melihat langsung kondisi rakyat kita. Apalagi kalau ada persoalan yang berat. Pemimpin itu Din, bisnisnya mengambil keputusan. Kamu pasti pernah mendengar: Quick to see, quick to decide, quick to take action.”

Satu catatan pinggir: saat Presiden SBY berada di Banda Aceh, Amien Rais juga berada di tempat yang sama. Di bandar udara, dalam nada emosi, Amien Rais memberi pernyataan bahwa ia ‘malu’ pada bangsa Indonesia dan pada dunia. Tampaknya, Amien Rais tidak puas dengan operasi penyelamatan waktu itu. Pernyataan Amien Rais itu segera menyebar ke seluruh dunia. Pada waktu itu, Presiden SBY sudah terjun ke lapangan, mengumpulkan Pemda, TNI dan Polri yang tersisa, membangkitkan moril mereka serta memberikan instruksi-instruksi teknis yang menurut SBY, ‘seharusnya dilakukan oleh Bupati dan Camat, yang waktu itu banyak yang sudah tidak berfungsi lagi.’

Saya juga dulu kebetulan pengagum Amien Rais, namun dari satu peristiwa itu ada satu pelajaran penting yang saya petik untuk para pemimpin di masa depan: ada masanya di mana semua pemimpin bangsa harus dapat melupakan ego politiknya dan bahu-membahu bersatu menangani suatu krisis nasional.

Saya langsung ingat bahwa sewaktu Presiden SBY memimpin rapat darurat di pendopo Gubernur Aceh dan memberikan instruksi kepada Menteri, Pelaksana Tugas Gubernur, TNI dan seluruh jajaran Pemda, SBY sempat menanyakan Amien Rais yang duduk di ujung ruang sidang: “Pak Amien, apakah ada komentar, tambahan atau usulan sebelum rapat ini ditutup?” Amien Rais diam, menyatakan ‘tidak ada.’ Karena itulah, komentar Amien Rais di bandar udara sangat mengejutkan kita semua karena beliau justru memilih mengeluarkan kritik pedas di luar melalui media, ketimbang memberi usulan konstruktif dalam rapat bersama seluruh pejabat.

Ada momen-momen tertentu dimana para pemimpin harus memperlihatkan kepada rakyat bahwa mereka kompak dan bersatu. Hal ini memerlukan kebesaran jiwa dan kehati-hatian dalam bertutur kata. Dan saya yakin rakyat Indonesia akan senang apabila melihat para pemimpinnya bersikap seperti itu.

Ditulis oleh Dino Patti Djalal (dalam buku ‘Harus Bisa’) Sumber : Republika.co.id — Sabtu, 5 Rabiul Awwal 1436 / 27 Desember 2014

Misteri ular raksasa penyelamat korban tsunami Aceh

Ummikasum (60) masih diberi umur panjang oleh Tuhan. Ada keajaiban saat tsunami menerjang Aceh. Kisah ini terjadi 10 tahun silam. Saat tsunami memporak-porandakan Aceh, ada seorang nenek bisa selamat setelah ditolong oleh seekor ular.

Kisah ini memang seperti tak masuk akal, namun ini sebuah kisah nyata. Kisah di balik selamatnya warga Aceh saat diterjang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 lalu. Hingga memakan korban sebanyak 126.761 orang meninggal, 93.285 hilang, 25.572 terluka, dan 125.572 orang kehilangan tempat tinggal.

Ummikasum yang akrap disapa Maksum berprofesi sebagai juru memandikan mayat. Dia juga bidan kampung dan telah melakoni pekerjaan ini selama 35 tahun. Dia berkisah saat dirinya diselamatkan oleh seekor ular.

Kendati demikian, ia tidak ingat secara persis bagaimana cara dililit oleh ular tersebut. Hingga ia bisa selamat dari hantaman gelombang tsunami ini yang mencapai ketinggian gelombang sebatang pohon kepala tua.

Mulanya, Minggu pagi hari malapetaka bagi seluruh rakyat Aceh, Maksum sedang asyik menyiram dan membersihkan bunga yang ada di pekarangan rumahnya. Tiba-tiba sekitar pukul 08.00 WIB, bumi Aceh bergetar, bergoyang ke kiri dan ke nanan. Baru ia sadar ternyata gempa berkekuatan 9,8 SR. Dia bersama seorang cucu yang masih berusia 5 tahun dalam gendongannya menjauh dari bangunan dan mencari tanah lapang.

“Dulu rumah saya besar dan saya sedang di luar, sedang tanam bunga,” jelas Maksum pada merdeka.com.

Saat bercerita, wajah Maksum yang sudah keriput tetap tersenyum. Meskipun kisah pilu yang ia ceritakan membuat ia teringat kejadian masa lalu. Ada 30 orang keluarga intinya meninggal, namun ia sudah bisa tertawa lepas sembari bercerita kisah unik dirinya selamat dari gelombang tsunami.

Saat itu anak keduanya berlarian ke arah dirinya dan mengatakan air laut naik ke darat. “Lalu saya jawab, yang tidak ada jangan minta ya,” ucapnya, dia pun terus melanjutkan membereskan bunga-bunga yang ada di pekarangan rumahnya.

Tiba-tiba, air laut benar-benar menerjang dirinya dari belakang. Letak rumah Maksum dengan bibir pantai hanya berkisar 400 meter. Hingga dirinya terjatuh dan cucunya dalam gendongan pun terlepas.

Meskipun saat itu dirinya berusaha untuk meraih cucunya, namun derasnya gelombang tidak sebanding dengan kekuatan tangannya saat itu berusia 50 tahun. “Sempat saya tarik cucu saya, tetapi kawat yang terpegang, sampai luka ini jari saya,” jelasnya sambil menunjukkan bekas jarinya yang luka. Sedangkan cucunya saat itu sangat jelas terlihat olehnya digulung oleh gelombang tsunami.

Saat itu dirinya tidak sadarkan diri lagi. Sehingga dia tidak bisa menceritakan bagaimana cara dirinya digulung oleh gelombang tsunami. Akan tetapi tiba-tiba dirinya sudah berada di daerah jembatan Krueng Cut yang berjarak sekitar 800 meter dari rumahnya.

Saat itulah dia baru sadar, bahwa bersamanya ada seekor ular besar yang melilit tubuhnya. Kepala ular tersebut menjulur ke arah wajah Maksum. Namun saat itu, Maksum tidak sedikit merasa takut.

Justru Maksum mengaku, sempat berbisik dengan suara nada lemas, meminta agar bisa diselamatkan ke daratan. “Saya bilang waktu itu, tolong selamatkan saya ke darat,” ucapnya dengan bahasa Aceh.

Lantas, ular itu mengantar ke darat langsung bergerak dan menenggelamkan dirinya dalam sungai dan lagi-lagi tiba-tiba dirinya sudah berada di jembatan Lamnyong, Darussalam dengan Jaraknya sekitar 300 meter.

Ketika itu, dirinya sudah mulai sadarkan diri. Bahkan dia mengaku bisa mendengar ada jeritan orang yang meminta tolong, termasuk melihat banyak orang yang digulung dalam gelombang arus sungai Krueng Cut tersebut.

“Saya waktu itu tidak ada lagi pakaian sehelai pun dan saya dalam sampah dan ular itu masih melilit tubuh saya,” jelasnya.

Maksum sejak usia 25 tahun telah menjadi seorang bidan desa dan juga menjadi orang yang selalu dipanggil saat ada orang meninggal. Profesi ini, Maksum mengaku akan terus dilakukan sampai hayat menjemputnya.

Lalu kisah Maksum bisa keluar dari tumpukan sampah dan lilitan ular di tubuhnya setelah 3 orang anak muda dari petugas Palang Merah Indonesia (PMI) menghampirinya. Mereka pun langsung mengangkat tubuh Maksum dari sungai tersebut.

“Saya sempat bilang, ada ular di tubuh saya melilit, namun salah satu dari mereka bilang tidak apa-apa, ular itu tidak menggigit kita,” kenangnya.

Namun ia sendiri tidak ingat lagi ketiga anak muda itu. Padahal ia ingin sekali mengucapkan terimakasih pada relawan PMI ini. Namun, sayangnya Maksum tidak mengenalinya.

Lalu Maksum kembali berkisah, saat dirinya diangkat oleh 3 relawan PMI ini. Secara perlahan-lahan ular yang melilit tubuhnya tadi langsung melepaskan dirinya dan lalu menghilang dalam sekejap ke dalam sungai.

Kini Maksum menempati sebuah rumah bantuan di lokasi semula. Untuk mengisi waktu luang, ia membuka sebuah kios berjualan makan anak-anak dan juga kebutuhan bahan pokok rumah tangga.

Sumber: Merdeka.com

4 Cerita keajaiban saat tsunami menerjang Aceh 10 tahun lalu

26 Desember 2004 menjadi hari yang tak terlupakan bagi masyarakat Aceh dan dunia. Pada waktu itu tsunami dahsyat meluluhlantakkan daratan Aceh.

Ribuan nyawa melayang. Ribuan orang mengalami luka dan hilang. Di mana-mana mayat ditemukan. Bahkan berhari-hari sebagian wilayah Aceh terisolasi karena semua infrastruktur rusak termasuk jalan.

Peristiwa 10 tahun lalu itu masih menyisakan cerita. Salah satunya soal keajaiban saat tsunami menerjang Aceh. Berikut ini keajaiban-keajaiban saat tsunami menyapu Aceh seperti dirangkum merdeka.com dari berbagai sumber, Kamis (25/12):

1. Martunis 21 hari terombang-ambing di laut
Peristiwa mengharukan terjadi saat gelombang tsunami menghantam wilayah Aceh. Seorang bocah bernama Martunis saat itu selamat setelah 21 hari terombang-ambing di laut. Martunis kini sudah berusia 17 tahun. Dia adalah salah satu anak Aceh korban tsunami pada Desember 2004 lalu.

Ceritanya, pada Minggu pagi dia berencana bermain sepak bola bersama teman-temannya di lapangan sepak bola kampung. Dia saat itu memakai kostum timnas Portugal. Tiba-tiba datang gelombang tsunami.

Dia bersama keluarga saat itu berusaha menyelamatkan diri. Tapi tubuh Martunis terhempas gelombang tsunami hingga akhirnya dia terseret ke lautan.

Martunis selamat setelah meraih sepotong kayu, lalu terapung-apung. Kemudian dia berpindah ke kasur yang melintas di dekatnya, tapi nahas, kasur itupun tenggelam. Lalu dia memanjat sebatang pohon untuk bertahan hidup. Dia selamat setelah terseret arus tsunami yang kembali lagi ke laut dan terdampar di kawasan rawa-rawa dekat makam Teungku Syiah Kuala.

Setelah 21 hari bertahan, penduduk menemukan Martunis pada 15 Januari 2005. Warga menyerahkan dia kepada awak televisi Inggris yang kebetulan meliput di wilayah itu. Dalam sekejap gambar Martunis yang masih mengenakan kaus timnas Portugal, beredar di stasiun televisi Eropa.

Bocah kurus berkulit hitam itupun menarik simpati bintang top sepak bola Portugal seperti Luis Figo, Nuno Gomes, Cristiano Ronaldo, pelatih Luiz Felipe Scolari, serta Gilberto Madail, ketua Federasi Sepak Bola Portugal. Akhirnya Federasi Sepak Bola Portugal mengundang secara resmi Martunis ke negaranya.

2. Masjid Rahmatullah masih kokoh diterjang tsunami
Cerita lainnya adalah Masjid Rahmatullah di Lampuuk Nangroe Aceh Darussalam. Masjid ini masih kokoh saat tsunami menerjang masjid tersebut.

Masjid itu dibangun pada 12 September 1997 oleh Gubernur Aceh saat itu Syamsudin Mahmud. Masjid ini menjadi satu-satunya bangunan yang masih kokoh dari sebuah perkampungan di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.

Bangunan-bangunan di sekitar masjid hancur dan terseret ombak. Sementara bangunan masjid masih kokoh berdiri.

Sebelum Tsunami, perkampungan ini dihuni oleh sekitar 6.000 jiwa. Kebanyakan berasal dari kelas menengah ke atas. Masyarakat di perkampungan ini kebanyakan karyawan PT. Semen Andalas Indonesia. Ada juga nelayan dan petani.

Saat tsunami datang, seluruh bangunan hancur dan terhempas hingga ratusan meter. Ajaib, masjid Rahmatullah yang lokasinya 500 meter dari bibir pantai masih berdiri dengan kokoh.

3. Seorang nenek diselamatkan ular raksasa
Ummikasum (60) masih diberi umur panjang oleh Tuhan. Ada keajaiban saat tsunami menerjang Aceh. Kisah ini terjadi 10 tahun silam. Saat tsunami memporak-porandakan Aceh, ada seorang nenek bisa selamat setelah ditolong oleh seekor ular.

Kisah ini memang seperti tak masuk akal, namun ini sebuah kisah nyata. Kisah di balik selamatnya warga Aceh saat diterjang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 lalu. Hingga memakan korban sebanyak 126.761 orang meninggal, 93.285 hilang, 25.572 terluka, dan 125.572 orang kehilangan tempat tinggal.

Ummikasum yang akrap disapa Maksum berprofesi sebagai juru memandikan mayat. Dia juga bidan kampung dan telah melakoni pekerjaan ini selama 35 tahun. Dia berkisah saat dirinya diselamatkan oleh seekor ular.

Kendati demikian, ia tidak ingat secara persis bagaimana cara dililit oleh ular tersebut. Hingga ia bisa selamat dari hantaman gelombang tsunami ini yang mencapai ketinggian gelombang sebatang pohon kepala tua.

Saat itu dirinya tidak sadarkan diri lagi. Sehingga dia tidak bisa menceritakan bagaimana cara dirinya digulung oleh gelombang tsunami. Akan tetapi tiba-tiba dirinya sudah berada di daerah jembatan Krueng Cut yang berjarak sekitar 800 meter dari rumahnya.

Saat itulah dia baru sadar, bahwa bersamanya ada seekor ular besar yang melilit tubuhnya. Kepala ular tersebut menjulur ke arah wajah Maksum. Namun saat itu, Maksum tidak sedikit merasa takut.

Justru Maksum mengaku, sempat berbisik dengan suara nada lemas, meminta agar bisa diselamatkan ke daratan. “Saya bilang waktu itu, tolong selamatkan saya ke darat,” ucapnya dengan bahasa Aceh.

Lantas, ular itu mengantar ke darat langsung bergerak dan menenggelamkan dirinya dalam sungai dan lagi-lagi tiba-tiba dirinya sudah berada di jembatan Lamnyong, Darussalam dengan Jaraknya sekitar 300 meter.

4. 7 Orang selamat setelah naik kubah Masjid

Di sebuah Desa Gurah, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar ada cerita ajaib lainnya. Di sana ada Kubah masjid yang terhempas belasan Km.

Warga setempat menyebutnya Kubah Tsunami. Kubah inilah yang banyak diburu oleh wisatawan, terutama wisatawan asing untuk membuktikan dahsyatnya tsunami yang menerjang Aceh.

Untuk menuju ke tempat ini, harus melewati jalan yang belum beraspal sekitar 500 meter. Sebelum memasuki ke arena kubah dengan luas pekarangan sekitar 400 meter ini, terlebih dahulu mendapati sebuah kios yang berjualan pernak-pernik dan oleh-oleh milik Darmawan. Setelah memasuki dalam kawasan Kubah Tsunami, ada seorang wanita yang siap menyambut siapapun tamu yang datang.

“Banjir kemarin, karena hujan beberapa hari ini,” kata Sriana (30), pemandu di Kubuh Tsunami mengawali pembicaraan.

Sejak sebelum tsunami, daerah ini merupakan persawahan warga. Saat tsunami menerjang Aceh, baru banyak orang mengunjungi daerah ini. Tentu punya alasan wisatawan datang yaitu ingin menyaksikan Kubah Tsunami yang terdampar dari Masjid Jami berasal dari desa Lam Teungoh. Jarak terdampar sekitar 2,5 Km dari tempat semula.

“Ada 7 orang selamat dalam kuba ini dan kubah ini ibarat kapal bagi mereka saat tsunami terjadi,” jelas Sriana.

Kubah ini berbentuk bulat. Di dalam kubah ada cekungan yang terbuat dari semen. Di bawah kubah ada seperti lantai. Menurut Sriana, yang berbentuk lantai ini diperkirakan atap Masjid yang terlepas dan menjadi pondasi kubah ini yang berdiri kokoh. “Diperkirakan bobot kubah ini sampai 80 ton,” jelasnya.

Sumber :  Merdeka.com

Kisah Mereka yang Selamat dari Tsunami Aceh

Minggu, 26 Desember 2004 menjadi hari paling bersejarah bagi rakyat Aceh dan juga Indonesia. Gempa berkekuatan 9,3 Skala Richter diikuti gelombang tsunami Samudera Hindia telah menewaskan lebih dari 230.000 jiwa.

Di balik semua berita duka bencana itu, tersingkap banyak kisah dramatis perjuangan rakyat Aceh untuk tetap hidup di tengah terjangan gelombang besar.

Seperti yang dikisahkan salah satu korban selamat bernama Rahmi, warga Lambaro Skep, Kuta Alam, Banda Aceh.

Saat gelombang tsunami menerjang, Rahmi masih berusia 12 tahun. Ia selamat dari terjangan gelombang karena berhasil memanjat ke atap lantai dua rumah tetangganya bersama ibu dan adiknya.

“Kami terus memanjat dan merangkak ke puncak atap rumah itu, sampai akhirnya gelombang menghancurkan rumah kami,” ungkapnya kepada VIVAnews, Kamis 25 Desember 2014.

Meski berhasil selamat, perasaan bersalah selalu menghantui Rahmi. Sebab, ia tak mampu menyelamatkan nyawa seorang anak perempuan yang sempat meminta tolong kepadanya.

“Anak perempuan itu terbawa gelombang dan tersangkut di atap rumah di depan saya. Dia minta tolong, tapi saya tidak mampu menolongnya. Dia berusaha memanjat mendekati kami, tapi sayang gelombang kedua datang dan menyeret tubuh mungilnya,” tutur Rahmi.

Anak perempuan tak dikenal itu akhirnya ditemukan sudah tak bernyawa tak jauh dari rumah tempat Rahmi dan keluarganya menyelamatkan diri.

Rahmi nyaris saja kehilangan ayanda tercinta. Karena saat tsunami melanda, ayah Rahmi terseret dan hilang ditelan gelombang.

“Setelah gelombang surut, kami mencari ayah dan Alhamdulillah, ayah selamat,” katanya.

Ayah Rahmi berhasil lolos dari maut berkat pertolongan jeriken minyak yang ditemukannya secara tak sengaja saat dirinya diombang-ambing gelombang.

Setelah seluruh keluarga berkumpul, mereka lalu pergi mencari bantuan ke Masjid Baiturrahman.

“Ternyata banyak yang selamat dan berlindung di masjid. Karena air tidak sampai menyentuh lantai masjid,” ujarnya.

Rahmi dan keluarga pun memutuskan untuk tinggal di masjid itu.

Selama berada di masjid, hampir setiap waktu Rahmi menyaksikan warga mengembuskan napas terakhirnya.

“Kami tidur di sana. Tak jarang kami tidur bersama mayat orang yang sudah meninggal, padahal malam harinya dia masih bisa bicara,” jelasnya.

Aceh Lumpuh

Derita Rahmi dan keluar tak berakhir sampai di situ, karena usai tsunami surut, kerap muncul isu tsunami susulan yang membuat panik seluruh orang yang berada di masjid.

“Ada orang teriak gelombang datang. Lalu, semua yang ada di masjid berusaha memanjat tiang hingga menumpuk,” ceritanya.

Isu itu ternyata sengaja diciptakan orang yang ingin menjarah harta milik pengungsi yang mengungsi di masjid.

“Biar orang-orang pada lari dan mereka berniat mencuri. Padahal, sama sekali tidak ada tsunami lagi. Itu sempat beberapa kali sampai akhirnya kami paham bahwa itu ada orang yang sengaja,” paparnya.

Saat itu, kondisi Aceh benar-benar kacau. Di setiap tempat terdapat jenazah dalam kondisi mengenaskan.

Penduduk yang berhasil selamat pun tak mampu menyelamatkan korban yang terluka hingga akhirnya banyak korban luka yang meninggal dunia, karena tidak mendapatkan perawatan medis.

Nyaris tak ada lagi makanan yang bisa dimakan. Air bersih pun tak tersedia hingga kelaparan pun melanda.

Bantuan datang setelah tiga hari usai tsunami mereda. Penyelamat yang pertama kali tiba di Aceh adalah pasukan TNI.

“Tentara membawa mi instan dan air minum kemasan. Kami masak mi di bungkus minuman,” tutur Rahmi.

Meski duka itu sudah 10 tahun berlalu, Rahmi dan keluarganya masih belum bisa melupakannya. Hingga saat ini, Rahmi masih belum mengetahui keberadaan nenek dan sanak saudaranya. (art)

Sumber: vivaNews.co.id

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s