Istilah Dien Islam

Makna Dien Islam

Din atau dien berasal dari Bahasa Arab (Ad Diin).

Secara bahasa, dien berarti tradisi, perilaku, perhitungan, kekuasaan, hukum, ketaatan, balasan, peraturan. Secara istilah umum dien dapat juga diartikan sebagai agama. Dien Islam berarti peraturan – peraturan Allah untuk mengatur umat manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dilihat dari arti bahasa, dapat disimpulkan dien itu adalah suatu sistem kehidupan yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya dan tidak dapat dipisahkan. Berarti dien Islam adalah suatu sistem kehidupan Islam yang diridhoi oleh Allah untuk mengatur kehidupan manusia. Sedangkan kehidupan manusia itu tidak hanya menyangkut hubungan seorang hamba kepada Tuhannya tetapi aspek kehidupan lainnya seperti idiologi, hukum, perundang-undangan, keuangan, politik dan lain sebagainya.

Jika kita hanya mengartikan dien itu sebagai agama Islam, ditakutkan akan mengkerdilkan arti dari dien Islam itu sendiri. Padahal dien Islam itu lebih besar dari itu. Karena dien Islam berarti suatu sistem Islam untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia baik muslim maupun non-muslim.

[3.83] Maka apakah mereka mencari dien yang lain dari dien Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.

[2.208] Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.

[2.209] Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

[2.256] Tidak ada paksaan untuk (memasuki) dien (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Penegakan Dien Islam Dari Masa Dulu Sampai Sekarang

Dien Allah diturunkan melalui para utusan-Nya dari nabi Adams as sampai dengan nabi Muhammad SAW. Mereka membawa ajaran yang sama yaitu dien Islam tetapi hanya saja syariatnya saja yang berbeda-beda. Berbeda dengan rasul-rasul sebelumnya yang diutus untuk kaumnya masing-masing, maka Rasullullah adalah nabi terakhir yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, hingga akhir zaman. Dien Allah yang diturunkan kepada Rasulullah telah sempurna. Misi yang diemban setiap nabi Allah pun tetap sama yaitu penegakan Dien Islam dimuka bumi ini. Misi ini pun tidak ada yang terputus dari dulu sampai sekarang. Walaupun Nabi Muhammad SAW telah wafat, tetapi misi ini tidaklah terputus sampai dengan saat ini.

[2.132] Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih dien ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk dien Islam”.

Tambahan dari Kompasiana

Pengertian Dien al-Islam

Dienul Islam merupakan tatanan hidup (syariah = aturan, jalan hidup) ciptaan Allah untuk mengatur segenap aktivitas manusia di dunia, baik aktivitas lahir maupun aktivitas batin. Aturan Allah yang terkandung dalam al-Islam ini bersifat absolut. Selanjutnya, aturan Allah dibagi dua, yakni : Pertama, aturan tentang tata keyakinan disebut Aqidah. Kedua adalah aturan tentang tatacara beribadah, yang disebut syariah ibadah,Ada satu lagi yang disebut Akhlaq, yakni aturan tentang tatacara menjalin hubungan dengan Allah, dengan sesama manusia dan dengan alam sekitar. Akhlaq ini, sebenarnya, adalah syariah ibadah juga, hanya saja dilihatnya dari persepktif layak dan tidaknya suatu perbuatan dilakukan, bukan sekadar wajib dan haram. Aqidah, syariah dan akhlaq ini dalam terminology lain adalah Imam, Islam dan Ihsan.

Seorang mukmin memiliki keterikatan (commited) dengan al-Islam yakni :

(1). Meyakini kebenaran aturan al-Islam sebagai kebenaran yang absolut.

(2). Mengamalkan seluruh aturan Islam yang absolut itu secara kaffah (menyeluruh).

(3). Mendakwahkan al-Islam melalui hikmah (pendalaman keilmuan), mauidlah (nasihat-nasihat) jadilhim billati hiya ahsan (diskusi, seminar, dialog interaktif yang menarik ), yang ditujukan kepada ke segenap manusia di dunia ini tanpa kecuali.

Esensi Dienul Islam
Din berasal dari kata dana yadinu dinan berarti tatanan, sistem atau tatacara hidup. Jadi Din al-Islam berarti tatacara hidup Islam.

Tidak tepat apabila din diterjemahkan sebagai agama, sebab istilah agama (religion, religie) hanyalah merupakan alih bahasa saja yang tidak mengandung makna substantif dan essensil. Lebih dari itu apabila din diterjemahkan sebagai agama maka maknanya menjadi sempit. Di Indonesia misalnya, agama yang diakui hanya ada enam , yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kunghuchu padahal di Indonesia terdapat ratusan bahkan mungkin ribuan tatacara hidup.

Dengan memaknai din sebagai tatan hidup, maka yang dimaksud dengan istilah muslim adalah orang yang ber-din al-Islam.

Din al-Islam sebagai tatanan hidup meliputi seluruh aspek hidup dan kehidupan, dari mulai masalah ritual sampai kepada masalah muamalah termasuk masalah sosial budaya, sosial ekonomi, sosial politik, bahkan sampai kepada masalah kenegaraan. Seseorang yang mengaku muslim atau menganut din al-Islam harus mengikuti tatanan hidup Islam secara kaffah, Apabila ia menolaknya, maka ia pasti akan terpental di akhirat sebagaimana diterangkan di dalam QS. 3 : 19 dan ayat 85 :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ اْلإِسْلاَم (ال عمران : 19 ) وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِين (ال عمران : 85)

Sesungguhnya din atau tatanan hidup (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam (QS. 3 : 19 ) Barangsiapa mencari tatanan hidup selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (din itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.(QS. 3 : 85).

Din terbagi dua yang sangat jelas bedanya, yakni din al-haq dan din al-Bathil . Yang dimaksud dengan din al-haq ialah din yang berisi aturan Allah yang telah didesain sedemikian rupa sehingga sesuai dengan fitrah manusia. Aturan ini kemudian dituangkan di dalam kitab undang-undang Allah, yakni Al-Qur’an. Sedangkan di luar din al-Islam adalah din yang berisi aturan manusia sebagai produk akal, hasil angan-angan, imajinasi, hawa nafsu serta merupakan hasil kajian falsafahnya.

Berdasarkan pengelompokkan din ini, maka manusia sebagai pemilih din, otomatis hanya terbagi menjadi dua kelompok yang jelas-jelas berbeda (furqan), yakni kelompok Huda dan kelompok Dhallin

Kelompok Huda adalah kelompok yang memilih din Islam sebagai tatanan hidupnya. Ini berarti bahwa mereka telah mengikuti jalan yang haq sehingga Allah akan menghapuskan segala kesalahannya. Sedangkan kelompok Dhalalah adalah orang-orang yang memilih din selain Islam.  sebagaimana ditegaskan oleh Allah di dalam Al-Qur?an surat 7 : 30 dan surat 47 : 1,2,3

فَرِيقًا هَدَى وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلاَلَةُ إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ(30)

Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.

الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ أَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ(1) وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَءَامَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ(2)ذَلِكَ بِأَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا اتَّبَعُوا الْبَاطِلَ وَأَنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّبَعُوا الْحَقَّ مِنْ رَبِّهِمْ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ لِلنَّاسِ أَمْثَالَهُمْ(3)

Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka. Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan amal-amal yang saleh serta beriman (pula) kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang hak dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti yang hak dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka. QS. 47 : 1,2,3.

Dalam pandangan Al-Qur’an, din al-Islam adalah satu-satunya din ciptaan Allah, din yang satu ini adalah aturan untuk seluruh umat manusia tanpa kecuali

Sementara itu, din-din hasil ciptaan manusia berdasarkan akal, imajinasi dan falsafah sebagaimana telah dikemukakan di atas telah melahirkan banyak din dan isme-isme lainnya, antara lain Materalisme, Kapitalisme, Liberalisme, Markisme, Komunisme, Nasionalisme, dan Kolonialisme.

Tambahan dari : Wikipedia

Din atau dien berasal dari kata bahasa arab دان – يدين – دينا (daana yadiinu diinan)

Makna secara bahasa

Berdasarkan kamus munjid, Din terbagi ke dalam beberapa masdar kata :

1. Al-Jaza wal mukafa = pahala, balasan (1:4), dll

2. Al-Qodo = peraturan

3. At-Thathbir = pengelolaan

4. Al-Hisab = perhitungan

5. Al-Malik/ Al-Mulk wal sulthan = kerajaan, raja, wilayah kekuasaan

Sehingga berdasarkan masdar kata tersebut maka dapat disimpulan bahwa Dien bermakna organisasi, partai, himpunan, sistem atau sistem hidup.

Makna secara istilah

Secara istilah umum, din dapat diartikan sebagai agama.

Secara istilah khusus, din Islam dapat didefinisikan sebagai peraturan Allah yang membawa orang-orang berakal ke arah kebahagiaan dunia dan akhirat, yang mencakup masalah aqidah dan amal. Ia adalah suatu sistem yang mencakup peraturan-peraturan yang menyeluruh, serta merupakan “undang-undang” yang lengkap dalam semua urusan hidup manusia untuk kita terima dan mengamalkannya secara total.

Segala yang ada di alam semesta juga ber-agama, yaitu agama Allah, sesuai dengan ayat dalam Al-Quran:

3:83: Maka apakah mereka mencari ‘agama’ yang lain dari ‘agama’ Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri (aslama) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah saja mereka dikembalikan.

Mengacu kepada terjemahan yang kita lihat di atas, maka ‘diinillah’ diartikan sebagai ‘agama Allah’.

Agama Allah diturunkan dari langit (agama samawi) melalui para utusan-Nya, seperti nabi Adam, nabi Ibrahim, nabi Musa, nabi Isa dan nabi Muhammad (shollallahu ‘alaihi wa sallam), agama yang diturunkan adalah agama yang sama, hanya saja syariat-nya yang berbeda-beda.

Maka untuk mencari referensi apa itu ad diin kita lihat dari ayat-ayat lain mengenai ad diin:

24:2: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah (diinullah), jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.
12:76: Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja (dinul malik), kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.

Apa yang diperjuangkan para Nabi dan Rasul sejak zaman Adam, Nuh, Ibrahim, Musa , Isa hingga Muhammad adalah penegakkan Dien yaitu Dien yang berlaku di alam semesta yang disebut dengan Islam, yaitu berserah diri kepada ketentuan Allah sebagai Rabb (Pencipta, Pemelihara, Penghancur).

Penegakkan Dien Allah dari masa ke masa

Karena yang diperjuangkan adalah sistem atau aturan yang tidak menghendaki pencampuran dengan aturan selain Din Allah, sehingga mayoritas para Rasul yang diutus selalu berlawanan dengan kekuasaan yang berlaku saat itu, mari kita lihat contohnya

Adam      X  Iblis 
Nuh       X  Kanaan 
Ibrahim   X  Nimrod 
Musa      X  Firaun (Ramses II)
Isa       X  Herodes 
Muhammad  X  Musyrik/Kafir/Munafik

Perjuangan Para Rasul Dilaksanakan Tanpa Menggunakan Kekerasan

Bertujuan mengubah paradigma masyarakat yang menggunakan hukum/isme selain dari Allah agar kembali menggunakan hukum/isme/aturan Allah. Ini dilaksanakan sebagaimana halnya Musa (alaihissalam) berdakwah di Mesir, perjuangan da’wah Isa/Yesus (alaihissalam) dan dua belas murid di Palestina serta da’wah Muhammad (shallallahu alaihi wa sallam) di Makkah.

Adapun peperangan terjadi ketika suatu negara yang dipimpin Rasul diserang oleh kekuatan yang berniat menghancurkan Din yang sudah diimplementasikan dalam bentuk kedaulatan / negara.

Agama Adalah Produk Sejarah

Agama yang berkembang saat ini adalah produk sejarah yang berasal dari pertentangan politik (schism) di antara pengikut-pengikutnya sesuai dengan Al-Baqarah:213

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

Setelah terjadi perselisihan kemudian Allah mengirimkan para rasul (utusan) untuk memperbaiki keadaan perpecahan tersebut (untuk kembali kepada DIN yang benar: DIN Islam). Secara konsep ,islam sudah sempurna akan tetapi kesempernan islam akan terpenuhi jika secara konsep dan secara aktual terwujudkan yaitu adanya Daulah yang menggunakan hukum Allah sebagai landasannya bukan hukum produk buatan manusia dan adanya kholifah atau pemimpin daulah sebagi wakil Allah di muka bumi serta adanya umat yang taat pada hukum atau UU Allah maka itulah ciri-ciri DIN Allah.

Tambahan 1:

Dienul Islam

Ad-Din menurut bahasa, memiliki beberapa arti. Hal pertama yang perlu digarisbawahi adalah penerjemahan kata ad-dîn dengan agama, memang benar, salah satu maknanya adalah agama, tetapi tidak semua kata ad-dîn berarti agama. Firman-Nya “Mâlik yaum addîn”tidak diterjemjahkan dengan “Pemilik hari agama”, tetapi “Pemilik hari  pembalasan”. Makna kata Dîn yang lain adalah ketaatan

(Sumber : Shihab, M. Quraish. Ayat -Ayat Fitna : Sekelumit Keadaban Islam di Tengah Purbasangka, Tangerang : Lentera Hati, 2008)

Arti dari ad-din adalah (dalam konteks Dinul Islam) :

– Ajaran untuk mengatur kehidupan, dan mempunyai cara – cara tertentu.

– Undang – undang, konstitusi untuk mengatur kehidupan manusia.

Islam artinya tunduk, patuh, menyerah (kepada aturan Allah dan Rasul-Nya). Al Islam, Islam adalah : Menampakkan ketundukan, patuh dan memperlihatkan syari’ah, juga ltijam (selalu berpegang teguh), pada syari’at.

Apabila dikatakan: ”Si Fulan Muslim”, maksudnya adalah muslim yang menyerahkan  segala urusannya hanya pada Allah semata.dan Ikhlas lillahi ta’ala semata.

Contoh kata: ”sallama Assyaia lifulaanin”, maksudnya “Ia menyerahkan perihal itu kepada seseorang”, maksudnya adalah ia telah mengikhlaskan apa yang diberikannya itu pada si Fulan tadi.

Jadi, pengertian Dienul Islam adalah : Sistem dan undang – undang hidup yang berasaskan dua hal :

1. Ketundukan dan ketaatan secara mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya dengan   mengamalkan seluruh syariat-Nya dan Sunnahnya.

2.   Berlepas diri dari kemusyrikan, dari orang – orang musyrik berikut tata cara kehidupannya.

Ad-Din ada dua :

A. Dienullah : ad-din yang turun dari Allah SWT.

B. Diennas : Aturan yang berasal dari pemikiran manusia; contoh: sistem komunis, demokrasi, kerajaan (monarki), oligarki dll.

Dinul Islam memiliki dua pokok :

1. Aqidah

2. Syariat

Syari’at menurut bahasanya orang Arab adalah :” Jalan timbulnya air”, dimana disana tempat manusia minum dan menimba air darinya. Jadi, pengertian syari’at ini sangat sesuai dengan bahasa, karena sudah kita lihat dalam nash-nash bangsa arab, bahwasanya apabila si Fulan MUSLIM, berarti ia ikhlas, dan tunduk, ridha dengan hukum Allah, dan iltijam (kuat kemauannya) untuk menegakkan syari’at, sementara syari’at itu mencakup ketauhidan dan segala hukum-hukum (Allah)

Untuk memudahkan, ada tujuh jenis syariat.

1. Syariat yang mengatur ubudiyah (ibadah), contoh ; tata cara shalat, tata cara puasa, tata cara zakat, haji, dzikir, berdoa dst.

2. Syariat yang mengatur munakahah (pernikahan dan keluarga), contoh; cara melamar, akad nikah, walimah, kewajiban suami, kewajiban istri, hak suami, hak istri, kewajiban orangtua,  dst

3. Syariat yang mengatur jinayah (hukum kejahatan), kriminalitas. Hukum mencuri,  hukum minum khamr, hukum berzina, membunuh muslim, membunuh kafir dll

4. Syariat yang mengatur muamalah (perniagaan / ekonomi). contoh; jual-beli, berserikat, tidak boleh  riba, dilarang melebihkan atau mengurangi takaran dll

5. Syariat yang mengatur ahlak / adab. misal; adab manusia kepada Allah, manusia   kepada manusia, ahlak terhadap orangtua, guru, rakyat dst.

6. Syariat yang mengatur siyasah (politik), contoh; tidak boleh menipu, harus jujur, kalau berjanji  harus ditepati, tidak boleh mengangkat wanita sebagai pemimpin, tidak boleh mengangkat orang kafir sebagai pemimpin, mengangkat khalifah dll.

7. Syariat yang mengatur asykari (angkatan perang). contoh; membentuk pasukan, kewajiban jihad, tata cara berperang,  larangan dalam berperang dll.

Kita sering mendengar kaedah :”Al Islam Ya’lu, wala Yu’laa ‘alaihi” maksudnya adalah : Islam itu tinggi, tidak ada yang lebih tinggi dari Islam. Pada prakteknya keempat madzhab fiqih mengambil kaedah ini sebagai sebab untuk hukum-hukum syari’at.

Berikut ini rujukan dari Abu A’la Maududi untuk pembanding tema ad-din dan syariah :

Ketika membahas mengenai Islam, kita sering mendengar dan menggunakan dua kata berikut: din dan syari’ah.

Namun sangat sedikit yang memahami makna yang benar dari kedua kata tersebut. Bukan hanya orang buta huruf, bahkan yang cukup terpelajar dan sarjana – sarjana agama pun tidak benar – benar menyadari perbedaan penting antara konsep din dan syariah. Disebabkan ketidaktahuan ini, din dan syariah sering dirancukan dengan lainnya, sampai – sampai membikin tidak enak badan.

Makna Din

Kata “din” digunakan untuk beberapa arti.

Makna yang pertama adalah kedaulatan, kekuasaan, kerajaan, kekaisaran atau kepenguasaan.

Makna yang kedua adalah lawannya, yaitu ketundukan, kepatuhan, pengabdian dan pelayanan.

Sedangkan makna yang ketiga adalah mempertimbangkan, menghakimi, memberi pahala atau hukuman atas suatu perbuatan. Penggunaan ketiga makna din tersebut dapat ditemukan dalam Al-Quran.

Sesungguhnya din (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran [3]: 19)

Di sini din berarti way of life (falsafah hidup), di mana kita hanya mengenal Allah semata sebagai pemilik segala kekuasaan dan keagungan dan ketundukan kita kepada-Nya. Kita tidak boleh menundukkan diri kepada siapa pun selain kepada-Nya. Kita harus menganggap bahwa hanya Allah saja sebagai Tuan, Raja dan Baginda, serta kita tidak boleh menjadi abdi dan mengabdi kepada siapa pun selain Dia. Kita harus menganggap hanya Allah raja yang memberikan pahala dan hukuman. Kita tidak mengharapkan pahala atau takut atas siksaan, selain pahala dan siksaan-Nya. Islam adalah nama dari Din ini.

Din yang salah muncul saat kita menganggap kekuasaan yang sesungguhnya adalah milik seseorang di samping Allah, saat kita menjadikan seseorang sebagai penguasa dan tuan selain Allah, sebagai ‘pemberi’ pahala dan siksa yang sesungguhnya, saat kita menundukkan kepala untuk merendahkan hati kepadanya, saat kita menjadi abdinya dan mematuhi segala perintahnya, saat kita mengharap imbalan dan hukumannya lebih dari Allah. Jenis din yang ini tidak diterima Allah karena bertentangan dengan yang sebenarnya.

Tidak ada mahluk di dunia ini kecuali Tuhan yang memiliki kekuasaan dan kekuatan, juga kerajaan dan kekaisaran. Kita tidak diciptakan untuk mengabdi dan melayani seseorang atau apa pun. Tidak ada juga mahluk lain kecuali Tuhan yang memiliki hak untuk memberikan pahala atau hukuman. Di beberapa ayat Al-Quran dijelaskan pada QS. Ali Imran [3]: 85

Dengan demikian, siapa pun yang mengabaikan kedaulatan dan kekuasaan Tuhan, mengakui orang lain sebagai tuan dan penguasa, menjadi pengabdi dan pelayannya, dan menganggap seseorang memiliki hak memberikan pahala atau siksa, jelas din  dan kepemimpinannya tidak akan diterima Allah [QS. Al-Bayyinah [98]: 5] ket: Lurus berarti jauh dari syirik  (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

Tuhan tidak menciptakan manusia untuk mengabdi kepada selain diri-Nya. Oleh karena itu wajib bagi manusia untuk mencampakkan tuhan – tuhan palsu dan mengingkari mereka, meninggalkan din yang lain, untuk menyembah Allah semata. Manusia harus mencurahkan diri semata – mata untuk mengabdi dan bertanggung jawab kepada-Nya. [QS. Ali Imran [3] : 83] bagaimana manusia bisa cenderung menghamba dan mematuhi yang lain selain Tuhan, sementara segala sesuatu yang lain, baik di langit maupun di bumi, menjadi abdi dan hamba yang patuh kepada Tuhan semata, dan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka hanya kepada Tuhan?

Apakah manusia ingin menggunakan cara-cara yang menyimpang bagi dirinya, berbagai bentuk eksistensi yang independen dan otonom, dengan menentang hukum alam? (QS. At-Taubah [9]: 33)

Allah telah mengirimkan Rasul-Nya dengan membawa din yang benar dengan tujuan mengakhiri kekuasaan semua tuhan – tuhan palsu dan mengkaruniai kita kebebasan yang luas sehingga kita menjadi abdi hanya bagi Tuhan semesta alam, betapa pun para penyembah tuhan – tuhan lain tidak suka atau bahkan menentangnya.

(QS. Al-Anfal [8] : 39)

Pesan yang terkandung dalam ayat ini jelas. Kita harus berperang sampai kekuasaan segala mahluk selain kekuasaan Tuhan berakhir, sampai hanya hukum dan peraturan – peraturan Tuhan yang berlaku di dunia ini, sampai hanya kedaulatan Tuhan semata yang diakui, sampai kita mengabdi hanya kepada-Nya.

Dengan demikian, tiga makna din adalah:

1. Mengakui Allah sebagai Tuhan, Raja dan Penguasa.

2. Mematuhi dan mengabdi kepada-Nya

3. Bertanggung-jawab kepada-Nya, hanya takut kepada siksa-Nya dan hanya mengharap pahala dari-Nya.

Din juga mencakup kepatuhan kepada Rasulullah. Karena ajaran – ajaran Tuhan  disampaikan kepada umat manusia melalui kitab – kitab suci-Nya dan para Rasul-Nya.  (QS. Al-A’raf [7]: 35)

Tidak seorang pun yang menerima ajaran – ajaran Allah secara langsung (pelaku tasawuf ada yang berani mengaku demikian!). Siapa pun yang mengakui Allah sebagai penguasa hanya dapat diterima sebagai patuh kepada-Nya jika dia mematuhi para Rasul-Nya dan hidup di bawah tuntunan yang disampaikan melalui mereka.

Makna Syariah

Arti “syari’ah” adalah jalan dan cara. Kita memasuki din jika kita menerima Tuhan sebagai Raja kita, hidup untuk mengabdi kepada-Nya, menganggap bahwa Rasul memegang otoritas atas nama Tuhan, mengakui bahwa Kitab Suci diturunkan dari-Nya. Cara – cara yang dengannya kita harus mengabdi kepada Tuhan dan jalan yang harus kita lalui untuk mematuhi-Nya disebut “syari’ah”.

“Cara” atau “jalan” ini disampaikan oleh Tuhan kepada umat manusia melalui Rasul-Nya. Rasul lah yang menuntun kita bagaimana menyembah Tuhan. Bagaimana membuat tubuh dan hati kita bersih, apa itu kebenaran dan kebaikan, bagimana memenuhi hak, bagaimana melakukan transaksi dan berhubungan dengan sesama manusia, bagaimana mengarahkan hidup dan lain – lain.

Dasar – dasar perbedaan

Perbedaan pokok antara din dan syari’ah adalah: sementara din sejak dulunya sama dan satu, sedangkan syariah beragam. Ada perubahan atau pencabutan pada syar’iah terkemudian terhadap syari’ah terdahulu, namun tidak mengubah din-Nya. Din Nabi Nuh sama dengan din Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s. Nabi Isa a.s., Syu’ain a.s., Hud a.s., Shalih a.s. dan Muhammad saw.  Tetapi syari’ah yang diturunkan kepada mereka (bisa saja) berlainan satu dengan yang lain.

(Sumber : al-Maududi, Abul A’la . Let Us Be Muslims / Menjadi Muslim Sejati, Jogjakarta : Mitra Pustaka, 1998)

Sesuatu disebut dien (agama, apabila memenuhi setidaknya empat unsur :

1.      Ada satu atau lebih yang ditaati, dipatuhi, ditakuti dan atau dicintai

2.      Ada ketaatan, kepatuhan bagi pemeluknya kepada yang ditaati, dipatuhi, ditakuti dan atau dicintai

3.      Ada kegiatan – kegiatan / aktivitas dari pemeluknya yang tata caranya diserahkan kepada yang ditaati, dipatuhi, ditakuti dan atau dicintai.

4.      Ada balasan dari yang ditaati, dipatuhi, ditakuti dan atau dicintai kepada para pengikutnya.

Contoh Dienul Islam:

1.      Yang ditaati, dipatuhi, ditakuti dan dicintai hanyalah Allah SWT

2.      Ada ketaatan, kepatuhan kepada Allah karena adanya nikmat Iman dan Islam.

3.      Ada kegiatan – kegiatan / aktivitas dari pemeluknya yang tata caranya diserahkan kepada yang ditaati, dipatuhi, ditakuti dan atau dicintai. Yang bersumber Al-Quran dan as-sunnah. Yakni kegiatan ibadah dalam arti khusus dan dalam arti luas

4.      Ada balasan baik disegerakan, maupun diakhirkan dari Allah SWT kepada umatnya.

Contoh Demokrasi sebagai din buatan manusia:

1.      Mereka yang memperoleh suara terbanyak maka dijadikan sesembahan. Sebagaimana Nasrani menjadikan orang-orang alim dan pendetanya sebagai sesembahan selain Allah (Tafsir QS At-Taubah : 31).

2.      Adanya ketaatan dan kepatuhan dalam menjadikan hukum buatan manusia sebagai sumber hukum tertinggi atau sebagai sumber dari segala sumber hukum.

3.      Adanya kegiatan-kegiatan penjaminan kebebasan dari sesembahan bagi para penganutnya untuk memuaskan hawa nafsunya masing – masing.

4.      Ada balasan berupa materi, kedudukan tinggi dsb bagi yang dinilai berjasa besar mendudukan para  sesembahan di posisinya sekarang dan balasan berupa ancaman, siksaan dan pembunuhan bagi yang menentang kekuasaan mereka.

Semua Nabi hanya membawa Islam saja. Lalu bagaimana dengan Yahudi atau Nasrani, bukankah agama tersebut dibawa oleh anak cucu Nabi Ibrahim a.s. yakni Nabi Musa a.s dan Nabi Isa a.s.? Anggapan tersebut adalah anggapan salah dan batil!

Perhatikan firman Allah yang artinya : “ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakqub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?”… (QS. Al-Baqarah : 140)

Maka din selain Islam adalah din buatan manusia, termasuk Nasrani, Yahudi dan juga Demokrasi.

Dalam hadits Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan Al Hakim dengan sanad yang shahih: “Orang-orang Quraisy datang kepada Rasul: “Hai Muhammad, kambing mati siapa yang membunuhnya?”, beliau berkata: Allah yang mematikannya, lalu mereka berkata: “Kambing yang kalian sembelih kalian katakan halal, sedangkan kambing yang disembelih Allah dengan Tangan-Nya yang mulia dengan pisau dari emas (maksudnya bangkai) kalian katakan haram ! berarti sembelihan kalian lebih baik daripada sembelihan Allah”.

Dan perhatikan firman Allah SWT yang artinya :

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS. Al An’am : 121)

Dan ucapan ini adalah bisikan atau wahyu syaitan kepada mereka dan ketahuilah: “Jika kalian mentaati mereka (ikut setuju dengan hukum dan aturan mereka yang bertentangan dengan hukum dan aturan Allah) maka kalian ini orang-orang musyrik”. Dalam hal ini ketika orang mengikuti hukum yang bertentangan dengan aturan hukum Allah disebut musyrik, padahal hanya dalam satu hal saja, yaitu penghalalan bangkai. Sedangkan orang yang membuat hukumnya disebut syaitan, dan hukum tersebut pada dasarnya adalah wahyu syaitan atau bisikan syaitan, kemudian digulirkan oleh wali-wali syaitan dari kalangan manusia, dan orang yang mengikuti hukum-hukum tersebut disebut sebagai orang musyrik…!

Berlepas diri dari kemusyrikan, dari orang – orang musyrik berikut tata cara  kehidupannya dalilnya adalah firman Allah yang artinya…

“…telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al Mumtahanah : 4)

Wallahu a’lam

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Wirawan

Diolah dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s