Mengatasi Rasa Kecewa

Rasulullâh Muhammad SAW pernah mengajarkan:

“Ada tiga perkara dimana tidak seorang pun yang dapat terlepas darinya, yaitu prasangka, rasa sial, dan dengki. Dan aku akan memberikan jalan keluar bagimu dari semua itu, yaitu apabila timbul pada dirimu prasangka, janganlah dinyatakan, dan bila timbul di hatimu rasa kecewa, jangan cepat dienyahkan, dan bila timbul di hatimu dengki, janganlah diperturutkan.”

Semalam kubaca buku pinjaman dari seorang kawan yang berjudul “Kupinang Engkau dengan Hamdalah” karangan Mohammad Fauzil Adhim. Buku lumayan lawas, tapi masih tetap laku dan banyak peminatnya. Yang kubaca ini saja sudah cetakan yang keduapuluh dua. Bukunya belum genap kubaca sampai selesai bab satu. Padahal sudah lebih dari sepekan ini kupinjam. Padahal pula, baru kemarin aku berkata kepada seorang teman, buku yang dari orang lain justru seharusnya lebih kita prioritaskan untuk segera dikhatamkan dibandingkan dengan buku yang kita beli sendiri. Yah, memang dasar minat bacaku sudah semakin berkurang.

Ternyata ada juga hikmah yang bisa kuambil dari “wafatnya” komputerku tercinta. Aku menjadi semakin bergairah membaca buku-buku, baik itu buku pinjaman maupun buku yang telahlama kupunya. //Memang sesungguhnya Allâh tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia.//

Aku di sini tidak ingin berbicara tentang pernikahan dan segala hal yang berhubungan dengannya. Aku ingin menyampaikan sesuatu tentang rasa kecewa. Sewaktu membaca penjelasan Fauzil Adhim mengenai bagaimana hendaknya kita bersikap ketika pinangan ditolak, tentang bagaimana mengelola kekecewaan yang mungkin timbul, aku mendapat sebuah pelajaran. //Sekali lagi, aku tidak akan membicarakan segala sesuatu mengenai pernikahan dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Jadi jangan bayangkan bahwa aku mengambil pelajaran karena pernah ditolak dalam meminang. Bukan, bukan itu.// Pelajaran mengenai bagaimana ajaran Islam menyikapi rasa kecewa dalam jiwa seorang manusia.

Ya, belakangan ini aku sedang dilanda kekecewaan. Kekecewaan kepada beberapa kawan baikku. Kekecewaan yang telah mencoreng lembaran putih persahabatan ini. Entah mengapa, kawan-kawanku ini membuatku kecewa. Ketika kuberi hadiah, mereka malah mencurigai pemberianku. Bukan mencurigai maksudku dalam memberi, bukan. Intinya, mereka tidak serta-merta menerima hadiah pemberianku. Bahkan akhirnya aku batal memberikannya.

Padahal menerima hadiah yang diberikan adalah salah satu hak dari sahabat menurut Khalil Al-Musawi dalam bukunya “Bagaimana Menyukseskan Pergaulan Anda.” //Lagi-lagi hikmah di balik “tewasnya” komputerku.//

Bukannya segera menerima pemberianku, mereka malah mencurigai barang yang kuberi. Mereka menanyakan hal-ihwal barang tersebut. Bagiku, itu namanya tidak mempercayaiku, tidak menghargaiku, dan lebih-lebih merendahkan harga diriku! //Padahal menurut Khalil Al-Musawi dalam buku yang sama, kepercayaan timbal-balik di antara sahabat merupakan lingkungan utama yang memungkinkan persahabatan tumbuh dan berkembang.//

Kecewa. Kecewa berat. Alangkah lebih baik jikalau mereka menerima barang pemberianku dahulu, baru kemudian bertanya.

Kekecewaan memang pahit. Orang sering tidak tahan menanggung rasa kecewa yang dialaminya. Mereka cenderung membuang jauh-jauh sumber kekecewaan tersebut. Begitu pula denganku. Aku berusaha menghindar dari mereka yang telah mengecewakanku. Aku berusaha menutupi rapat-rapat kekecewaanku itu, menekan rasa kecewa itu.

Namun ternyata itu tidak dikehendaki oleh Islam. Karena dengan bersikap seperti itu, suatu saat perasaan kecewa akan mudah bangkit lagi dengan rasa sakit yang lebih perih. Begitulah kira-kira apa yang disebutkan dalam buku “Kupinang Engkau dengan Hamdalah” tadi.

Sebagaimana dalam hadis yang disebutkan di awal tadi, rasa kecewa yang kita miliki janganlah cepat-cepat dienyahkan. Namun biarkanlah kekecewaaan itu menghilang pelan-pelan secara wajar. Dengan demikian, kita bisa mengambil jarak dari sumber kekecewaan, dan kita tidak kehilangan objektivitas serta kejernihan hati kita. Kalau kita bisa mengambil jarak, kita tidak terjerembab dalam subjektivitas yang tajam. Kita bisa menjadi tabah, meski proses untuk menghapus kekecewaan itu lebih lama daripada menekan rasa kecewa itu tadi.

Setelah mengetahui hal itu, hatiku menjadi sedikit tenang. Meski kekecewaan masih bersemayam di hati, setidaknya mulai sekarang aku tidak akan menekan rasa kecewaku itu melainkan sedikit-demi-sedikit menguranginya. Aku tidak akan lagi menghindari mereka. Sebisa mungkin akan kurajut kembali pintalan persahabatan di antara kami. Perlahan-lahan aku akan berusaha memaafkan mereka. Bukankah hak-hak sahabat juga di antaranya adalah memaafkan kesalahan dan kealpaannya?

Astaghfirullâhal ‘azhim….

Ya Allâh, kuatkanlah ikatan pertalian di antara hati-hati kami.
Abadikanlah kasih sayangnya.
Tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup.
Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu.
Hidupkanlah dengan ma’rifat-Mu.
Serta matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu.
Ya Allâh, sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Âmîn.

Kekecewaan merupakan reaksi atas ketidaksesuaian antara harapan, keinginan dengan kenyataan. Rasa kecewa bisa disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari hal-hal yang kelihatannya sangat biasa, menjadi besar dan akhirnya menyiksa perasaan. Faktor penyebab utama timbulnya kekecewaan ialah karena target yang kita tentukan terhadap sesuatu atau seseorang tidak terpenuhi, sehingga seringkali kita ingin menyalahkan sesuatu atau menghakimi orang lain.

Sejatinya, hidup itu selalu bersinggungan dengan masalah, ketidaksesuaian dan kekecewaan juga merupakan masalah. Ketika kita berharap kepada apa pun dan siapa pun, bersiaplah untuk kecewa karena kemungkinan harapan tidak sesuai kenyataan itu selalu ada dan setiap orang pasti pernah mengalami kekecewaan. Melampiaskan rasa kecewa, semua orang pasti bisa melakukannya. Namun, mengatasi, mengantisipasi dan menyikapi rasa kecewa,  siapkah kita?Kesiapan kita menghadapi kemungkinan gagal merupakan salah satu indikasi kesiapan kita menghadapi kekecewaan. Tapi jika kita terlanjur dikecewakan ada beberapa hal yang patut kita renungi, kita resapi dengan kejujuran hati dan kita lepaskan dengan keikhlasan. Sekecil apa pun, seberat apa pun, kecewa itu harus diatasi, disembuhkan dan dihilangkan karena itu akan menjadi ganjalan perasaan yang dapat mempengaruhi kesehatan fisik juga psikis kita. Kekcewaan yang tersimpan, mendalam dan terpendam dapat menumbuhkan dendam dan penyakit kronik (Naudzubillah min dzaalik). Karena itu, kematangan spiritualitas, kecerdasan emosi, serta keterbukaan pikiran diperlukan untuk mengelola rasa kecewa. Tips berikut dapat membantu mengatasi rasa kecewa.

  1. Keluarkan uneg-uneg dengan curhat kepada orang yang paling membuat kita nyaman dan bisa dipercaya. Sahabat, keluarga atau seorang profesional yang bertanggung jawab terhadap kode etik profesinya. Mencurahkan perasaan dengan ngobrol merupakan salah satu cara berkomunikasi yang baik untuk mendapatkan pencerahan atas masalah yang kita hadapi. Masalah yang kita anggap berat kadang-kadang bisa dipecahkan dengan sharing pikiran dan perasaan dengan orang lain. Sudut pandang yang berbeda tentang sebuah masalah, saran dan masukan orang lain bisa menjadi alternatif penyelesaian. Paling tidak, beban yang kita rasa berat bisa berkurang dengan adanya orang yang mau mendengar curhat kita. Berkaitan dengan hal ini, konsultasi psikologis, mengikuti kajian rohani, berpartisipasi dalam kegiatan sosial atau menyibukkan diri dengan kegiatan hobi yang positif bisa menjadi alternatif pemecahan sekaligus membantu membuang energi negatif dari rasa kecewa kita.
  2. Menumpahkan segenap perasaan dengan menulis, umumnya menulis diary. Hal ini tentu sangat membantu menyalurkan perasaan bagi para pribadi yang terkategori tertutup. Menulis bisa membebaskan diri dari tekanan yang memenuhi perasaan dan pikiran karena kita mampu menuliskan detail perasaan dan pikiran kita, secara bebas, tanpa takut diketahui orang lain, sehingga perlahan-lahan akan timbul kelegaan, pencerahan dan di lain waktu menjadi inspirasi untuk mencari sumber masalahnya hingga penyelesaiannya. Dalam sebuah penelitian, seorang ahli saraf  Universitas California, Dr. Mathew Lieberman menyatakan bahwa mengekspresikan perasaan lewat tulisan merupakan pengaturan emosi yang tanpa disengaja, terutama dalam keadaan sulit. Menurut penelitiannya terhadap 30 kinerja otak pasiennya, menulis akan mengurangi aktivitas amygdala (bagian otak yang terhubung dengan emosi dan ketakutan), serta akan meningkatkan aktivitas bagian depan korteks (pengatur pikiran), sehingga menulis akan mengurangi tekanan pada otak dan menjaga keseimbangan mental. Menulislah untuk mencurahkan perasaan, kemudian menulislah untuk melupakan, dan lanjutkanlah menulis untuk mencari penyelesaian. Diary atau buku harian bisa menjadi acuan untuk memotivasi diri menyelesaiakan masalah, termasuk kekecewaan. Kita dapat mengambil sisi yang sesuai dari permasalahan yang berhasil siselesaikan di masa lalu. Memang, satu solusi tidak akan menyelesaikan setiap masalah, tetapi paling tidak kita bisa mengambil strategi pengambilan keputusan di saat itu untuk dijadikan acuan di saat menghadapai masalah yang sekarang.
  3. Rekreasikan hati dan pikiran kita dengan kegiatan yang bisa membuat kita rileks dan fun. Kekecewaan yang dalam tidak dapat dihilangkan secara instan, apalagi jika kita tergolong orang yang gemar memelihara luka. Diperlukan pengalihan perhatian yang bersifat positif, menyenangkan, melupakan, bahkan lama-lama bisa menyembuhkan. Carilah kegiatan yang bisa merelaksasikan pikiran, membuat kita tenang dan senang. Misalnya menekuni hobi, mencari suasana baru dengan rekreasi ke tempat favorit atau ke tempat-tempat wisata yang menenangkan, berolahraga, mengisi TTS , membaca  buku-buku yang bermanfaat atau bermain catur yang bisa menjadi gizi buat otak kita juga. Relaksasi bisa mengembalikan energi posititf yang dapat mengembalikan kesegaran pikiran juga mengurangi tekanan beban perasaan.
  4. Bersabar, belajar untuk ikhlas dan memaafkan. Melakukan ketiga hal ini memang tak semudah melakukannya. Namun, hidup dan hati kita juga perlu dituntun dan dituntut untuk menjalani yang terbaik, berdamai dengan kenyataan. Dengan ketiga hal ini, kita juga bisa mulai berpikir jernih sekaligus berintrospeksi. Mungkin saja kekecewaan yang kita rasakan merupakan akibat dari terlalu besarnya tuntutan kita terhadap orang lain, sehingga orang lain tidak mampu memenuhinya. Bisa saja kita kecewa karena terlalu muluknya harapan kita terhadap sesuatu, sehingga seringkali kita merasa terpukul ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, menyalahkan keadaan bahkan menyalahkan orang lain. Kekecewaan akan terasa berat karena ketidakikhlasan kita menerima kenyataan. Memaafkan dapat melegakan dan menenagkan perasaan karena berarti kita juga bisa menerima kekurangan orang lain sekaligus mematikan potensi mendendam. Keikhlasan dan kesabaran akan menuntun kita kepada kesadaran bahwa di suatu waktu dan di suatu tempat pasti ada yang terbaik untuk hidup dan hati kita. Yang penting kita terus berusaha untuk tidak kehilangan tongkat dua kali, sehingga tidak jatuh dua kali ke lobang yang sama.
  5. Berbicara kepada Tuhan sebagai Pencipta yang berkuasa membolak-balikkan hati kita. Tuhan tak pernah meminta balasan, tempat curhat yang paling aman, nyaman dan penuh kejujuran. Mungkin kita baru bicara kepada-Nya ketika hati tak lagi mampu bertahan. Merengek meminta belas kasihan, memohon kemudahan, ketika kita kehabisan. Hanya karena satu masalah, kita merasa lelah. Pada satu masalah, kita sering menyerah. Tersungkur dalam tangis dan keluh yang panjang. Satu ujian, satu cobaan, bahkan satu peringatan pun sering membuat kita lalai, membiarkan hati kita tersiksa dalam rasa putus asa, dan mulut kita membisu untuk mengajak-Nya berbicara. Ketika Tuhan mengajak kita bicara dalam bahasa bencana, irama musibah dan bingkai masalah, barulah kita meminta, mendekat dan berbicara kepada Tuhan. Melalui tangis taubat dan permohonan, kita dapat meluruhkan keakuan, kesombongan dalam kesadaran akan ketidakberdayaan, menanti uluran tangan Tuhan. Kekuatan hati dan keyakinan pada Yang Mencipta inilah yang akan menjadikan kita tegar menghadapi masalah dan menyikapi segala bentuk kekecewaan. Kembalikan semua permasalahan kepada Pemilik Kehidupan. Tuhan lah sebaik-baik tempat meminta, penghabisan penyerahan dan kepasrahan diri, maka sertakanlah Tuhan dalam setiap langkah, berdoalah dalam setiap keadaan karena doa merupakan obat mujarab untuk melepaskan segala beban bahkan mampu mengubah keadaan.

Semoga kita termasuk orang yang senantiasa menyadari kehadiran-Nya di setiap hela nafas kita.

KECEWA

Ketika lagi asyik-asyiknya nonton sebuah sinetron remaja yang ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta di televisi, seorang keponakan yang masih bersekolah di sekolah dasar tiba-tiba bertanya kepada mamanya: “Ma, apa sih artinya kecewa itu?”
“Kecewa itu artinya ya sedih,” jawab si mama sekenanya.
Mendengar jawaban dari si mama, saya yang kebetulan duduk tak jauh dari mereka sontak mengernyitkan dahi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2001) kata kecewa memiliki 3 arti. Pertama, kecil hati; tidak puas (karena tidak terkabul keinginannya, harapannya, dsb); tidak senang. Kedua, cacat; cela. Dan ketiga, gagal (tidak berhasil) dalam usahanya, dsb. Sementara untuk kata sedih KBBI memberi 2 arti. Pertama, merasa sangat pilu di hati; susah hati. Dan Kedua adalah menimbulkan rasa susah (pilu, sdb) dalam hati; duka. Pertanyaannya apakah antara kata kecewa dan sedih memiliki kesamaan arti?
Ada baiknya kita sama-sama melihat contoh kalimat di bawah ini:
Kami kecewa dengan penyambutannya yang dingin.
Kami sedih dengan penyambutannya yang dingin.
Sepintas lalu kedua contoh kalimat tersebut memiliki arti yang sama, tapi apabila kita teliti lebih lanjut, jelas-jelas memiliki arti dan rasa yang berbeda. Penjabarannya adalah kalimat pertama kami mengalami suatu ketidakpuasan akibat dari penyambutannya yang dingin. Ketidakpuasan bisa berbentuk apa saja, ia bisa saja sedih tetapi belum tentu juga sedih, sebab ia bisa saja marah ataupun kesal dalam mengungkapkan kekecewaannya. Sementara pada kalimat kedua, apa yang dialami oleh kami tehadap penyambutannya yang dingin jelas-jelas berbuah sedih. Bukannya marah, kesal ataupun kecewa. Sedih merupakan salah satu hasil ungkapan kecewa. Dan sebagai hanya salah satu hasil dari kecewa, maka kecewa tidaklah dapat semena-mena dipersamakan arti dengan sedih.
Mencermati hal ini, maka pada Tesaurus Bahasa Indonesia (2007), Eko Endarmoko, sebagai penyusunannya, tidak menempatkan kata sedih sebagai salah satu sinonim kata kecewa, melainkan kata kecewa disinonimkan dengan kata: (1) berawai, getun, gigit jari, kecil/ patah sakit hati, menyesal, meringis, mutung; cua, kesal; (2) batal, gagal, kandas, kubra, patah pucuk; (3) cacat, cela. Sementara kata sedih disinonimkan dengan kata: benguk, duka, galabah, getir, gobar hati, gundah, masygul, menyernak, menyesak, merana, pedih, pilu, prihatin, sedu, senak, silu, sugul, susah hati; terdayuh, terharu, trenyuh; tersentuh.
Kini, hari kian beranjak malam, tayangan di televisi sudah berganti siaran langsung pertandingan sepak bola. Sebenarnya saya suka sekali menonton acara itu, tapi karena kecewa mendengar jawaban si mama, maka saya pun putuskan untuk masuk ke kamar dan tidur. Keputusan ini saya ambil sebab saya tak mau berlama-lama menanggung sedih karena kecewa mendengar jawaban si mama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s