Kupasan sekilas Tentang Al-‘Aql

Kata al-‘Aqlu secara eksplisit definitif tidak terdapat di dalam Al-Qur’an kecuali penyebutannya sebagai suatu aktivitas, yang menunjuk kepada proses berpikir (al-Aql) yang disebut sebanyak 49 kali. Kenyataan ini menunjuk bahwa al-Aqlu adalah abstrak. Itu sebabnya, ilmu yang mempelajari metode dan kaidah-kaidah untuk berpikir secara benar disebut Ilmu Logika atau Manthiq. Logika diambil dari kata ‘Logos’ dalam Bahasa Latin yang bermakna perkataan atau sabda.  Manthiq diambil dari kata ‘Nataqa’ dalam Bahasa Arab yang juga bermakna berkata atau bersabda. Kenapa ilmu berpikir dihubungkan dengan kata sabda, perkataan, berkata?

            Tentu jawabannya, adalah berkaitan dengan definisi berpikir (al-Aql) yang juga abstrak atau tidak bisa diketahui. Siapakah yang dapat menerka pikiran seseorang yang diam? Kita baru dapat mengetahui aktivitas berpikir seseorang jika dia berkata-kata, berbicara, mengungkapkan apa yang dipikirkannya dengan kata-kata. Dengan memahami kata-kata yang muncul dari mulut seseorang, kita menjadi tahu apakah seseorang itu normal akalnya, mabuk, gila, pintar, bodoh. Demikianlah, ilmu yang mempelajari metode dan kaidah berpikir yang benar disebut Logika atau Manthiq.

            Kata al-Aqlu sendiri selain bersifat implisit juga memiliki makna ganda  (musytarak) yang di dalamnya mengandung empat makna, di mana tiap-tiap makna memiliki konotasi sendiri. Pertama, akal dimaknai sebagai sebuah potensi di dalam diri manusia yang memiliki kemampuan menerima ilmu teoritis (an-nadhariyyah) dan merekayasa produk pemikiran, yaitu semacam insting yang memiliki kesiapan untuk mengenal ilmu teoritis. Potensi inilah yang membedakan manusia dengan hewan dan makhluk lain.

              Kedua, akal adalah ilmu yang keluar ke alam realitas pada manusia sewaktu memasuki usia dewasa (tamyiz), sehingga secara alamiah orang tahu bahwa dua dan tiga lebih banyak dari satu. Ini yang disebut akal dhahir. Untuk menegaskan konotasi yang terbentuk sebagai asumsi dasar, dibutuhkan penentuan paradigma, dogma, doktrin, dan mitos. Inilah tahap ilmu ad-Dharurah (aksiomatik) yang berupa pembenar bagi hukum aksiomatik.

            Ketiga, ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari pengalaman (at-tajribah), di mana akal dengan potensinya mampu mengeksplorasi kecerdasan di dalam mengembangkan kerangka pemikiran berdasar asumsi dasar yang sudah dibangunnya melalui paradigma, dogma, doktrin, dan mitos itu. Lewat pengalaman-pengalaman inilah akal dapat menemukan suatu aliran pemikiran (mazhab) yang tepat. Pada tahap ini, pengenalan akal terhadap ilmu makin kompleks karena kemampuan akal untuk membedakan antara yang tunggal dengan yang jamak, antara yang riil dengan yang abstrak, antara yang empiris dengan yang konseptual.

             Keempat, kekuatan insting (akal) ini berpuncak pada tingkat ‘mengenal akhir persoalan’ dan dapat menekan hasrat keinginan yang selalu mengajak kepada kesenangan  inderawi. Jika kekuatan insting ini dimiliki dengan sungguh-sungguh  oleh seseorang, maka orang bersangkutan akan disebut orang yang berakal karena ia dapat melihat akibat dari perbuatannya sebelum ia melakukan sesuatu.  Masing-masing manusia memiliki potensi yang berbeda dalam kekuatan akalnya, sehingga berawal dari perbedaan itu terjadi pembedaan tipikal antara orang-orang yang tergolong bodoh dan orang-orang yang tergolong cerdas.

            Dalam pemahaman sufisme, kata ‘aql dihubungkan dengan asal katanya ‘iqal yang bermakna ‘belenggu’. Artinya, ‘aql itu ‘membelenggu’ manusia dengan asumsi-asumsi bendawi menjerat kesadaran dalam cengkeraman inderawi. ‘Aql akan selalu membelenggu dan mencengkeram manusia dan menghalanginya untuk menempuh pencapaian ruhani menuju Yang Mutlak tidak terbandingkan (laisa kamitslihi syai’un). Dalam kenaikan menuju Allah (mi’raj), terdapat suatu tempat yang disebut sidrah al-muntaha yang menunjukkan ‘tempat’ akal (belenggu) harus ditanggalkan. Pada waktu Nabi Muhammad Saw mi’raj sampai di sidrah al-muntaha, Malaikat Jibril, yang mendampinginya berhenti karena takut hancur dan musnah. Itu mencerminkan bahwa kedudukan takut adalah kedudukan  tertinggi yang bisa dicapai akal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s