Zuhud, Perbaikan Mentalitas Diri

Penulis: Cholis Waidi

Zuhud adalah satu dari sikap kesempurnaan seorang hamba yang sedang berjalan menuju ridha Allah. Zuhud merupakan tanda kematangan iman dalam hubungan vertikal antara manusia dengan Allah. Mengaplikasikan zuhud sangat penting dalam kehidupan manusia, maka dalam tulisan singkat ini, penulis  mencoba memberi uraian terhadap beberpa poin penting berkenaan dengan tujuan dan fungsi dari zuhud yang banyak diusung oleh para ulama, khsususnya Imam Al-Ghazali.

Zuhud adalah sikap dan kecenderungan untuk menghindari dan mengisolasikan diri dari perkara-perkara duniawi demi mendapat ridha Allah Swt. Zuhud menimbulkan kecenderungan hubungan yang tinggi di antara manusia dengan Allah Swt. Hubungan yang dimaksud adalah hubungan yang diasaskan kepada rasa cinta kepada Allah. Di samping itu, kesan yang baik dan menyeluruh berlaku dalam tindak-tanduk seseorang.

Poin penting dari sikap zuhud adalah mengambil segala sesuatu yang ada di hadapannya sekadar untuk memenuhi keperluan dan kebutuhan tanpa berlebih-lebihan.

Banyak orang berasumsi bahwa zuhud sering diartikan sebagai ungkapan atau refleksi sikap yang anti dunia, menjauh dari harta dan kedudukan, dan seringkali  menimbulkan kesan negaitif seakan-akan, seseorang yang sedang belajar berzuhud ia harus mengosongkan diri dari segala hal yang berbau keduniaan. Stigma seperti ini menimbulkan anggapan bahwa gambaran seorang zâhid berpenampilan lusuh, berpakaian compang-camping, bahkan kumuh.

Kelompok yang berasumsi seperti ini ada benarnya juga, namun tidak seluruhnya, mengingat ada banyak tawaran; seperti Mustafa Al-Ghilayani pengarang buku ‘Idzatun Nâsyi-în. Beliau mengatakan, bahwa zuhud tidaklah harus meninggalkan dunia seutuhnya, seseorang sudah diaggap zahid bila sudah bisa menempatkan posisi dunia secara proporsional, sesuai tempatnya, dan tidak berlebihan.

Banyak ayat-ayat Al-Quran dan Hadis-hadis nabawiyang mengingatkan bahaya dunia dalam kehidupan manusia, jika itu tidak disikapi dengan baik. Dunia dan seisinya, tidak lebih sekedar sarana belaka untuk mencari bekal kehidupan abadi kelak, ia hanya tempat persinggahan. Dunia adalah tempat bercocok tanam, dan hasil panennya tergantung yang ditanam sekarang “ inna al-dunya mazrî’atu al-akhirah”

Namun bila kenyataanya dunia akan mencelakakan agama dan amal ibadah, maka zuhud merupakan solusi terbaik untuk tidak terjatuh pada kenistaan. Dalam konsep zuhud, sesuatu yang dicintai harus lebih baik dari pada yang ditinggalkan. Mencintai akhirat harus lebih baik dari pada dunia.

Al-Ghazali memberikan konsep zuhud pada Abad Pertengahan sebagai bagian dari sumbangsih Al-Gahzali yang sangat besar kepada umat, konsep ini muncul dan terealisasikan sejak Al-Ghazali menulis Buku Ihyâ’ ulûmi ad-Dîn. Dalam buku ini imam Al-Ghazali banyak memaparkan bahaya seseorang yang terlalu gila pada kekuasaan. Dan perlu dicatat, pernyataan Al-Ghazali di atas berangkat dari realitas riil di masyarakat, bagaimana perilaku para penguasa saat itu dan bagaimana para pemuka agama yang banyak menjual agamanya demi jabatan.

Menurut Al-Ghazali, ada tiga unsur yang harus dipenuhi dalam zuhud. Pertama, ilmu. Seseorang yang berilmu luas dalam agama dia akan sangat berhati-hati mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, hal-ihwalnya. Hal tersebut bisa dilihat dari sikap seseorang, bagaimana dia hidup bersosial dan berintraksi dengan sesama dengan menggunakan ahlak yang baik. Ketiga, amaliyah-nya. Seseorang bisa sangat gampang diketahui, apakah dia orang yang zuhud atau bukan tergantung pada apa yang dia lakukan sehari-hari, dekat dengan nilai-nilai agama atau malah sebaliknya.

Al-Ghazali mendasarkan pandangannya tentang zuhud kepada Al-Qur’an, Hadis, maupun sunnah para sahabat. Menurutnya, apa yang disampaikan Al-Quran dalam sebagian ayatnya, “inna ad-dunya matâ’u al-qalîl” misalnya, adalah isyarat bahwa dunia itu dipandang sebagai sesuatu yang akan hancur dan tidak abadi, sehingga Al-Ghazali dengan konsep zuhudnya mengajak umat manusia pada suatu kehidupan yang abadi, yaitu kehidupan akhiratdan keluar dari tipudaya keindahan duniawi.

Adapun poin dan tujuan zuhud adalah, mengupayakan manusia agar selamat dari siksa neraka, jauh dari murka Allah, dan memilih jalan yang lebih mendekatkan diri kepada-Nya, untuk mendapat ridhaNya, juga karena cinta kepada-Nya.
Seorang zâhid, bisa digambarkan sebagai seorang yang menghadapkan dirinya kepada Allah Swt. secara utuh, total dan sempurna, baik perilaku maupun pola pikirnya. Bila dirinya sudah menghadap Allah, maka segala amaliyah-nya hanya bertujuan untuk Allah, dalam pikirannya yang ada hanyalah Allah, tidak lagi kekuasaan atau harta yang sedang diburunya. Hati dan hâliyyah-nya hanyalah tertuju pada keharibaan Allah Swt. semata.
Menurut Al-Ghazali, gambaran umum seseorang, apakah sudah mencapai maqâm zuhud atau belum, bisa diditeksi dari beberpa hal, yaitu dapat menjaga badan ketika lapar dan haus, tidak bersedih ketika ditimpa kesusahan dan musibah atau kehilangan jabatan, dan tidak larut dalam kegembiraan terhadap apa yang telah dimilikinya. Ketika dipuji dan dicela selalumeng introspeksi dan mengembalikan dirinya dan pada Allah. Karena menurut Al-Ghazali, seseorang yang tidak zuhud, implikasinya sangat besar terhadap kesehatan mental. Seseorang yang sedang menduduki sebuah jabatan, apapun bentuknya, kemudian dicabut oleh Allah, bila tidak dibarengi sikap zuhud, maka orang tersebut cenderung stres bahkan mungkin gila.

Contoh kongkritnya lagi, bila seseorang sudah menanamkan dalam dirinya sikap zuhud, maka dia tidak akan bergembira dengan apa yang dicapai dari cita-citanya, dan tidak bersedih pula,  jika misalnya suatu saat nikmat itu hilang. Demikin juga dia akan bersikap sama ketika dipuji maupun dicela.

Bila seseorang sudah bisa menanamkan sikap-sikap di atas, maka dia akan memasukkan dalam hati dan ingatannya untuk selalu patuh dan tunduk kepada Allah Swt. Kalau sudah demikian, maka akan timbul kemesraan hubungan dengan Allah. Bila kemesraan hubungan sudah dicapai, maka ingatan dan hati secara penuh tertuju ke akhirat .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s