Mengulang Sholat & Thuma’nina

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa pada suatu hari, seorang sahabat masuk ke dalam masjid. Saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam juga tengah berada dalam masjid, tepatnya di sudut masjid. Sebagai penghormatan terhadap masjid, sahabat tersebut melakukan shalat sunnah dua raka’at tahiyyatul masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam memperhatikan shalat sahabat tersebut.

Usai mengerjakan shalat, sahabat itu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab:

وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ، ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

 “Wa’alaikas salam. Tolong ulangi shalatmu, karena sesungguhnya engkau tadi belum shalat!”

Sahabat itu kaget dengan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Setahunya, ia telah mengerjakan shalat sejak takbir sampai salam dengan tertib sebanyak dua raka’at. Ia sangat ingat, barusan ia telah mengerjakan shalat. Mungkinkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam tadi tidak melihat shalatnya sehingga beliau menyabdakan seperti itu? Namun ia tidak berani membantah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Dengan tanda tanya dalam hati, ia kerjakan juga perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Ia mengulangi shalatnya kembali, secara tertib dari takbir sampai salam, sebanyak dua raka’at.

Usai mengerjakan shalat, sahabat itu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab:

وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ، ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

 “Wa’alaikas salam. Tolong ulangi shalatmu, karena sesungguhnya engkau tadi belum shalat!”

Sahabat itu kembali terkejut. Keterkejutannya kali ini bahkan lebih besar dari keterkejutannya sebelumnya. Sangat jelas, ia baru saja melaksanakan shalat dua raka’at. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam masih juga menyatakan dirinya belum shalat. Dengan tanda tanya yang semakin besar dalam hati, ia laksanakan juga perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam tersebut. Ia menjauh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, kemudian melaksanakan shalat dua raka’at secara tertib sampai salam.

Usai mengerjakan shalat, sahabat itu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab:

وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ، ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

 “Wa’alaikas salam. Tolong ulangi shalatmu, karena sesungguhnya engkau tadi belum shalat!”

Subhanallah! Tiga kali sahabat itu mengerjakan shalat, tiga kali pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan kepadanya untuk mengulang shalatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menganggap sahabat itu belum sekalipun melaksanakan shalat. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam melihat sendiri sahabat itu tiga kali shalat secara lengkap dan tertib dari takbir sampai salam.

Sahabat itu akhirnya menyerah. Jika ia mengulangi lagi shalatnya, mungkin saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam akan memberikan komentar dan perintah yang sama: ulangi shalatmu karena sesungguhnya engkau tadi belum shalat! Akhirnya sahabat itu berkata dengan penuh harap:

وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ، مَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا فَعَلِّمْنِي

“Demi Allah Yang telah mengutus Anda dengan kebenaran, saya tidak bisa shalat selain seperti shalat yang tadi. (Jika apa yang saya kerjakan tadi salah), maka ajarilah saya!”

Dengan penuh kasih sayang dan kesabaran, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengajari sahabat tersebut. Beliau bersabda,

«إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الوُضُوءَ، ثُمَّ اسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ بِمَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ القُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَسْتَوِيَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا»

“Jika engkau hendak melaksanakan shalat, maka lakukanlah wudhu’ dengan sempurna, kemudian menghadaplah kiblat dan ucapkanlah takbir, kemudian bacalah surat (ayat) Al-Qur’an yang mudah bagimu (yaitu setelah membaca surat Al-Fatihah), kemudian lakukanlah ruku’ sampai engkau thuma’ninah (tenang) dalam ruku’, kemudian angkatlah kepalamu sampai engkau berdiri secara sempurna, kemudian lakukanlah sujud sampai engkau thuma’ninah (tenang) dalam sujud, kemudian angkatlah kepalamu dan duduklah (di antara dua sujud) sampai engkau thuma’ninah (tenang) dalam duduk, kemudian lakukanlah sujud sampai engkau thuma’ninah (tenang) dalam sujud, kemudian angkatlah kepalamu sampai engkau thuma’ninah (tenang) dalam duduk (((dalam riwayat lain: kemudian berdirilah engkau sampai engkau thuma’ninah (tenang) dalam berdiri))), dan lakukanlah hal itu dalam seluruh (raka’at) shalatmu!”

Saudaraku seislam dan seiman…

Kisah di atas bukanlah sebuah kisah fiktif belaka. Ia adalah sebuah hadits yang diabadikan oleh para ulama hadits dalam induk kitab-kitab hadits. Imam Bukhari meriwayatkannya dalam Shahih Bukhari sebanyak empat kali, yaitu pada nomor hadits ke-757, 793, 6251 dan 6667. Imam Muslim meriwayatkannya dalam Shahih Muslim sebanyak dua kali, yaitu pada nomor hadits ke-397 dan 398. Imam Abu Daud meriwayatkannya dalam Sunan Abi Daud nomor hadits ke-856, imam Tirmidzi meriwayatkannya dalam Sunan Tirmidzi nomor hadits ke-303, Imam An-Nasai meriwayatkannya dalam Sunan An-Nasai nomor hadits ke-884, 1053 (dari sahabat Rifa’ah bin Rafi’ Al-Anshari) dan 1314 (juga dari sahabat Rifa’ah bin Rafi’ Al-Anshari), dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya dalam Sunan Ibnu Majah nomor hadits ke-1060.

Jika kita membuka induk kitab-kitab hadits selain enam induk kitab hadits (kutubus sittah) di atas, misalnya Musnad Ahmad, Mushannaf Abdur Razzaq, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Shahih Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Khuzaimah, Mustadrak Al-Hakim, Musnad Al-Bazzar dan Sunan Al-Baihaqi dan lain-lain; niscaya hadits di atas juga akan kita dapatkan.

Hadits tersebut mengajarkan kepada kita bahwa selain unsur gerakan anggota badan dan bacaan lisan, shalat juga memiliki rukun yang tidak boleh diabaikan, yaitu thuma’ninah. Thuma’ninah adalah melakukan setiap gerakan shalat secara sempurna, tenang dan diam beberapa saat sebelum melakukan gerakan shalat berikutnya. Shalat tidak boleh dikerjakan dengan cara menggebut bagai orang mau mengejar kereta dan asal cepat selesai saja.

Jika kita perhatikan shalat kaum muslimin saat ini, sungguh thuma’ninah telah ditinggalkan oleh banyak orang yang shalat pada zaman sekarang, baik ia shalat sendirian maupun shalat berjama’ah sebagai imam atau ma’mum.

Tengoklah bagaimana banyak imam shalat tarawih yang membaca surat Al-Fatihah dalam satu tarikan nafas saja, menurut istilah mereka, begitu cepat, tujuh ayat dibaca bersambung, tanpa pernah waqaf pada akhir ayat. Jangan tanyakan lagi keshahihan bacaannya menurut kaedah ilmu tajwid. Apalagi masalah memikirkan dan menghayati makna ayat-ayat yang dibaca. Adapun bacaan surat atau ayat-ayat setelah surat Al-Fatihah lebih cepat dan amburadul lagi jika ditimbang dengan kaedah ilmu tajwid.

Tengoklah bagaimana banyak imam shalat tarawih yang tidak melakukan thuma’ninah dalam ruku’, i’tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud. Belum lagi ma’mum melakukan ruku’ dengan tenang dan membaca doa ruku’, sang imam telah melakukan i’tidal secara tepat. Tragisnya, belum lagi ia berdiri dengan sempurna dan membaca doa I’tidal, ia sudah bertakbir dan melakukan sujud secara cepat.

Bayangkan, makmum tidak diberi kesempatan untuk menegakkan punggung dan meluruskan tulang-tulangnya sehingga bisa thuma’ninah dalam i’tidal. Ma’mum tidak sempat membaca doa I’tidal. Bahkan, bacaan i’tidal imam menyatu dengan bacaan untuk sujud: sami’a Allahu akbar! Subhanallah, sampai lafal sami’allahu liman hamidah pun hanya terucap sami’a, karena telah disambung secara langsung dan cepat dengan takbir untuk sujud, Allahu Akbar.

Adapun dalam sujud dan duduk di antara dua sujud, imam memaksa para ma’mum untuk berlomba mematu-matukkan dahi mereka ke lantai tanpa sempat meletakkan tujuh anggota sujud, duduk di antara dua sujud dengan sempurna dan tenang, membaca doa sujud dan doa waktu duduk di antara dua sujud. Shalat dilakukan begitu tergesa-gesa seperti sekumpulan ayam yang berebutan mematuk biji-biji jagung di tanah. Tidak ada thuma’ninah sama sekali! Padahal sahabat Anas bin Malik radhiyallahu telah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam telah bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِصَلَاةِ الْمُنَافِقِ: يَدَعُ الْعَصْرَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ – أَوْ عَلَى قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ – قَامَ فَنَقَرَهَا نَقَرَاتِ الدِّيكِ، لَا يَذْكُرُ اللهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا “

“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang cara shalat orang munafik? Orang munafik menunda-nunda shalat Ashar sehingga ketika matahari telah berada di antara dua tanduk setan (hampir tenggelam dan masuk waktu Magrib, pent), ia berdiri melaksanakan shalat Ashar dan mematuk-matuk (dalam sujud) seperti patukan-patukan ayam jantan. Ia tidak berdzikir kepada Allah dalam shalatnya kecuali sedikit saja.” (HR. HR. Ahmad no.13589, Ibnu Hibban no. 260, Abu Ya’la no. 4642 dan Al-Bazzar, 18/163 no. 138. Dinyatakan shahih oleh syaikh Syuaib Al-Arnauth dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani)

Saudaraku seislam dan seiman…

Shalat adalah rukun Islam terpenting setelah dua kalimat syahadat. Shalat adalah tolok ukur kebaikan dan keburukan amal kita di akhirat kelak. Jika shalat kita dikerjakan dengan memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun, sunnah-sunnah, khusyu’ dan thuma’ninah niscaya nilainya akan baik, dan dengan baiknya nilai shalat kita maka amalan-amalan kita yang lain akan dinilai baik oleh Allah Ta’ala. Demikian pula jika shalat kita belum memenuhi syarat, ruku, sunnah, khusyu’ dan thuma’ninah, niscaya nilai shalat kita akan buruk, bahkan bisa tidak sah. Akibatnya amalan-amalan kita yang lain juga akan dinilai buruk oleh Allah Ta’ala.

Para ulama menyebutkan bahwa thuma’ninah adalah salah satu rukun shalat. Jika shalat tidak dikerjakan dengan thuma’ninah, maka shalat tidak sah seperti ditegaskan dalam hadits di atas. Oleh karenanya marilah kita perbaiki shalat kita, dengan menyempurnakan syarta, rukun dan sunahnya serta melaksanakannya dengan thuma’ninah dan mengusahakan kekhusyu’an.

Allah Ta’ala telah memerintahkan thuma’ninah dan khusyu’ dalam shalat dengan firman-Nya,

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua shalat kalian dan peliharalah shalat wustha (shalat Ashar) serta berdirilah karena Allah (dalam salat kalian) dengan khusyu’!(QS. Al-Baqarah [2]: 238)

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat maka mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan mereka tidaklah menyebut (mengingat-ingat) Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa’ [4]: 142)

Allah Ta’ala juga menerangkan keutamaan khusyu’ dan thuma’ninah dalam shalat dengan firman-Nya,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2)

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 1-2)

Wallahu a’lam bish-shawab.

(muhib almajdi/arrahmah.com)

Tambahan:

a. Thuma’ninah ketika ruku’dan sujud.

Diantara kesalahan dalam solat adalah Tidak thuma’-ninah dan  tidak meluruskan tulang punggung ketika  ruku’ dan sujud. Perkara ini berdasarkan hadis-hadis dibawah ini:
– Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Wahai kaum Muslimin! Sesungguhnya tidak ada shalat bagi orang yang tidak melakukan ruku’ dan sujud dengan meluruskan punggungnya.” (Shahih. HR. Ahmad (IV/23), Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (no. 2971), Ibnu Majah (no. 871), Ibnu Khuzaimah (no. 593, 667), ath-Thahawi dalam Syarh Musykilil Aatsaar (no. 3901), Ibnu Hibban (no. 1888-at-Ta’liiqaatul Hisaan), dan selainnya. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 2536))
Bahkan seseorang yang tidak thuma’ninah dalam ruku’ dan sujud dikatakan pencuri yang paling jahat yang mencuri didalam solat, sebagaimana Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:
“Pencuri yang paling jahat ialah yang mencuri di dalam solat; tidak menyempurnakan ruku’nya dan sujudnya.”–Hadith dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Al-Tabarani dan Al-Hakim.
Untuk menjelaskan lagi, agar kita tidak termasuk dalam golongan yang telah disebutkan tadi, marilah kita perhatikan beberapa lagi maksud potongan hadith yang berkaitan. Sebagaimana  sabda baginda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:
“Apabila kamu ruku’, letakkan telapak tanganmu di atas lutut dan luruskan belakangmu dan tetapkan ruku’mu.” Riwayat Ahmad dan Abu Daud.
Tetapkan ruku’mu, bermakna bertenang seketika (thoma’ninah).
-Sabda baginda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:
“Solat seseorang tidak mendapat pahala sehinggalah dia meluruskan tulang belakangnya di dalam ruku’ dan sujudnya.” Abu Awanah, Abu Daud dan Al-Sahmi.
-Sabda baginda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:
“Apabila sujud maka mantapkan muka dan tanganmu sehingga tulang-tulangmu kembali kepada kedudukannya.” – Ibnu Khuzaimah.
 -Sabda baginda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:
“Tidak sah solat orang yang tidak menyentuh hidungnya ke lantai sepertimana dahinya menyentuh lantai.” Al-Darqutni, Al-Tabarani, Abu Naim.
-Sabda baginda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:
“Tidak sempurna solat seseorang itu sehinggah dia sujud sampai tenang persendiannya, lalu mengucap Allahu Akbar, mengangkat kepalanya sampai duduk dengan tetap.” Abu Daud.
b. Thuma’ninah ketika i’tidal ( antara ruku’dan sujud ).
Jika kita bangkit dari ruku’ ( waktu i’tidal ), maka kita harus melakukannya dengan thuma’ninah, iaitu dengan meluruskan tulang belakang ( berdiri tegak ). Sebagaimana  sabda baginda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:
“Allah tidak akan memerhati solat hamba yang tidak meluruskan tulang punggungnya di antara ruku’ dan sujud”– Riwayat Ahmad dan Al-Tabarani.
Maknanya; Bagi orang yang tidak melakukan i’tidal dengan sempurna, Allah tidak mengambil kira solatnya.
-Sabda baginda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:
 “Tidak sempurna solat seseorang sehinggalah ia membaca takbir, lalu ruku’, kemudian membaca sami’Allahulimanhamidah (Allah mendengar orang yang memujiNya), sampai dia berdiri lurus.” Abu Daud dan Al-Hakim.
Ramai orang tidak sempat berdiri lurus ketika bangun dari ruku’. Mereka cuma angkat badan sedikit dan terus sujud. Maknanya tidak ada i’tidal (berdiri lurus setelah ruku) dalam solat mereka; sedangkan i’tidal adalah rukun.Sebagaimana  sabda baginda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:
-Sabda baginda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:
كَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُوْدَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ
“Apabila mengangkat kepalanya (bangkit dari ruku’), maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan (badannya) hingga semua rangkaian tulang belakangnya kembali ke posisinya”. [HR al Bukhari].
Tambahan 2:
TIDAK THUMA’NINAH DALAM SHALATDi antara kejahatan pencurian terbesar adalah pencurian dalam shalat. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :.

“Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya, mereka bertanya : “ bagaimana ia mencuri dalam shalatnya? Beliau menjawab : (Ia) tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya [Hadits riwayat Imam Ahmad, 5 / 310 dan dalam Shahihul jami’ hadits no : 997]

Thuma’ninah adalah diam beberapa saat setelah tenangnya anggota-anggota badan. Para Ulama memberi batasan minimal dengan lama waktu yang diperlukan ketika membaca tasbih. Lihat fiqhus sunnah, sayyid sabiq : 1/ 124 (pent)

Meninggalkan Thuma’ninah, tidak meluruskan dan mendiamkan punggung sesaat ketika ruku’ dan sujud, tidak tegak ketika bangkit dari ruku’ serta ketika duduk antara dua sujud, semuanya merupakan kebiasaan yang sering dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin. Bahkan hampir bisa dikatakan, tak ada satu masjid pun kecuali di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak thuma’ninah dalam shalatnya.

Thuma’ninah adalah rukun shalat, tanpa melakukannya shalat menjadi tidak sah. Ini sungguh persoalan yang sangat serius. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud “ (HR. Abu Dawud : 1/ 533, dalam shahih jami’ hadits No :7224)

Tak diragukan lagi, ini suatu kemungkaran, pelakunya harus dicegah dan diperingatkan akan ancamannya.

Abu Abdillah Al Asy’ari berkata : “ (suatu ketika) Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam shalat bersama shahabatnya kemudian Beliau duduk bersama sekelompok dari mereka. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk dan berdiri menunaikan shalat. Orang itu ruku’ lalu sujud dengan cara mematuk, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam barsabda :

“Apakah kalian menyaksikan orang ini ? barang siapa meninggal dalam keadaan seperti ini (shalatnya) maka dia meninggal dalam keadaan di luar agama Muhammad. Ia mematuk dalam shalatnya sebagaiman burung gagak mematuk darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang shalat dan mematuk dalam sujudnya bagaikan orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma, bagaimana ia bisa merasa cukup (kenyang) dengannya. [Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya : 1/ 332, lihat pula shifatus shalatin Nabi, Oleh Al Albani hal : 131]

Sujud dengan cara mematuk maksudnya : sujud dengan cara tidak menempelkan hidung dengan lantai, dengan kata lain, sujud itu tidak sempurna, sujud yang sempurna adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu’alaihi wasallam besabda : “jika seseorang hamba sujud maka ia sujud denga tujuh anggota badan (nya), wajah, dua telapak tangan, dua lutut dan dua telapak kakinya”. [HR Jamaah, kecuali Bukhari, lihat fiqhus sunnah, sayyid sabiq : 1/ 124]

Zaid bin wahb berkata : Hudzaifah pernah melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, ia lalu berkata : kamu belum shalat, seandainya engkau mati (dengan membawa shalat seperti ini) niscaya engkau mati di luar fitrah (Islam )yang sesuai dengan fitrah diciptakannya Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam.

Orang yang tidak thuma’ninah dalam shalat, sedang ia mengetahui hukumnya, maka wajib baginya mengulangi shalatnya seketika dan bertaubat atas shalat-shalat yang dia lakukan tanpa thuma’ninah pada masa-masa lalu. Ia tidak wajib mengulangi shalat-shalatnya di masa lalu, berdasarkan hadits :

“Kembalilah, dan shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat.

—————————-
(MAKTABAH SUFYAN BIN RANAN)

Tambahan 3

Thuma’ninah dalam Shalat, Badan pun Sehat

Suatu ketika Rasululloh berada di dalam masjid Nabawi, Madinah. Selepas menunaikan shalat, beliau menghadap para shahabat untuk bersilaturahmi dan memberikan tausiyah. Tiba-tiba, masuklah seorang pria ke dalam masjid, lalu melaksanakan shalat dengan cepat.
Setelah selesai, ia segera menghadap Rasululloh dan mengucapkan salam. Rasul berkata pada pria itu, “Sahabatku, engkau tadi belum shalat!” Betapa kagetnya orang tadi mendengar perkataan Rasululloh. Ia pun kembali ke tempat shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti sebelumnya ia melaksanakan shalat dengan sangat cepat.
Setelah melaksanakan shalat untuk kedua kalinya, ia kembali mendatangi Rasululloh. Begitu dekat, beliau berkata pada pria itu, “Sahabatku, tolong ulangi lagi shalatmu! Engkau tadi belum shalat.” Lagi-lagi orang itu kaget. Ia merasa telah melaksanakan shalat sesuai aturan. Meski demikian, dengan senang hati ia menuruti perintah Rasululloh. Tentunya dengan gaya shalat yang sama.
Namun seperti sebelumnya, Rasululloh menyuruh orang itu mengulangi shalatnya kembali. Karena bingung, ia pun berkata, “Wahai Rasululloh, demi Alloh yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melaksanakan shalat dengan lebih baik lagi. Karena itu, ajarilah aku!”
“Sahabatku,” kata Rasululloh dengan tersenyum, “Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakhbirlah, kemudian bacalah al-Fatihah dan surat dalam al-Qur’an yang engkau pandang paling mudah. Lau, rukuklah dengan tenang (thuma’ninah), lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak. Selepas itu, sujudlah dengan tenang, kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang. Lakukan seperti itu pada setiap shalatmu.”
Kisah dari Mahmud bin Rabi’ Al Anshari dan diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih-nya ini memberikan gambaran bahwa shalat tidak cukup sekadar “benar” gerakannya saja, tapi juga harus dilakukan dengan thuma’ninah, tenang, dan khusyuk.
Kekhusyukan ruhani akan sulit tercapai, bila fisiknya tidak khusuk. Dalam arti dilakukan dengan cepat dan terburu-buru. Sebab, dengan terlalu cepat, seseorang akan sulit menghayati setiap bacaan, tata gerak tubuh menjadi tidak sempurna, dan jalinan komunikasi dengan Alloh menjadi kurang optimal. Bila hal ini dilakukan terus-menerus, maka fungsi shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar akan kehilangan makna. Karena itu sangat beralasan bila Rasululloh menganggap “tidak shalat” orang yang melakukan shalat dengan cepat (tidak thuma’ninah).
Hikmah gerakan shalat yang dicontohkan Rasululloh sarat akan hikmah dan manfaat bagi kesehatan. Syaratnya, semua gerak tersebut dilakukan dengan benar, thuma’ninah serta istiqomah (konsisten dilakukan).
Gerakan shalat dapat melenturkan urat syarat dan mengaktifkan system keringat dan system pemanas tubuh. Selain itu juga membuka pintu oksigen ke otak, mengeluarkan muatan listrik negative dari tubuh, membiasakan pembuluh darah halus di otak mendapatkan tekanan tinggi, serta membuka pembuluh darah di bagian dalam tubuh (arteri jantung).
Kita dapat menganalisis kebenaran sabda Rasululloh dalam kisah awal. “Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakhbirlah. “Saat takbir, Rasululloh mengangkat kedua tangannya ke atas hingga sejajar dengan bahu-bahunya. (riwayat Al-Bukhari dari Abdulloh bin Umar). Beliau pun mengangkat kedua tangannya ketika sujud. Apa hikmahnya? Pada saat kita mengangkat tangan sejajar bahu, maka otomatis kita membuka dada, memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat di lengan untuk dialirkan ke bagian otak pengatur keseimbangan tubuh, membuka mata dan telinga kita, sehingga keseimbangan tubuh terjaga.
“Rukuklah dengan tenang (thuma’ninah).” Ketika rukuk, Rasululloh meletakkan kedua telapak tangan di atas lutut. (riwayat al-bukhori dari Sa’ad bin Abi Waqqash). Apa hikmahnya? Rukuk yang dilakukan dengan tenang dan maksimal, dapat merawat kelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang belakang (sebagai syaraf sentral manusia) beserta aliran darahnya. Rukuk pun dapat memelihara kelenturan tuas system keringat yang terdapat di punggung, pinggang, paha dan betis belakang. Demikian pula tulang leher, tengkuk dan saluran syaraf memori dapat terjaga kelenturannya dengan rukuk. Kelenturan syaraf memori dapat dijaga dengan mengangkat kepala secara maksimal dengan mata menghadap ke tempat sujud.
“Lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak.” Apa hikmahnya? Saat berdiri dari dengan mengangakat tangan, darah dari kepala aka turun ke bawah, sehingga bagian pangkal otak yang mengatur keseimbangan berkurang tekanan darahnya. Hal ini dapat menjaga syaraf keseimbangan tubuh dan berguna mencegah pingsan tiba-tiba.
“Selepas itu sujudlah dengan tenang.” Apa hikmahnya? Bila dilakukan dengan benar dan lama, sujud dapat memaksimalkan aliran darah dan oksigen ke otak atau kepala, termasuk pula ke mata, telinga, leher, dan pundak, serta hati. Cara seperti ini efektif untuk membongkar sumbatan pembuluh darah di jantung, sehingga resiko terkena jantung koroner dapat diminimalisasi.
“Kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang.” Apa hikmahnya? Cara duduk di antara dua sujud dapat menyeimbangkan system elektrik serta syaraf keseimbangan tubuh kita. Selain dapat menjaga kelenturan syaraf di bagian paha dalam, cekungan lutut, cekungan betis, sampai jari-jari kaki. Subhanalloh!
Semua gerakan diatas mengandung hikmah kesehatan asal pengerjaannya memenuhi syarat thuma’ninah. Dengan kata lain, orang yang tidak melaksanakan dengan thuma’ninah dalam shalatnya, selain dianggap belum shalat, juga tak bias merasakan nikmat tambahan kesehatan ini. Karena itu, laksanakan thuma’ninah, namun tetap dengan niat karena Alloh. Wallahu a’lam

Dinukil dari majalah elfata edisi 01 volume 7 tahun 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s