Khauf dan Raja’: Keseimbangan Spiritualitas Muslim

Oleh: DR. Saifudin Zuhri, M.Ag.
Terdapat 2 (dua) hal dalam sisi spiritualitas seorang Muslim yang harus seimbang. Kedua hal tersebut adalah: Pertama,  ketakutan dan kekhawatiran atas siksa dan azab Allah akibat perbuatan dosanya. Dalam istilah agama kondisi ini disebut Khauf (rasa takut). Kedua,  pengharapannya atas kemurahan, pengampunan dan kasih sayang Allah. Kondisi ini disebut dengan istilah Raja’.
Konsep Khauf dan Raja’ dalam dunia spiritualitas (tasawuf) dianggap sebagai salah satu haal (kondisi) yang mesti dilalui atau dialami orang yang menapak jalan menuju Allah. Keseimbangan secara proporsional kedua kondisi ini diperlukan agar seseorng tidak tenggelam dalam satu kondisi saja, apakah itu Raja’ saja atau Khauf saja.
Khauf berasal dari kata “khaafa” yang berarti takut. Kata lain yang semakna dengan khauf adalah khasyah (dari kata khasyiya). Perbedaanya terletak pada kondisi subyek (pelaku) kondisi ini. Seseorang yang takut dalam arti khauf mencerminkan ketidakberdayaan secara lahiriyah (fisik). Dia tidak mempunyai daya apa-apa untuk menghindari yang ditakutinya apalagi melawannya. Termasuk dalam katagori ini adalah takut terhadap binatang buas atau takut pada ancaman bom. Sedangkan takut dalam arti khasyyah lebih kepada rasa segan, hormat, patuh, dan tunduk karena kebesaran yang ditakutinya. Di sini, kondisi pelaku tidak takut dalam arti fisik, yakni bukan karena ancaman fisik yang bakal diterimanya.
Penggunaan kedua kata ini dalam al-Qur’an misalnya dijumpai dalam QS. Al-Insaan: 10: innaa nakhaafu min rabbinaa yawman ‘abuusan qamthariiraan (Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan); dan QS. Fathir:28: innama yakhsya Allah min ‘ibadih al-ulama’, (sesungguhnya yang paling patuh kepada Allah ialah hamba-Nya yang ulama).
Khauf dapat diumpamakan seperti kondisi yang dirasakan oleh seorang anak kecil yang ketakutan karena ‘ditakut-takuti ‘ hendak ‘dimakan’ oleh orang dewasa yang bertubuh besar, berewok, dan menyeramkan. Khauf juga dipersamakan dengan perasaan takut yang dialami seseorang yang dikejar-kejar hendak dibunuh oleh sekelompok musuh (misalnya di wilayah konflik)  sehingga dia tidak berani bergerak dan bersuara di tempat persembunyiannya.
Demikianlah kira-kira rasa khauf yang dirasakan seorang muslim saat mengingat dosa-dosanya yang demikian banyak sehingga seakan-akan azab api neraka sudah ada di depan matanya dan hampir pasti membakarnya. Saat mengingat bahwa dia pernah memakan makanan yang haram (mencuri atau korupsi) maka dia menyadari bahwa makanan yang telah menjadi darah dan daging dalam tubuhnya tidak akan bersih kecuali dibakar dengan api neraka. “Siapa saja hamba yang dagingnya tumbuh dari (makanan) haram maka Neraka lebih pantas baginya.” (HR. At-Tirmidzi).
Raja’ berasal dari kata rajaa yarjuu rajaa’an, yang berarti mengharap dan pengharapan. Kata rajaa’ dalam al-Qur’an disebutkan misalnya dalam Surah  al-Baqarah: 218: ”Innal ladziina aamanuu walladziina haajaruu wajaa haduu fii sabiilillahi ulaa ika yarjuuna rahmatallaahi wallaahu ghafuurur rahiim.” (Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). Dalam ayat ini, rajaa’ (pengharapan) atas rahmat Allah begitu kuat pengaruhnya bagi seorang mukmin.
Pengharapan itu menjadikan mereka rela hijrah, meninggalkan segala kesenangan dan harta yang mereka telah miliki. Mereka tidak berkebaratan mengadu nyawa dengan berjihad berperang melawan musuh-musuh mereka.Rajaa’ merupakan sikap optimisme total. Ibarat seorang pedagang yang rela mempertaruhkan seluruh modal usahanya karena meyakini keuntungan besar yang bakal segera diraihnya. Ibarat seorang ‘pecinta’ yang rela mempertaruhkan segala miliknya demi menggapai cinta kekasihnya. Dia meyakini bahwa cintanya itulah bahagianya. Tanpanya, hidup tiada arti baginya. Rajaa’ atau pengharapan yang demikian besar menjadikan seseorang hidup dalam sebuah dunia tanpa kesedihan. Sebesar apapun bahaya dan ancaman yang datang tidak mampu menghapus ‘senyum’ optimisme dari wajahnya.Kondisi khauf dan rajaa’ sebagaimana disebut di atas tercermin dalam hadis Nabi saw., sebagai berikut:

لَوْ يَعْلَمُ اْلمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللهِ مِنَ الْعُقُوْبَةِ ، مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللهِ مِنَ الرَّحْمَةِ ، مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ

Seandainya seorang mukmin mengetahui siksa yang ada di sisi Allah, maka dia tidak akan berharap sedikitpun untuk masuk syurga. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, maka dia tidak akan berputus asa sedikitpun untuk memasuki Syurga-Nya. (HR. Muslim)

Ketika seseorang berada dalam kondisi khauf, maka yang selalu terbayang baginya adalah siksa dan azab Allah yang sangat pedih. Bagaimana tidak? Bukankah hidup ini penuh dengan godaan dosa. Di setiap langkah, laku, dan ucap, selalu saja ada salah dan khilaf. Nikmat Allah berupa mata untuk melihat hanya pantas memandang hal-hal baik. Manakala mata tersebut digunakan memandang hal yang haram maka yang paling pantas untuknya adalah mengembalikan mata itu kepada Allah. Telinga, tangan, kaki, dan segala organ tubuh yang Allah karuniakan kepada manusia hanya diperuntukkan untuk melaksanakan ketaatan. Manakala digunakan untuk maksiyat, maka seseorang tidak berhak lagi atas segala karunia itu. Dan Allah ‘sangat’ berhak untuk menyiksa siapapun yang menyalahgunakan nikmat dan karunia-Nya. Dalam kondisi ini, tidak seorang pun yang boleh merasa aman dari siksa tersebut. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf: 99:

فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya: “Tiada seorang pun yang merasa aman dari siksa Allah kecuali dia termasuk golongan yang merugi”.

Sebaliknya, dalam kondisi rajaa’, seseorang dapat memastikan bahwa dia pasti mendapat rahmat, kasih sayang, dan ampunan Allah. Bagaimana tidak? Padahal orang kafir pun, sebagaimana hadis di atas, berhak untuk berharap masuk syurga. Bahkan Allah melarang siapapun untuk berputus asa dari rahmat-Nya. Allah berfirman dalam QS. Yusuf: 87:

إِنَّهُ لا يَايْئسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Artinya: “Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali golongan orang-orang kafir”.

Dalam sebuah hadis juga disebutkan: “Sungguh Allah lebih berbahagia dengan taubat hamba-Nya ketimbang seorang yang kehilangan hewan kendaraannya di daerah tak bertuan. Hewan beserta makanan, minuman dan segala perbekalannya hilang. Orang itu putus asa untuk menemukan hewan kendaraannya. Ia datang ke sebuah pohon dan tertidur di bawah naungannya. Tapi tiba-tiba ketika bangun, hewan yang hilang itu berdiri di sisinya. Ia pun memegang tali kekangnya. Saking gembiranya ia salah ucap dan mengatakan, “Ya Allah engkau hambaku sedang aku Tuhanmu…” (HR Muslim).

Ketika seseorang terlena dalam optimisme yang tinggi (rajaa’), dia tidak merasa khawatir akan dosa-dosa yang telah, sedang, atau akan diperbuatnya. Baginya, ampunan Allah demikian luas sehingga dia dapat bertaubat kapan saja. Dia akan merencanakan taubat setelah puas melakukan kemaksiyatan. Sebaliknya, dalam keadaan khauf yang berlebihan, hidup seseorang akan kacau dan tidak terkendali. Rasa bersalah dari dosa besar yang telah dilakukannya menutupi harapannya untuk kembali ke jalan yang benar. Dia merasa dan meyakini bahwa apapun kebaikan yang diperbuatnya tidak akan sebanding dengan dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya. Akibatnya, dia tidak segera bertaubat, namun terus menenggalamkan diri dalam kemaksiyatan.

Yang layak bagi seorang muslim dan mukmin adalah konsep keseimbangan spiritualitas. Artinya, dia harus menggabungkan antara Khauf dan Rajaa’ dalam porsi yang benar. Dalam kondisi Khauf, dia meyakini betul akan siksa jika dia melanggar aturan-aturan agama. Namun saat terlanjur dan tergelincir dalam dosa dan maksiyat, dia segera bertaubat dan yakin bahwa taubatnya akan diterima. Optimisme atas kasih sayang dan ampunan Allah membuatnya tersenyum di setiap saat. Namun takutnya kepada siksa atas dosa membuatnya mencucurkan air mata di tengah malam saat SHALAT TAHAJJUD. Wallahu a’lam. Dz.

Tambahan:

A.  Khauf (takut kepada Allah SWT)
1.    Pengertian Khauf
Secara bahasa Khauf berasal dari kata khafa, yakhafu, khaufan yang artinya takut. Takut yang dimaksud disini adalah takut kepada Allah SWT. Khauf adalah takut kepada Allah SWT dengan mempunyai perasaan khawatir akan adzab Allah yang akan ditimpahkan kepada kita. Cara untuk dekat kepada Allah yaitu mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Firman Allah surah An-Nur 52:
`Artinya: “Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.
Firman Allah Ta’ala :
 Artinya: “Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Q.S Al- Imran : 175)
2.    Khauf (Takut) ada tiga macam:
a.     Khouf thabi’i seperti halnya orang takut hewan buas, takut api, takut tenggelam, maka rasa takut semacam ini tidak membuat orangnya dicela akan tetapi apabila rasa takut ini menjadi sebab dia meninggalkan kewajiban atau melakukan yang diharamkan maka hal itu haram.
b.    Khouf ibadah yaitu seseorang merasa takut kepada sesuatu sehingga membuatnya tunduk beribadah kepadanya maka yang seperti ini tidak boleh ada kecuali ditujukan kepada Allah ta’ala. Adapun menujukannya kepada selain Allah adalah syirik akbar.
c.    Khouf sirr seperti halnya orang takut kepada penghuni kubur atau wali yang berada di kejauhan serta tidak bisa mendatangkan pengaruh baginya akan tetapi dia merasa takut kepadanya maka para ulama pun menyebutnya sebagai bagian dari syirik.
3.    Alasan manusia takut kepada Allah
a.    Karena kekuasaan dan keagungan Allah
b.    Karena balasan Allah
c.    Karena taufiq dan hidayah yang diberikan kepada manusia
d.   Karena rahmat dan minat yang dilimpahkan kepada manusia.
Allah bukanlah Dzat yang harus ditakuti dalam arti dijauhi, tetapi dipatuhi segala perintah-Nya dan dijauhi segala larangan-Nya. Allah Maha Pengasih. Lagi Maha Penyayang, Allah Maha Penolong, juga Maha Pengampun.
B.  Raja’ (Mengharap ridho kepada Allah SWT)
1.    Pengertian Raja’
Raja’ secara bahasa artinya harapan atau cita-cita. Raja’ adalah mengharap ridho, rahmat dan pertolongan kepada Allah SWT, serta yakin hal itu dapat diraihnya, atau suatu jiwa yang sedang menunggu (mengharapkan) sesuatu yang disenangi dari Allah SWT, setelah melakukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya sesuatu yang diharapaknnya. Jika mengharap ridha, rahmat dan pertolong Allah SWT, kita harus memenuhi ketentuan Allah SWT. Jika kita tidak pernah melakukan shalat ataupun ibadah-ibadah lainnya, jangan harap meraih ridha,rahmat,dan pertolongan Allah SWT.
Firman Allah Ta’ala :
`Artinya:  “Untuk itu, barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Robb-Nya.” (QS.Al-Kahfi:110)
2.    Macam-macam Raja’
Dua bagian termasuk termasuk raja` yang terpuji pelakunya sedangkan satu lainnya adalah raja` yang tercela. Yaitu:
a.    Seseorang mengharap disertai dengan amalan taat kepada Allah di atas cahaya Allah, ia senantiasa mengharap pahala-Nya
b.    Seseorang yang berbuat dosa lalu bertaubat darinya, dan ia senantiasa mengharap ampunan Allah, kebaikan-Nya dan kemurahan-Nya.
c.    Adapun yang menjadikan pelakunya tercela ialah seseorang yang terus-menerus dalam kesalahan-kesalahannya lalu mengharap rahmat Allah tanpa dibarengi amalan. Raja` yang seperti ini hanyalah angan-angan belaka, sebuah harapan yang dusta.
3.    Sifat Raja’ kepada Allah SWT
a.    Optimis
Optimis adalah memungkinkan seseorang melewati setiap warna kehidupan dengan lebih indah dan membuat suasana hati menjadi tenang.
Allah berfirman dalam Q.S Yusuf ayat : 87
Artinya:                                   
“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. ”
Rasullah SAW bersabda:
Artinya: “Orang berdosa yang mengharap rahmat Allah jauh lebih disayang Allah dari pada orang taat yang berputus asa.” (H.R Ibnu Mas’ud)
b.    Dinamis
Adalah sikap untuk terus berkembang, berfikir cerdas, kreatif, rajin, dan mudah beradaptasi dengan lingkungan.
Orang yang bersikap dinamis tidak akan mudah puas dengan prestasi-prestasi yang ia peroleh, tetapi akan berusaha terus menerus untuk meningkatkan kualitas diri. Inilah ajaran dinamis seperti yang terkandung dalam Q.S Al-Insyirah:7
Artinya:
“Apabila engkau telah selesai mengerjakan suatu urusan, maka bergegaslah untuk menyelesaikan urusan yang lain.”
Rasulaah SAW bersabda:
Artinya: “Bekerjalah kamu untuk urusan dunia, seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati esok hari.” (H.R Ibnu Majah).
4.    Factor dalam Raja’:
a.    Selalu berpegang teguh kepada tali agama Allah yaitu agama Islam
b.    Selalu berharap kepada Allah, agar selalu diberikan kesuksesan dalam berbagai macam usaha dan mendapat ridha dari-Nya
c.    Selalu merasa takut kepada ancaman dan siksaan Allah di hari akhirat kelak
d.   Selalu cinta (mahabbah) kepada Allah
5.    Hikmah Raja’
a.    Menciptakan prasangka baik membuang jauh prasangka buruk
b.    Mengharapkan rahmat Allah dan tidak mudah putus asa
c.    Menjadikan dirinya tenang, aman, dan tidak merasa takut pada siapapun kecuali kepada Allah
d.   Dapat meningkatkan amal sholeh untuk bertemu Allah
e.    Dapat meningkatkan jiwa untuk berjuang dijalan Allah
f.     Dapat meningkatkan kesadaran bahwasannya azab Allah itu amat pedih sehingga harus berpacu dalam kebaikan
g.    Dapat meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang telah diteriamnya
h.    Dapat menghilangkan rasa hasud, dengki, dan sombong kepada orang lain
i.      Dapat meningkatkan rasa halus untuk mencintai sesama manusia dan dicintainya.
Baik Khauf maupun raja` merupakan dua ibadah yang sangat agung. Bila keduanya menyatu dalam diri seorang mukmin, maka seluruh aktivitas kehidupannya akan menjadi seimbang. Dengan khauf akan membawa diri seseorang untuk selalu melaksanakan ketaatan dan menjauhi perkara yang diharamkan; dengan raja` akan menghantarkan dirinya untuk selalu mengharap apa yang ada di sisi Allah.

DAFTAR PUSTAKA

BKS BSL-PAI-SMA/SMK Semester Gasal Kelas XI
Mahjuddin, H, Drs. 2009, Akhlak Tasawuf 1; Mukjizat Nabi, Karamah Wali dan Ma’rifah suci. Jakarta : Kalam Mulia
Alfat, Masan, H, Drs. 1994, Aqidah Akhlak. Semarang : PT Karya Toha Putra
Tambahan 2 :

وَاْلأَمْنُوَاْلإِيَاسُ يَنْقُلاَنِ عَنْ مِلَّةِ اْلإِسْلاَمِ، وَسَبِيْلُ الْحَقِّ بَيْنَهُمَا لأَِهْلِ الْقِبْلَةِ
(68) Rasa aman dan putus asa dapat mengeluarkan siapa pun dari millah Islam. Jalan yang benar adalah di antara keduanya, jalan Ahli Kiblat.

Raja` yang benar akan mendorong seorang hamba untuk taat kepada Allah, melaksanakan berbagai perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya demi mengharapkan ridha dan surga-Nya. Jika ada orang yang mengaku memiliki raja` tetapi ia tidak taat kepada Allah, tidak melaksanakan perintah-Nya dan tidak pula meninggalkan larangan-Nya dengan alasan Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah, sungguh raja` yang dimilikinya telah berlebihan. Raja` yang berlebihan atau dalam matan di atas disebut amn: merasa aman dari ancaman dan azab Allah. Raja` yang berlebihan sangat berbahaya, dapat mengakibatkan seseorang keluar dari millah Islam. Yakni apabila seseorang menyangka akan diampuni dan dirahmati oleh Allah atas segala kemaksiatan yang dilakukannya. Allah berfirman, “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)
Sama halnya dengan raja`, khauf yang berlebihan atau dalam matan di atas disebut ya`s: berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah juga berbahaya dan dapat mengakibatkan seseorang keluar dari millah Islam. Yaitu ketika seorang berputus asa dari rahmat Allah, merasa dan yakin dosa-dosanya tidak akan diampuni oleh Allah, sehingga selama di dunia dia memilih untuk berbuat semaunya. Dia berpikir, daripada di dunia sengsara dan di akhirat masuk neraka, lebih baik bisa menikmati kehidupan fana di dunia meskipun di akhirat telah ditunggu oleh neraka. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir.” (Yusuf: 87)

Komposisi Ideal
Ketika seorang mukmin berbuat dosa, pastilah ada khauf yang menyertainya. Kemudian ia akan bertaubat. Sedangkan jika ia beramal shalih, semestinyalah disertai dengan raja`. Banyak sekali orang yang keliru. Mereka memosisikan raja` tidak pada tempatnya. Mereka berharap tetapi tetap berada dalam kemaksiatan. Mereka berkata, “Sesungguhnya Allah Mahaluas ampunannya. Dia Maha Pengasih dan Maha Pengampun.” Ini bukan raja`. Ini adalah ghurur, tertipu.
Harits al-Muhasibiy memberikan perumpamaan untuk mereka yang keliru ini. “Mereka seperti budak yang diiming-imingi uang 1000 dirham dan rumah tempat tinggal jika melaksanakan semua perintahnya dan akan dipenjara dan dicambuk 1000 kali jika tidak melakukannya. Maka budak itu tidak mengindahkan perintah tuannya seraya berkata, ‘Sesungguhnya tuanku mencintaiku dan akan memberiku apa yang dijanjikannya.’ Dia menghadap tuannya dengan impian palsunya. Maka tuannya pun memenjarakannya, mencambuknya, dan tidak memberinya apa-apa.”
Sebenarnyalah raja` yang benar menuntut khauf yang lurus dan begitu pula sebaliknya. Jika seseorang berharap mendapatkan ridha Allah dan surga-Nya, mestinya ia takut kepada azab dan siksa-Nya. Apa yang diharapkan dan dikhawatirkannya itu bisa diraihnya dengan mendekatkan diri dan taat kepada-Nya.
Keadaan yang ideal adalah keseimbangan antara raja` dan khauf di bawah kuasa cinta. Cinta laksana binatang tunggangan, raja` adalah cemetinya dan khauf adalah pengendaranya. Allah—dengan karunia dan kemurahan-Nya—yang akan menyampaikan kepada harapan.
Jika kesulitan, para salaf lebih suka sayap khauf lebih kuat daripada sayap raja` pada hari-hari biasa. Sedangkan pada saat hendak meninggalkan dunia fana untuk selamanya, sayap raja` mesti lebih dikuatkan daripada sayap khauf. Ini menurut Abu Sulaiman ad-Daraniy. Dia berkata, “Seyogianya khauf lebih menguasai hati seseorang. Jika raja` yang menguasainya, rusaklah hatinya.”
Rasulullah SAW bersabda,
لاَ يَمُوْتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ
“Jangan sampai salah seorang dari kalian meninggal dunia kecuali berbaik sangka kepada Rabb-nya.” (HR. Ahmad dan Muslim)
Raja` bukan tamanni (harapan kosong). Tamanni disertai kemalasan, sedangkan raja` disertai dengan kesungguhan. Oleh karena itulah orang-orang arif sepakat, raja` tidak benar kecuali didahului oleh amal.
Ahmad bin ‘Ashim ditanya, “Apakah pertanda seseorang itu memiliki raja` yang benar?” Beliau menjawab, “Apabila ia diliputi kebaikan, ia diberi ilham untuk bersyukur, mengharapkan kesempurnaan nikmat Allah di dunia dan di akhirat serta kesempurnaan maafnya di akhirat.”

Atsar tentang khauf yang lurus
Khauf yang akan mengantarkan seseorang kepada kebaikan adalah khauf yang diikuti dengan pengakuan dosa.
Abu Sulaiman ad-Daraniy berkata, “Apabila khauf meninggalkan hati, binasalah ia.”
Ibrahim bin Sufyan berkata, “Jika khauf bertahta di hati, ia akan membakar tempat-tempat yang didiami oleh syahwat padanya dan akan mengusir dunia darinya.”
Dzunnun berkata, “Manusia tetap berada di jalan yang benar selama khauf tidak meninggalkannya. Jika khauf pergi, ia pun tersesat jalan.”
Khauf yang terpuji dan benar adalah khauf yang menghalangi seseorang dari berbagai perkara yang diharamkan oleh Allah.
Ibnu Taymiyah berkata, “Khauf yang terpuji adalah khauf yang menghalangimu dari berbagai perkara yang diharamkan oleh Allah.”
Awal khauf adalah takut jika dikenai sangsi atau hukuman. Ini adalah khauf yang membuat iman jadi benar. Khauf yang lurus hadir karena membenarkan ancaman Allah, ingat akan dosa jika ia melakukan kemaksiatan, dan mewaspadai akibat yang akan dipetik, membayangkannya di depan mata dan tidak pernah lalai darinya.
Khauf terkait dengan dua perkara: sesuatu yang dikhawatirkan kejadiannya dan segala perkara yang menyebabkan hal buruk akan terjadi. Sekadar apa rasa takut seseorang terhadap perkara yang menjadi faktor hadirnya perkara yang ditakuti, sekadar itu pulalah khaufnya. Seseorang yang tidak percaya dan tidak yakin bahwa faktor suatu perkara benar-benar dapat mengantarkannya kepada perkara yang dikhawatirkannya, ia tidak akan takut kepadanya.

Buah sinergi raja` dan khauf
Raja` yang benar dan khauf yang lurus akan bersinergi dan menghasilkan buah yang baik. Di antara buah sinergi keduanya adalah:
1. Terejawantahkannya ubudiyah dan kefakiran seorang hamba kepada Allah. Dengan raja` dan khauf yang ada, seseorang akan selalu memohon kebaikan Allah dan berharap supaya dijauhkan dari siksa-Nya.
2. Seseorang yang memiliki keseimbangan raja` dan khauf tak akan pernah meninggalkan doa kepada Allah. Sebab dia tahu, hanya Allah yang akan mengabulkan permohonannya dan menghindarkannya dari segala marabahaya yang ditakutkannya; marabahaya di dunia dan di akhirat. Dengan senantiasa berdoa, ia akan terhindar dari murka Allah. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang tidak meminta kepada Allah, Dia akan murka kepada-Nya.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad).
3. Raja` akan mengantarkan kepada cinta. Ketika seseorang mendapati Allah mengabulkan permintaan-Nya, mestinya ia akan bertambah cinta, syukur, dan ridha kepada Allah.
4. Cinta tak terpisahkan dari raja`. Demikian pula sebaliknya. Khauf dan raja yang benar pun demikian adanya.
5. Raja` dan khauf akan membuat seseorang dekat dengan Allah. Ketika dia mengharap sesuatu dan menunggu jawaban dari Allah, dia akan selalu teringat Allah. Begitu pula saat ia mengkhawatirkan sesuatu, ia akan ingat Allah dan memohon kepada-Nya supaya dijauhkan darinya.
6. Seseorang yang digerakkan oleh cinta-Nya, khauf akan selalu mengingatkannya, dan raja` akan menjadi pendorongnya.
7. Seseorang yang tahu nilai dan harga sesuatu yang akan diraihnya, pasti pengorbanan yang tak seberapa akan terasa ringan baginya.
Semoga Allah memberikan karunia keseimbangan raja` dan khauf kepada kita semua. Amin.

Imtihan Syafi’i ~ ar-risalah

Tambahan 3:

MAHABBAH, KHAUF & RAJA’

TIGA KELENGKAPAN UBUDIYAH

a. Jika Allah sudah mencintai

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ؛ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قاَلَ: “إِذَا أَحَبَّ اللهُ عَبْدًا ناَدَى جِبْرِيْلَ: إِنِّيْ قَدْ أَحْبَبْتُ فُلاَنًا، فَأُحِبَّهُ، فَيُنَادَي فِي السَّمَاءِ، ثُمَّ يَنْزِلُ لَهُ اْلمَحَبَّةُ فِي أَهْلِ اْلأَرْضِ، فَذَلِكَ قَوْلُ اللهِ، عَزَّ وَجَلَّ: إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا ﴿البخاري كتاب بدء الخلق ,باب ذكر الملائكة (3037), وكتاب الأدب برقم: 5693, ومسلم, برقم:2637﴾

“Apabila Allah s.w.t mencintai seorang hamba, dipangil Nya malaikat Jibril: “aku sungguh mencintai si Fulan, cintai pula dia. Malaikat Jibril mengumumkan pada penduduk langit. Kemudian ia turunkan untuk orang itu kecintaan pada penduduk bumi. Yang demikian itu adalah maksud firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Maryam:96)[1]

b. Tafsirus-Sunnah terhadap surah Maryam:96

وَأخْرَجَ الْحكيم الترمذي وابن مردويه عن عليّ قال : سَأَلْتُ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم عَنْ قَوْلِهِ : {سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرحمن وُدّاً } ماَ هُوَ؟ قَالَ : « الْمَحَبَّةُ الصَّادِقَةُ فِي صُدُوْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ »

Dari ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anh, aku bertanya kepada Rasulullah s.a.w tentang firman Allah (Maryam:96), apa maksudnya? Nabi s.a.w bersabda: “Maksudnya cinta yang benar di dada-dada orang mu’min.” (HR.Turmudzi dan Imam Ibnu Mardaweih)

c. Ulama Salaf tentang tatacara ibadat yang benar

قاَلَ بَعْضُ السَّلَفِ:مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِالْحُبِّ وَحْدَهُ فَهُوَ زِنْدِيقٌ وَمَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِالْخَوْفِ وَحْدَهُ فَهُوَ حَرُوْرِيٌّ وَمَنْ عَبْدَهُ بِالرَّجَاءِ وَحْدَهُ فَهُوَ مُرْجِئٌ وَمَنْ عَبَدَهُ بِالْحُبِّ وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ مُوَحِّدٌ, وقد جمع تعالى هذه المقامات الثلاثة بقوله (الإسراء:57) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ﴿الإمام ابن تيمية,مجموع فتوى﴾

Berkata sebagian Salaf:”Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan;(a) mengandalkan cinta semata-mata, maka ia bisa menjadi zindiq (munafik), (b) hanya mengandalkan khauf semata, ia bisa menjadi khawarij, (c) hanya mengandalkan raja’ (harap), maka ia bisa menjadi murji’ah. Dan siapa yang beribadah kepada Allah dengan menggabungkan ketiganya, maka dialah seorang mu’min sejati. Ketiga maqam ini terhimpun dalam firman Allah surat Al Isra’:57.” (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa)

LATARBELAKANG

a.Mîzanul Ma’rifah as Shahîhah [timbangan pemahaman yang lurus] seiring dengan maraknya trend “para pencari Tuhan” dan bermunculannya “bengkel-bengkel rohani” akhir-akhir ini, tampaknya menghajatkan pada panduan dan tuntunan yang jelas dan terarah. Jangan sampai niat baik Para Pencari Tuhan ini tidak menemukan jalan yang lurus atau sampai pada tujuan yang dicari, namun salah alamat atau keliru parkir. Apalagi sejarah as-salikin [para penempuh jalan], penuh dengan liku-liku, baik dalam hal ajaran, ritual amal, keyakinan lokal dengan segenap pengalaman jenjang pendakian spiritual.

b. Tentang mahabbah, Khauf dan Raja’, ketiganya adalah timbangan stabilitas ibadah yang membuat ubudiyah seseorang terus meningkat; kualitas maupun kuantitasnya. Pada waktu yang sama tidak membuatnya bosan bertaqarrub, tidak jemu bermujahadah, tidak malas melakukan firar sebagai tindakan revoulusi ilmu, iman dan amal.[2] Rasulullah s.a.w adalah orang yang tinggi cintanya, paling dalam takutnya, paling banyak harapnya kepada Allah menyusul para Sahabat dan generasi setelahnya. Karena itu, ilmu’n-nafi’, qalbu’n-khasyi’, nafsu’n-muthma’innah adalah kutub utama yang mesti dimiliki oleh para Salik.

c. Dari sudut ‘aqidah: mahabbah, khauf dan raja’ adalah ruh/nyawanya iman, yang menggantung pada tha’mul îmân atau halâwatul îmân, rasa dan manisnya iman, sebagai hasil atau buah dari ma’rifah.[3] Kerja ma’rifah adalah shilah, melakukan kontak dan komunikasi hablun minallâh dan hablun minannâs. Sedang pupuk ma’rifah adalah terpeliharanya istiqamah, tsabat dan qanit dalam hati, lisan maupun perbuatan.[4]

d. Dari sudut Syari’ah;

hubb, khauf dan raja’ merupakan kelengkapan ibadah (kamâlul ‘ubûdiyah) yang mengantarkan para pencari Tuhan (as-sâlik) ke jenjang sa’âdah. Tanpa ketiganya, ibadah jadi timpang, tidak stabil, suka futur dan panas-panas tahi ayam. Lama-lama orang ini bisa jadi hamba matere’ dan menganggap agama bagai bengkel.[5] Ibadah tanpa cinta, zindiq namanya. Ibadah tanpa khauf, khawarij namanya. Ibadah tanpa raja’, murji’ah namanya. Ahabbul ‘A’mâl [amal utama] dalam hadits Imam Ahmad dari Abu Dzar adalah al hubbub fillâh wal bughdhu fillâh, cinta karena Allah dan benci karena Allah.

e. Dari sudut Mu’amalah; cinta, khauf dan raja’ adalah konsep diri[6] sekaligus ziynatallâh, hiasan dari Allah yang memperindah penampilan (tajammul), di mana libasul taqwa menjadi aura utamanya. Cinta yang membuat orang berseri-seri, punya semangat dan keinginan kuat dalam berjuang dan berkorban meraih mardhatillah. Khauf melengkapi cinta. Orang setia, karena ia punya khauf, yaitu takut ditinggalkan atau kehilangan jika ia menduakan cintanya atau menyelisihi keinginannya. Takut adalah rem syahwat, polisi hawa nafsu, pagar bagi kabâ’ir. Takut mewariskan sifat ta’dzim wat-takrim, menghormati dan memuliakan orang. Orang berbuat kasar, kurang adab, keras kepala, suka lalai dan berani melakukan maksiat; lantaran ilmu takutnya yang tipis. Jadi, pintu taat adalah takut. Terpeliharanya harga diri seseorang, lantaran adanya khauf. Ra’sul hikmah makhâfatullâh (رأس الحكمة مخافة الله), pangkal hikmah adalah takut pada Allah.

Sedang raja’ ibarat minyak bagi lampu, air bagi ikan atau obat bagi pasein. Raja’ bagai denyut bagi jantung, nawaitu bagi hati, gerak bagi badan, ikhtiar bagi usaha, daya bagi upaya, pendeknya raja’ adalah air kehidupan. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Fusshilat:39).

FAWA’ID:

a. Pondasi tegaknya ‘ubudiyah iyyakana’budu wa’iyyakanasta’in seorang terkonsentrasi pada tiga asas; asas cinta (mahabbah), asas takut (khauf) dan asas harap (roja’). Cinta membuat seseorang bersemangat, tidak cepat menyerah dan putus asa. Cinta membuat taqarrub seorang hamba yang tadinya hanya satu jengkal menjadi satu hasta (syibran ilā zirā’an), dari satu hasta menjadi satu depa (zirā’an ilā bā’an), dari hanya berjalan menjadi seperti orang yang lari (yamsyī ilā harwalah). Sedang takut membuat orang lari dan menjauh, tidak berani mendekat kepada dosa dan maksiat. Terpelihara dari syubhat dan syahwat, halal-haramnya terjaga. Sedang roja’ membuat seseorang merasa miskin pahala, kaya dengan amal al-baqiyat as-shalihat (al-Kahfi:46; Maryam:76).

b. Bagaimana cara Allah s.w.t menanamkan rasa mahabbah? Mahabbah tumbuh lewat targhib, takut tumbuh lewat tarhib dan raja’ dengan yakin dan tawakkal. Allah memiliki sifat ‘dzulfadhli’ dan meletakan dzul fadhli itu ‘berada di tangan-Nya’, sehingga kefaqiran manusia untuk berharap kepada-Nya, sampai kapanpun tidak akan pernah kering (Al Hadid:29), wallahul ghaniyyu wa antumul fuqara’ (Muhammad:38). Manusia ini “mahallul khatha’ wannisyan”, sehingga membuatnya tetap berharap ampunan (Al Hadid:21). Dengan sifat manusia yang serba kekurangan, kerusakan dan keterbatasan menyebabkan manusia merasa butuh pada yang lain, pada Zat Jalla Jalaluh Yang Maha Sempurna. Para ahli Suluk menyebutnya, dzillât ‘ubûdiyah dan ‘izzât rubûbiyah, kehinaan hamba dan kemulian Gusti. Lafadz doa’ “allâhumma inni as’aluka” dan “allâhumma inni a’ûdzu bika”, bisa mewakili bahasan ini.

c. Klimaks tauhid ada pada mahabbah, khauf dan raja’. Ketiga bangunan tauhid ini, harus dipupuk dalam hati, lisan, pendengaran dan penglihatan setiap muslim, supaya menjadi cahaya taqwa yang menyinari setiap langkahnya; wa’alzamahum kalimat-taqwa wa kānuw ahaqqa bihā wa’ahlahā (al-Fath:26). Sehingga semua urusannya, tarikan nafasnya bersendikan kalimat taqwa ini; baik ‘ubudiyah, do’a, nadzar maupun hajatnya hanya untuk Allah sesuai bunyi bai’at hariannya, inna shalatiy wa nusuki wa mahyaya wamamati lillahi rabbil ‘alamin. Demikian pula dengan urusan hidup dan mati, rezki dan harta, bahaya dan manfaat, tak berhak disandarkan pada kekuatan lain selain lahawla walaquwwata illabillahi.

Pesan Imam Fudha’il Ibnu ‘Iyadh berikut ini semoga menjadi kunci pembuka untuk memiliki ketiga sifat di atas.

وقال الفضيل بنُ عياض : الحبُّ أفضلُ من الخوف ، ألا ترى إذا كان لك عبدان أحدهما يُحبك ، والآخر يخافك ، فالذي يُحبّك منهما ينصحُك شاهداً كنت أو غائباً لِحبه إيَّاك ، والذي يخافك عسى أنْ ينصحَك إذا شَهِدْتَ لما يخاف ، ويغشك إذا غبتَ ولا ينصحُك . ﴿انظر : التخويف من النار للمصنف : 17

“Cinta lebih baik dari takut. Perhatikanlah, jika kamu punya dua budak/pembantu; yang satu menyayangimu, yang satu lagi takut padamu. Pembantu yang suka padamu akan selalu menasehatimu, baik ketika kamu dihadapannya atau tidak ada di sisinya, lantaran sifat cintanya kepadamu. Sedang pembantu yang satu lagi, hanya akan menasehatimu jika kamu berada di hadapannya, lantaran kekhawatirannya. Dan dia akan mengabaikanmu jika engkau pergi tanpa menasehatimu.” (sumber: At Takhwif Minannar, hal.17)

d. MAKNA MAHABBAH. Hubb satu akar kata dengan habbah (biji). Cinta memang ibarat biji yang hanya bisa tumbuh dengan ilmu dan mujahadah, dengan amal terutama perjuangan dan pengorbanan yang kita sebut dengan jihad. Al Qur’an menyebut tumbuhnya biji kaitannya dengan pahala sedekah (2:261), pengetahuan Allah terhadap barang gha’ib (6:59), timbangan amal (21:47; 31:16).

Hubb adalah sifat Allah yang melekat dalam zat dan perbuatan-Nya, yang wajib kita teladani sebagai wujud takhalluq bi akhlaqillah, beretika dengan etika Allah. Allah mencipta, menghukum, menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya dengan cinta (6:95). Dan menjadikan cinta ini sebagai fithrah dalam diri makhluk, terutama sekali pada induk yang betina (al umm). Jika berbentuk nilai, hub adalah iradah wal ibtigha’, keinginan dan harapan, an niyat wal hirsh, niat dan semangat, al hawa wan nafsu (jiwa dan nafsu).

Cintalah yang mengantarkan para sahabat menjadi generasi terbaik, berhimpun dalam mu’akha’ Muhajirin dan Anshar, punya sifat itsar (welas asih), berani berjuang dan berkorban jiwa-raga, harta dan jiwa, sehingga radhiyallahu ‘anhum waradhu ‘anh. Cintalah yang membuat ibu-ibu bertahan mengasuh anak, menyusui, hamil dan melahirkan. Cintalah yang membuat bapak-bapak berani menghadapi resiko sebagai Ayah, siang-malam bekerja mencari sesuap nasi tanpa kenal lelah. Cintalah yang membuat kita berani menantang maut dan menjemput kematian, walau kita tahu betapa sakitnya sakarat, betapa ngerinya naza’ dan melihat wajah malaikatul-maut.

Cinta orang mu’min adalah pada keimanan, sedang cinta orang kafir pada kekufuran, pada kejahiliyahan dan kesesatan.[7] Imam Abul ‘Aliyah (tabi’in w.90 H) mengatakan, ujian cinta yang terberat ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan, terutama sekali pada pilihan iman, di mana pada saat itu keaslian dan ketulusan cinta dipertaruhkan. Inilah pengadilan cinta yang sesungguhnya.[8] Cinta orang mu’min itu sifatnya permanen dan perspektus. Permanen karena didasarkan pada mizan at tawazun, neraca keseimbangan; yaitu cinta karena Allah dan benci karena Allah. Perspektus karena didasarkan pada wala tamnun tastaktsir (74:6), memberi tidak berharap balasan banyak. Kata Mujahid (21-104 H), syeikh mufassirin murid Ibnu ‘Abbas, hal ini adalah kemuliaan Rasulullah, sahabat dan ummatnya. Balasannya nanti adalah disisi Allah Jalla Jalaluh yang justru lebih banyak dan melimpah, dan di sinilah rahasia ketulusan cinta sejati.

e. JALAN-JALAN UNTUK MENDAPATKAN MAHABBAH. Imam Ibnu Taimiyah (w.728 H) memerinci jalan-jalan untuk mendapatkan cinta;

1. Berkaitan dengan sumber pengambilannya, yaitu qiraah, tilawah dan tadabbur Qur’an.

2. Berkaitan dengan hak dan kewajiban: beribadah secara sempurna, baik niat, cara maupun tujuannya, pada perkara yang wajib maupun sunnah-sunnahnya.

3. Berkaitan dengan pemeliharaannya: berdzikir dalam semua keadaan, baik dengan hati, lisan, perbuatan atau prilaku (rabbaniyyatun nafs, islamiyyatun nafsi). Membiasakan hati untuk tunduk pada keinginan dan kekuasaan Allah (tauhidul iradah).

4. Berkaitan dengan pilihan/keberanian bersikap: mendahulukan kepentingan Allah daripada kepentingan siapapun, khususnya jika dihadapkan pada pilihan sulit.

5. Berkaitan dengan penerimaan nikmat: syukur nikmat dengan tahmid, tsana’ dan tahadduts bin-ni’mat.

6. Berkaitan dengan cara bersikap di hadapanNya: takhalluq bi akhlaqillah, atau tasybih (mencontoh) dalam sifat JamaliyahNya (keindahan sifat) dan ta’thil (menjauh) dalam sifat JalaliyahNya (keagungan sifat).

7. Berkaitan dengan komunikasi: senantiasa melakukan kontak dalam do’a dan wirid atau amalul yaum wallaylah dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Berteman dengan orang shalih, berkumpul di majlis ilmu dan seterusnya.

f. KONSEKWENSI CINTA yang benar antara lain; taat dalam hal yang disukai dan diridhainya sebaliknya menhindari hal yang dimurkainya. Taqwa, namanya. Mencintai orang yang dicintainya, seperti cinta Rasul, Birrul Walidain, Takrimus Shalihin, dan lain-lain.

g. WUJUD CINTA salah satunya; dia akan merasakan manis dan nikmatnya iman, bahagia dalam ujian iman. Sabar ketika miskin, syukur ketika kaya, qana’ah ketika pas-pasan. Khusyu’ dalam ibadah. Serius dalam amal. Punya pilihan dan sikap yang jelas, terutama dalam hal cinta dan benci. Lebih mendahulukan kebutuhan sesama meskipun diri sendiri butuh (itsar).

h. MUARA CINTA. Hubb adalah sifat ahli syurga, selain sifat umum manusia. Al Qur’an menghubungkan hubb dengan banyak hal, antara lain: an-nasr dan al fath, pertolongan dan kemenangan (61:13). Menjelang hari kemenangan ini ada baiknya kita menata ulang konstruksi cinta, takut dan harap, supaya kita menjadi hamba, ummat, ayah, anak dan kawan yang sebenar-benarnya.


[1] Shahih Bukhari, Kitab awal penciptaan, bab penyebutan malaikat, no. hadits 3037; dan kitabul Adab no.: 5693; Shahih Muslim no.: 2637. Imam Ibnu Katsir meletakkan hadits ini sebagai tafsirul bayan, penjelasan teknis surah Maryam: 96, dengan jalur sanad dari Ibnu Abi Hatim dari bapaknya bersumber dari Abu Dawud Al Hafari dari ‘Abdul ‘Aziz dari Ad Darawardi dari Suheil bin ‘Abi Shalih dari bapaknya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anh.

[2] Simak surah Az Zariyat:50, Maka segeralah kembali kepada (menta`ati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Berikut kutipan Tafsir Imam At Tusturi terhadap ayat ini:

قوله تعالى : { ففروا إِلَى الله إِنِّي لَكُمْ مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ } [الذاريات:50 ] قال : يعني ففروا مما سوى الله إلى الله ، وفروا من المعصية إلى الطاعة ، ومن الجهل إلى العلم ، ومن عذابه إلى رحمته ، ومن سخطه إلى رضوانه . وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم : « أعوذ بك منك » ، فهذا أيضاً باب منه عظيم .

[3] Tanda tha’mul iman atau halâwatul iman dalam hadits Anas bin Malik antara lain ialah: mencintai seseorang hanya karena Allah, sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas yang lain, lebih senang masuk neraka daripada kembali pada kekufuran. (Shahih Muslim, no.:43)

مَنْ كَانَ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَمَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَمَنْ كَانَ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَرْجِعَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ

Ma’ali As Syeikh Shalih bin Abdul ‘Aziz bin Muhammad ‘Alu Syeikh dalam Ushulul Iman Fi Dhau’il Kitab was Sunnah mengkaitkan hubungan erat antara ma’rifah dengan hub, khauf dan raja’:

أن معرفة الله تعالى بأسمائه وصفاته توجب محبة الله في القلوب إذ أن أسماء الله وصفاته كاملة من كل وجه والنفوس قد جبلت على حب الكمال والفضل فإذا تحققت محبة الله في القلوب انقادت الجوارح بالأعمال وتحققت الحكمة التي خلق العبد من أجلها وهي عبادة الله ﴿أصول الإيمان في ضوء الكتاب والسنة – (ج1 /ص122)﴾

Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitab Al Fawaid (hal 29), mengatakan: “Allah mengajak hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di dalam Al Qur’an dengan dua cara; pertama, melihat segala perbuatan Allah, kedua, melihat dan merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah seperti dalam Ali Imran: 190. Mengenal Allah ada empat cara yaitu mengenal wujud, Rububiyah, Uluhiyah, dan mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah. Keempat cara ini secara global dan terurai disebutkan di dalam Al Qur’an, diakui oleh fitrah, akal, panca indera manusia, dan ditetapkan pula oleh syari’at.. (Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 14),

[4] Di antara makna istiqamah adalah; a. berlaku lurus dalam janji الإقامة على الوفاء (9:7), b. Tenang dan tidak tergesa-gesa memperoleh hasil, Yunus:89 (ترك الإستعجال فى حصول المقصود), c. Istiqamah adalah terus-menerus menempuh jalan kebenaran (Hud:112)والاستقامة الاستمرار في جهة واحدة من غير أخذ في جهة اليمين والشمال, d. Setia berada dalam ketaatan, As Syura:15 (المداومة على الطاعة). Sementara Tsabat berkaitan erat dengan; kesabaran meniti jalan hidayah (17:71), bersabar menunggu an-Nushrah (pertolongan) dari Allah, yaitu berupa ta’yid terhadap jiwa orang mukmin dan ar-ru’b terhadap musuh. (2:250), serta teguh pendirian dengan semangat jihad yang senantiasa menggelora dalam perjuangan (3:147). Sedang Qanit berkaitan dengan ketekunan dan keterampilan menjalani pekerjaan, baik perintah maupun larangan Allah s.w.t. Imam An Nahhas mengatakan, makna qanit dlam Al Qur’an umumnya menunjuk pada at tha’ah wal inqiyad, taat dan terikat. (Imam Ibnu Atsir, an Nihayah Fi Gharibil Atsar)

[5] Dr. Sayyid Muhammad Nuh dalam “Âfât ‘ala’t-Tharîq” memasukkan futur sebagai Âfât Fikriyah wal Qalbiyah, penyakit pikiran dan hati yang banyak menimpa aktivitis da’wah hari ini, dan tentu saja juga jama’ahnya. Penyebabnya multi faktor; ada yang karena “kerajinan” (tasyaddud), berlebihan (ghuluw), over/mempersulit diri (tanatthu’). Ada yang karena tabdzir dalam perkara yang mubah atau sepele, dan melupakan agenda yang lebih utama. Ada juga yang karena sibuk dengan dunianya sendiri, dan tak mau tahu dengan dunia sekitar.Ada lagi yang karena tipis iman, tipis ilmu dan amal, khususnya iman bi yaumil akhir.(Dari Maktabah Iluktruniyah versi Maktabah Syamilah).

[6] Konsep diri bisa diartikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya dan lingkungan sekitarnya. Konsep diri adalah operating system (mudkhala-mukhraja shidqin), kaca-mata pandang, proses internalisasi dan eksternalisasi, pola-pandang husnudzan versus su’udzan. Kapan seseorang bersikap persuasive, kapan refresif ditentukan oleh konsep ini. Konsep diri; awalnya adalah fithrah, prosesnya adalah kepandaian mengambil ‘ibrah, sedang muaranya pada hikmah. Konsep diri memainkan peran yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang, hasanah fiddun’ya-hasanah fil’akhirah.

[7] Perhatikan surah 9:23; 16:107; 41:17. Imam Qurthubi menyebut ayat ini dengan “qath’ul wilayat”, pemutus area antara cintanya orang mu’min dan cintanya orang kafir.

[8] Mahasuci Allah karena menurunkan syari’at shalat istikharah ketika hamba-Nya dihadapkan pada pil pahit, selain istafti qalbaka (minta nasehat hati) dan tawashaw bil haq watashaw bishabr atau jalur syura.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s