Kuatnya Keinginan Takkan Mampu Melawan Takdir

Judul diatas merupakan sebagian dari ungkapan Imam Athaillah As-Sakandari dalam kitab Hikam nya. Bunyi aslinya begini ” Sawaabiqul himaam laa tahruku aswaaral aqdar”.  Ungkapan itu menjadi bagian dari ajaran tasawuf yang berkembang di kalangan dunia pesantren, terutama menyangkut bagaimana menyikapi meledaknya keinginan kita serta menyimpan bacaan kita terhadap urusan keyakinan akan taqdir Tuhan.

Iman kepada Qada dan Qadar (takdir) khairihi wa syarrihi, baik buruknya, menjadi salah satu rukun keimanan yang wajib di imani oleh seorang yang mengaku beragama Islam. Tapi bagaimana seharusnya kita membaca ungkapan itu dalam konteks ikhtiar kita menggapai cita-cita dalam kehidupan kita di dunia.

Setiap manusia pasti memiliki keinginan, punya cita-cita yang melekat dalam hati dan benak pikirannya. Menghendaki apa dan menginginkan bagaimana hidupnya. Apakah dia ingin sukses dalam pekerjaan, dalam usaha, ataupun dalam kiprah politik, menjadi pejabat, politisi atau apapun lah namanya.

Tapi dalam usahanya mewujudkan keinginan dan cita-cita itu, kita wajib melakukan dua hal. Pertama niat dalam hati apapun yang kita kejar itu adalah semata-mata karena berharap ridlo Tuhan, dijalankan dan diusahakan dengan cara-cara yang juga di ridloi olehNYA, tanpa melalui usaha yang mendzalimi orang lain, kotor, culas, dan jalan yang munkar. Kita wajib memaksimalkan ikhtiar dengan disertai kekuatan do’a. Maka dengan itu maka kita akan mampu menembus Taqdir Tuhan itu sebagaimana bayangan mimpi dan keinginan kita.

Kedua, Jika saja Niat dan ikhtiar kita tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, dalam arti kita menemui kegagalan dalam mewujudkan keinginan kita tersebut, maka kita wajib mengembalikannya kepada Tuhan. bahwa Tuhan memiliki taqdir yang lain, yang boleh jadi menurut pandangan kita baik, tapi menurut Tuhan justru mengandung keburukan. Sebaliknya boleh jadi menurut kita buruk, justru menurut Tuhan mengandung kebaikan. Hal itu semata-mata karena betapa sedikitnya ilmu yang diberikan oleh Tuhan kepada kita “wamaa uutiitum minal ilmi illa qaliilaa”.

Itulah mengapa, seseorang yang meyakini dengan sepenuh hati pada kekuatan Taqdir Tuhan, akan selalu menyediakan stock sikap syukur, sabar, ikhlas dan tawakkal dalam menjalani hidupnya. Dia tidak akan pernah putus asa jika kegagalan menghampirinya, jika keinginannya belum terkabulkan. Dia akan senantiasa berprasangka baik kepada Tuhan dan kepada jalan kehidupan dirinya.

Disinilah letak memahami apa yang dipesankan oleh pernyataan hikam sebagaimana judul tulisan diatas. Sehingga kita tidak akan hidup dalam kesombongan, sok pintar, sok kuasa, sok berlimpah harta atau hal-hal lain yang mencerminkan karakter orang yang berlebihan. Karena Tuhan sangatlah benci manusia yang sombong, yang berhak sombong hanyalah Allah SWT. “Al-Mutakabbir huwwallaah”.  Pada akhirnya orang yang sombong akan terjerembab dalam jurang kehinaan dan kenistaan. Naudzubillah.

 

Sumber: Filsafat/Kompasiana.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s